Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image

Islam Melawan Hoax: Review Buku Al-Isyat Al-Kadzibah

Agama | Wednesday, 10 Jul 2024, 20:21 WIB

Mohammad Fuad Al Amin(Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan)

Perkembangan teknologi dan informasi di Indonesia sangat cepat kita rasakan saat ini. Munculnya aplikasi-aplikasi baru yang memudahkan sesama manusia untuk berinteraksi dan berkomunikasi, menyebabkan informasi sangat mudah tersampaikan kepada banyak orang. Di satu sisi, hal tersebut merupakan keuntungan karena memudahkan akses informasi, tetapi ternyata terdapat dampak negatif berupa tersebarnya informasi tanpa filter dan verifikasi kebenarannya.

Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa literasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan laporan UNESCO, indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% atau dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Selain itu, masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai netizen yang paling berisik dan paling hobi berkomentar di setiap media sosial. Namun, seringnya netizen Indonesia berkomentar tidak berbanding lurus dengan kemampuan literasi informasi mereka. Bahkan, hanya untuk sekadar membedakan antara Sandra Dewi dengan Dewi Sandra, banyak netizen yang salah sasaran dalam memberikan hujatan.

Sumber gambar : https://www.liputan6.com/hot/read/5128020/5-cara-mencegah-penyebaran-hoax-yang-harus-diketahui-warganet
Sumber gambar : https://www.liputan6.com/hot/read/5128020/5-cara-mencegah-penyebaran-hoax-yang-harus-diketahui-warganet

Sayyid Thanthawi, Grand Syeikh al-Azhar, sangat konsen terhadap permasalahan moderasi umat Islam. Salah satu hal yang menghambat terwujudnya moderasi adalah kebodohan (ignorant). Banyak orang, karena ketidaktahuannya, mudah menerima informasi dan menyebarluaskannya tanpa validasi. Hal ini sering kali menyebabkan konflik di antara sesama akibat pemberitaan hoax.

Dalam buku Al-Isya’at al-Kadzibah wa Kaifa Harabaha al-Islam (Kabar Hoax dan Bagaimana Islam Memeranginya), Sayyid Thanthawi menjelaskan enam hal yang harus dilakukan dalam upaya memerangi kabar hoax. Pertama, memvalidasi setiap informasi yang diperoleh. Al-Quran dalam Surah al-Hujurat: 6, memberikan redaksi tabayyun, yaitu memvalidasi ulang informasi yang diterima. Khalifah Umar bin Abdul Aziz berpesan untuk tidak mengadili sebuah perkara sampai kedua orang yang bersengketa sama-sama menyampaikan fakta dari perspektif masing-masing. Jika hanya satu orang yang menyampaikan fakta, bisa jadi itu tidak menunjukkan fakta yang sebenarnya.

Kedua, mengklarifikasi kepada sumber asli. Kebanyakan informasi hoax tersebar karena tidak adanya klarifikasi kepada sumber asli. Fakta yang dilihat bisa saja tidak sesuai dengan perspektif yang digambarkan orang. Seperti kisah Sayyidah Aisyah yang diantarkan oleh seorang pria ketika tertinggal dari rombongan. Beberapa orang menyebarkan kabar hoax sesuai asumsi pribadi mereka. Kabar hoax ini sangat mengguncang kota Madinah saat itu, sehingga Allah mengklarifikasi kebohongan tersebut dalam Surah an-Nur.

Ketiga, menghentikan penyebaran kabar hoax. Kabar hoax ibarat sebuah rantai yang saling terhubung. Ia akan terus berputar selama ada yang mengabarkannya. Penyebarannya dapat terhenti jika setiap orang dengan sadar tidak ikut memviralkan. Dengan demikian, kabar hoax tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Keempat, melawan dengan menyampaikan fakta yang sebaliknya. Kadang kabar hoax dengan mudah tersebar karena tidak ada informasi tandingan yang membantah kabar tersebut. Ketika sebuah kabar diinformasikan secara masif, seolah-olah itu merupakan sebuah kebenaran tunggal. Dengan munculnya fakta lain, orang tidak akan terburu-buru membuat kesimpulan. Sebaliknya, dengan nalar kritis, seseorang akan menimbang dan mengklarifikasi setiap fakta yang bertolak belakang.

Kelima, memperkuat keimanan dalam diri. Kebanyakan kabar hoax merupakan sebuah madharat (keburukan) atas perilaku orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyaring sebelum mensharing setiap informasi. Apakah kabar yang diperoleh merupakan sebuah fakta atau kebohongan? Jika itu merupakan fakta, apakah akan memberikan manfaat atau justru membawa madharat? Sebagaimana hadis Nabi, cukuplah seseorang dianggap sebagai pembohong jika dia selalu menyebarkan setiap informasi yang didengar.

Keenam, ber-husnu dzan kepada setiap manusia. Berprasangka baik merupakan langkah terakhir dalam memerangi hoax. Manusia hanya mampu menghukumi yang bersifat dhahir (nampak), sedangkan Tuhan menghukumi yang bersifat sara’ir (tersembunyi). Hoax terjadi karena persepsi pribadi atas fakta yang dilihat. Padahal ada beberapa fakta lain yang mungkin tidak terlihat. Maka dengan berprasangka baik, penyebaran hoax dapat diminimalisir.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image