Sungai Bedadung, Sumber Kehidupan Warga Jember di Masa Kolonial yang Kini Mulai Terpinggirkan
Historia | 2024-10-27 15:47:19
Memilih menetap dan tinggal di Kabupaten Jember tentu akan tidak asing dengan nama Sungai Bedadung, dimana saat musim hujan menjadi muasal banjir jika sungai tidak mampu menampung debit air. Namun jadi penyelamat di kala musim kemarau karena alirannya tidak pernah mengering sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakatnya.
Bagi saya pribadi, Sungai Bedadung menjadi salah satu kekayaan alam yang menyimpan sejarah panjang di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Mengalir dari hulu Pegunungan Iyang dan Raung, sungai ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat setempat sejak zaman kolonial hingga sekarang. Apalagi pada masa kolonial karakteristik masyarakat memiliki kecenderungan untuk tinggal di dekat sungai, yang menjadi satu-satunya sumber kehidupan yang ada.
Bukti jika pada masa lalu Sungai Bedadung telah menjadi sumber kehidupan bagi warga Kabupaten Jember ialah banyaknya catatan Kolonial yang menyebut tentang sungai ini. Masyarakat pada zaman itu sangat bergantung pada aliran sungai untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sumber air bersih hingga sarana irigasi untuk pertanian. Tidak heran Sungai Bedadung tidak hanya menjadi penopang kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi jalur transportasi yang penting kala itu.
Politik Etis saat Masa Kolonial di Sungai Bedadung
Pada era kolonial, pemerintah Hindia-Belanda menerapkan kebijakan yang dikenal sebagai politik etis. Kebijakan itu tidak hanya menekankan pada tanggung jawab sosial pemerintah, tetapi juga menciptakan strategi untuk memanfaatkan sumber daya alam, termasuk Sungai Bedadung. Sungai itu digunakan secara maksimal untuk berbagai tujuan, termasuk edukasi, imigrasi, dan irigasi.
Melalui pemanfaatan Sungai Bedadung, pemerintah kolonial berusaha meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal sekaligus mengatur aliran penduduk dan sumber dayanya. Sistem irigasi yang dibangun pun di sepanjang aliran sungai itu meningkatkan produktivitas pertanian dan membantu menciptakan stabilitas ekonomi di Wilayah Jember yang pada masa itu menjadi penopang Lumajang dan Situbondo untuk supplier tanaman tebunya.
Sumber Kehidupan yang Berubah jadi Jamban
Jika pada masa lampau Sungai Bedadung sempat menjadi sumber kehidupan, bahkan aspek itu sempat mempengaruhi budaya masyarakat Jember. Berbagai foto peninggalan kolonial yang bisa dilihat di Museum Belanda menyajikan bagaimana kala itu kegiatan warga yang berlangsung di tepi sungai menambah nilai kultural yang melekat pada aliran Sungai Bedadung sehingga tidak terlepas dari upaya pencegahannya dari pencemaran lingkungan.
Bahkan tampak di masa itu, sungai Bedadung tidak hanya sekedar aliran air yang membelah Jember, tetapi juga simbol kehidupan dan sejarah yang kaya. Namun alangkah terkejutnya jika melihat kondisi Sungai Bedadung di masa ini di mana debit airnya yang mulai menyusut di tambah lebar alirannya semakin terhimpit pemukiman warga menjadi hal lain. Itu diperparah lagi jika sungai ini tidak luput menjadi jamban panjang dan lokasi pembuangan sampah warga sekitar.
Perlu Kesadaran untuk Pelestarian Sungai
Jika belajar dari masa kolonial dimana sungai menjadi sumber kehidupan dan penghubung masyarakat karena menjadi jalur transportasi. Tentu saja dengan pemahaman itu tanpa mendalami tentang sejarah yang signifikansi Sungai Bedadung, masyarakat awam tetap dapat mengupayakan untuk memiliki kesadaran melestarikan warisan alam sungai itu untuk generasi mendatang.
Mengingat jika tidak segera diupayakan untuk perbaikan pola kehidupan masyarakat di sekitar bantaran Sungai Bedadung tentu akan mustahil peran penting sungai itu seperti di masa kolonial akan didapatan oleh warganya di masa sekarang. Sebut saja masalah banjir yang terjadi kala musim penghujan juga tidak terlepas dari kebiasaan membuang sampah apa saja ke aliran sungai ini.
Sehingga melihat kondisi Jember yang sering terdampak Banjir saat musim penghujan utamanya di sepanjang aliran sungai Bedadung, membuat saya bertanya-tanya apakah memang ini yang diharapkan warga Jember saat ini dengan kondisi lingkungan jauh dari asri. Tanpa ada upaya untuk memperbaiki dan mengupayakan kembali sungai sebagai sumber penghidupan bukan untuk membuang sampah sembarangan. Kini semuanya tinggal dikembalikan ke warganya, apakah akan menjadi penikmat banjir atau berdamai dengan merawat alam agar kembali lestari lagi.* * *
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
