Kyai Sihabudin Tahmid Penganjur Fidyah

Image
musyafa ahmad
Agama | Friday, 21 Jan 2022, 08:51 WIB

Oleh : Akhmad Sururi

Sekretaris MWC NU Wanasari.

Sholat adalah ibadah pokok bagi setiap manusia yang pertama kali besok akan dihisab pada hari kiamat. Karena itu sholat tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun. Sampai dalam fisik tidak bisa apa apa ( hanya bisa bernafas ), maka ia wajib sholat dengan hati.

Namun demikian mengingat keterbatasan pendidikan agama untuk anak anak yang baru pertama baligh, akhirnya antara usia baligh ( dewasa secara Fiqih ) sampai usia menjelang nikah tidak memperhatikan sholat. Bahkan saat sudah berkeluarga juga tidak jarang orang yang meninggalkan sholat dengan berbagai alasan. KH Sihabudin dalam berbagai kesempatan ceramah dihadapan masyarakat menyampaikan pentingnya fidyah sholat dan puasa bagi orang yang meninggal. Beberapa dalil kitab Fiqih Beliau sampaikan dalam forum tersebut.

Sebelum pelaksanaan 40 hari dari kematian mayit keluarga ahli waris mempersiapkan beras untuk fidyah dengan ukuran tertentu sesuai dengan kemampuan. Salah satu ahli waris sowan kepada Beliau untuk membagikan fidyah. Dalam proses penyerahan fidyah sebelumnya dihitung kira kira berapa tahun sholat yang ditinggalkan dan berapa bulan puasa yang ditinggalkan. Setelah ketemu hitungan tersebut selanjutnya beras yang ada kira kira cukup berapa tahun untuk diberikan kepada beberapa penerima ( Mustahik ). Setelah selesai serah terima selanjutnya berdoa bersama dikirimkan kepada Al marhum yang difidyahi.

Ketentuan fidyah ini didasarkan pada keterangan Imam Al Buwaiti yang menukil dari Imam Syafi'i. Dalam Kitab Majmu , Imam Buwaiti berkata, tidak jauh untuk memberlakukan hal ini ( meninggalkan itikaf dan puasa yang diganti dg fidyah ) dalam hal sholat, maka pihak ahli waris memberi makanan ( fidyah ) satu mud untuk setiap sholat ( Majmu ala Syarah Muhadzab juz 6 hal 372 ) .

Disamping ibarat tersebut, sebagaimana tersebut dalam kitab Fathul Muin. Menurut pendapat lain, yang diikuti oleh banyak ulama madzhab Syafi'i, bahwa ahli waris memberi makanan satu mud pada setiap sholat ( yang ditinggalkan ). Dalam kitab Fiqih dijelaskan, madzhab Ahlussunah wal jamaah berpandangan seseorang bisa menjadikan pahala amal dan sholatnya untuk orang lain dan pahala tersebut sampai padanya. ( Fathul Mu'in juz 2 hal 276 )

Dengan pijakan ibarat tersebut, KH Sihabudin sering secara langsung memimpin pembagian fidyah dengan melibatkan ustadz setempat ( lingkungan orang yang meninggal ) .

Tradisi tersebut berjalan sampai sekarang yang dipraktekkan oleh Kyai atau Ustad setempat dengan kalimat yang sama.Salah satunya yang dipraktekkan oleh Kyai Hasan Bisri Jagalempeni. Sebelum beliau menerima fidyah dari ahli waris, terlebih dahulu memberikan muqodimah pengantar. Dalam pengantar tersebut, pasti disampaikan bahwa lafal dalam aqad fidyah diterima dari KH Sihabudin Tahmid secara mutasil.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Joko Pitono henanggih Negari pundito engkang ka Eka aji Doso Purwo

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

5 Destinasi Wajib Dikunjungi Saat Pariwisata Pulih

Image

Bapas Kelas II Musi Rawas Utara Gelar Pelatihan FMD

Image

YTMP3: Download YouTube Jadi MP3 Converter Terbaik 2022

Image

Jadwal Balapan MotoGP Italia 2022 Pekan Nanti, Ada Free Practice, Kualifikasi, Hingga Race

Image

GB Whatsapp Pro Apk Terkini Tempelkan Link Download (GB WA) Di HP Android

Image

Download YouTube MP4 to MP3 Paling Populer di Y2Mate

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image