
Gempa Dahsyat 7,7 Magnitudo Guncang Myanmar Ribuan Korban, Konflik Saudara Perparah Keadaan
Info Terkini | 2025-03-30 16:07:50Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Myanmar pada Jumat, 28 Maret 2025, menimbulkan dampak yang sangat besar, baik dalam jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan. Hingga kini, tercatat sedikitnya 1.644 orang meninggal dunia, sementara lebih dari 3.400 lainnya mengalami luka-luka akibat bencana ini.

Gempa tersebut dipicu oleh aktivitas tektonik pada Sesar Sagaing, yang merupakan perbatasan antara lempeng India dan Eurasia. Jenis gempa ini dikategorikan sebagai "strike-slip", di mana dua blok kerak bumi bergerak secara horizontal satu sama lain. Pelepasan energi yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun mengakibatkan gempa berkekuatan besar. Kedalaman gempa yang relatif dangkal, sekitar 10 km, semakin memperburuk dampaknya karena energi yang dilepaskan berada dekat dengan permukaan bumi. Selain itu, banyak bangunan di Myanmar tidak dibangun dengan standar tahan gempa, sehingga memperbesar risiko kehancuran dan korban jiwa. Faktor lain yang memperparah situasi adalah karakteristik wilayah yang didominasi oleh sedimen jenuh air, yang meningkatkan potensi likuifaksi dan longsor.
Selain bencana alam, Myanmar juga menghadapi tantangan besar akibat konflik internal yang telah berlangsung lama. Wilayah yang terdampak gempa sebagian besar masih dilanda perang saudara, yang semakin intensif sejak militer mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi pada 2021. Ketidakstabilan ini menyebabkan banyak wilayah lepas dari kendali pemerintah, sehingga menyulitkan akses bantuan kemanusiaan. PBB melaporkan bahwa lebih dari 3 juta orang telah mengungsi akibat konflik, sementara hampir 20 juta lainnya sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Dilansir dari AP News pada Minggu (30/3/2025), dinamika antara krisis politik dan bencana alam semakin terlihat ketika Pemerintah Persatuan Nasional pemerintah bayangan Myanmar mengumumkan gencatan senjata sepihak untuk mendukung upaya penanganan pasca-gempa. Dalam pernyataannya, mereka menyatakan bahwa sayap militernya, Pasukan Pertahanan Rakyat, akan menunda operasi ofensif selama dua minggu di wilayah terdampak gempa. Selain itu, mereka juga menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan PBB dan organisasi kemanusiaan internasional dalam memastikan keamanan, kelancaran distribusi bantuan, serta pendirian kamp darurat dan fasilitas medis di wilayah yang berada di bawah kendali mereka. Namun, kelompok perlawanan tetap menegaskan hak mereka untuk melakukan tindakan defensif jika diserang.
Gempa ini juga mengakibatkan kehancuran luas pada infrastruktur penting, termasuk jembatan, jalan raya, rumah sakit, bandara, serta jaringan komunikasi. Bangunan-bangunan runtuh, jalan-jalan mengalami retakan besar, dan jembatan roboh di berbagai lokasi. Tim penyelamat masih terus berusaha mencari korban dan mengevakuasi warga yang terdampak. Namun, kondisi yang tidak stabil serta gangguan pada layanan darurat menjadi hambatan besar dalam proses penyelamatan dan distribusi bantuan.
Muhammad Husen, Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Tanjungpura, Pontianak
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook