Pembangunan Ekonomi Sebagai Prioritas Pembangunan Nasional

Image
Fina Ananda
Eduaksi | Sunday, 16 Jan 2022, 10:17 WIB

Ketika berbagai negara baru memperoleh kembali kemerdekaannya, apakah melalui perang kemerdekaan atau melalui jalan damai di meja perundingan, kemerdekaan tersebut bukan saja menyangkut bidang politik, akan tetapi juga dalam bidang-bidang kehidupan dan penghidupan yang lain. Salah satu implikasi dari persepsi demikian ialah bahwa suatu negara bangsa bebas untuk menentukan dan memilih sendiri cara-cara yang ingin ditempuhnya dalam upaya mencapai tujuan negara bangsa yang bersangkutan.

Siapapun akan mengakui bahwa pembangunan merupakan kegiatan yang rumit karena sifatnya yang multifaset dan multidimensional. Karakteristik demikian merupakan tuntutan kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah sebabnya bidang-bidang yang menjadi “objek” pembangunan termasuk bidang politik, ekonomi, pertahanan dan keamanan, sosial budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan administrasi pemerintahan negara.

Akan tetapi karena berbagai faktor keterbatasan yang dihadapi oleh suatu negara bangsa, seperti keterbatasan dana, keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan pembangunan, keterbatasan daya, keterbatasan waktu. Pada umumnya, suatu negara dihadapkan kepada keharusan untuk menentukan skala prioritas pembangunannya. Kemampuan yang dimiliki tidak memungkinkan penyelenggaraan pembangunan dilakukan secara simultan dengan intensitas yang sama.

Tuntutan dalam penentuan prioritas pembangunan bagi negara-negara yang sedang membangun pada umumnya menunjuk pada pembangunan di bidang ekonomi. Tuntutan demikian mudah dipahami dan diterima karena memang kenyataan menunjukkan bahwa keterbelakangan negara-negara tersebut paling terlihat dalam ekonomi. Seperti dimaklumi, berbagai ciri negara terbelakang atau sedang berkembang dalam bidang ekonomi, antara lain ialah:

1. Banyaknya rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan absolut. Dewasa ini semakin banyak negara yang menggunakan kriteria Bank Dunia sebagai patokan, yaitu apabila seseorang berpenghasilan sampai dengan tiga ratus dolar Amerika Serikat setiap tahunnya, yang bersangkutan dikategorikan sebagai orang yang hidup di bawah garis kemiskinan.

2. Di lain pihak, terdapat sejumlah kecil warga negara dengan standar internasional sekalipun tergolong sebagai orang yang kaya raya. Kesenjangan antara orang-orang berada seperti itu dengan warga masyarakat yang tergolong miskin sangat besar. Kesenjangan tersebut mengandung “bibit” kecemburuan sosial yang tidak mustahil menjurus kepada keresahan bahkan terganggunya ketertiban dan keamanan umum.

3. Produk Domestik Kotor (Gross Domestic Product) yang rendah antara lain disebabkan oleh produktivitas nasional yang rendah sebagai salah satu konsekuensi dari sumber daya manusia yang tidak terampil.

4. Tingkat pendidikan rakyat yang belum tinggi dan bahkan banyak di antara penduduk yang masih buta aksara. Suatu negara disebut negara maju apabila pendidikan rata-rata para warganya sudah mencapai lulusan sekolah menengah atas. Meskipun pendidikan merupakan bidang di luar ekonomi, hal ini perlu diperhatikan karena berkaitan langsung dengan tersedia tidaknya tenaga kerja yang terampil.

5. Perekonomian yang masih bersifat tradisional dalam arti berkisar pada kegiatan pertanian. Tingkat produktivitas pertanian pun pada umumnya rendah.

6. Kegiatan perekonomian lainnya, seperti perikanan, peternakan, holtikultura, sering hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sendiri dan tidak ditujukan pada pemenuhan kebutuhan pasar.

7. Komoditi yang dihasilkan untuk dijual ke pasaran, termasuk untuk diekspor, bentuknya masih berupa bahan mentah dan bukan berupa produk jadi. Salah satu faktor penyebabnya ialah tidak dikuasainya teknik-teknik pengolahan mutakhir yang dapat meningkatkan nilai tambah produk tersebut.

8. Infrastruktur yang mutlak diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi seperti jalan, sarana transportasi, dan sarana komunikasi tidak memadai. Kondisi sarana dan prasarana yang ada pun sering pada kondisi tidak atau kurang terpelihara.

9. Pertumbuhan penduduk yang tinggi dan sering tidak terkendali seperti dikatakan oleh seorang pakar ekonomi bahwa “di negara-negara terbelakang yang kaya makin kaya dan yang miskin dapat anak”, juga karena prevalennya pandangan bahwa kekayaan seseorang diukur dari jumlah anaknya.

10. Tingkat kewirausahaan yang rendah.

Strategi Pembangunan Ekonomi

Kiranya mudah untuk dapat menerima pendapat bahwa tidak ada satu pun strategi pembangunan ekonomi yang cocok digunakan oleh semua negara berkembang yang ingin meningkatkan kesejahteraan materiil para warganya. Dikatakan demikian karena strategi yang mungkin dan tepat ditempuh dipengaruhi oleh banyak faktor seperti: (a) persepsi para pengambil keputusan tentang prioritas pembangunan yang berkaitan dengan sifat keterbelakangan yang dihadapi oleh masyarakat, (b) luasnya wilayah kekuasaan negara, (c) jumlah penduduk, (d) tingkat pendidikan masyarakat, (e) topografi wilayah kekuasaan negara, apakah negara kepulauan atau daratan (landlocked country), (f) jenis dan jumlah kekayaan alam yang dimiliki, dam (g) sistem politik yang berlaku di negara yang bersangkutan.

Ada dua bentuk strategi pembangunan yang biasa ditempuh oleh negara-negara yang sedang berkembang, yaitu modernisasi pertanian dan industrialisasi.

1. Modernisasi Pertanian

Pentingnya modernisasi pertanian harus dipandang paling sedikit dari dua sisi. Sisi yang pertama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dalam negeri sendiri, terutama bahan pangan. Yang ingin dihilangkan ialah ketergantungan suatu negara kepada negara-negara lain untuk memenuhi berbagai jenis kebutuhannya. Sisi kedua menyangkut pertumbuhan dan pengembangan agrobisnis yang menghasilkan berbagai komoditi untuk ekspor.

Para pakar pertanian sering mengemukakan paling sedikit tujuh hal yang harus menjadi perhatian dalam upaya modernisasi pertanian, yaitu sebagai berikut:

Pertama: Memperkenalkan cara bertani yang modern seperti penggunaan mesin-mesin yang sesuai dengan topografi wilayah pertanian tertentu. Hal ini sering dikenal dengan istilah mekanisasi pertanian.

Kedua: Menggunakan bibit unggul yang telah dikembangkan melalui penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti pertanian dan telah terbukti membuahkan hasil yang jauh lebih memuaskan dibandingkan dengan bibit yang selama ini dikenal oleh para petani.

Ketiga: Penggunaan insektisida dan pestisida untuk memberantas hama yang sering merusak tanaman yang pada gilirannya menurunkan produksi hasil pertanian.

Keempat: Penggunaan sistem irigasi yang lebih baik agar tanaman memperoleh air yang diperlukannya untuk tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang diharapkan.

Kelima: Penggunaan pupuk yang lebih intensif. Berbagai jenis pupuk, termasuk pupuk kimiawi dan pupuk alam, diperlukan baik untuk kepentingan mempertahankan kesuburan tanah maupun untuk meningkatkannya.

Keenam: Intensifikasi pertanian. Pada dasarnya intensifikasi berarti pertanian yang meningkatkan produktivitas tanah per hektar, misalnya dengan tetap menanam satu jeis tanaman andalan tertentu, apakah itu tanaman pangan untuk konsumsi dalam negeri atau tanaman lain untuk diekspor.

Ketujuh: Diversifikasi dan ekstensifikasi pertanian, yaitu upaya yang sistematik untuk menganekaragamkan jenis-jenis tanaman pertanian dan tidak terpaku hanya pada satu tanaman andalan. Sasarannya pun bermacam-macam seperti penyuburan tanah, peningkatan produktivitas, dan peningkatan penghasilan para petani.

2. Industrialisasi sebagai Alternatif

Industrialisasi merupakan alternatif lain yang dapat ditempuh di samping modernisasi pertanian, dan memang ditempuh oleh negara-negara terbelakang dan sedang berkembang. Suatu negara yang ingin mempercepat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi pada umumnya menempuh “jalur” industrialisasi. Orientasi industrialisasi dapat mencakup dua segi, yaitu orientasi produksi berbagai barang dan jasa untuk konsumsi di dalam negeri dan orientasi ekspor.

Betapapun kayanya suatu negara dalam arti sumber daya alamnya yang mungkin melimpah, aspek lain yang harus dikembangkan adalah sumber daya manusia. Ada ungkapan yang menyatakan bahwa “other resources make things possible, but only human resources make things happen”. Pentingnya sumber daya manusia sebagai unsur yang paling strategis dalam pembangunan nasional, termasuk pembangunan ekonomi bukan karena sumber daya dana lainnya kurang penting, akan tetapi karena efektivitas sumber daya dan dana itu ditentukan oleh unsur manusia yang mengelola dan menggunakannya. Itulah sebabnya pendidikan dan pelatihan yang menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan harus dilihat sebagai sine qua non bagi keberhasilan pembangunan.

Theodore Schultz, seorang ahli ekonomi pembangunan terkenal dari Universitas Chicago, pernah mengatakan bahwa tiga faktor utama yang menjadi penyebab mengapa proses pembangunan ekonomi di negara-negara terbelakang tidak berlangsung secepat yang diharapkan ialah:

1. Adanya sikap mental yang menolak perubahan yang melanda sebagian besar warga negara baik di bidang pertanian maupun di bidang-bidang lainnya.

2. Adanya kecenderungan di negara-negara terbelakang untuk “meloncat” dari suatu masyarakat agraris ke masyarakat industri tanpa didukung oleh pengetahuan, keterampilan, infrastruktur, dan sarana yang memang mutlak diperlukan.

3. Kurangnya pengertian di kalangan masyarakat, termasuk dalam lingkungan birokrasi pemerintahan, tentang pentingnya “human investment” dalam proses pembangunan.

Kesimpulan yang dapat ditarik dalam pembahasan industrialisasi sebagai alternatif ialah bahwa sambil melaksanakan kebijakan industrialisasi dalam arti mencakup berbagai sektor industri yang menghasilkan barang dan jasa dengan pemanfaatan teknologi canggih, dua langkah harus pula diambil secara bersamaan. Yang pertama, ialah pengembangan knowledge industries, yaitu lembaga-lembaga pendidikan formal dan nonformal, seperti berbagai balai latihan kerja yang terkait dengan kebutuhan pasaran kerja, yang kedua ialah menyadari pentingnya kegiatan penelitian dan pengembangan. Senang atau tidak, harus diakui bahwa terlalu sering di negara-negara terbelakang dan sedang berkembang penelitian tidak diberikan tempat yang “terhormat” dalam organisasi dan tidak memperoleh dukungan dana yang diperlukan. Padahal industrialisasi menuntut tersalurnya kreativitas dan inovasi para warga masyarakat antara lain melalui kegiatan penelitian atau pengembangan. Hasil-hasil penelitian dan pengembangan akan sangat mendorong percepatan proses industrialisasi karena dapat diterapkan untuk berbagai bidang.

Mengapa Pembangunan Ekonomi Harus Berhasil?

Pernyataan bahwa pembangunan ekonomi menempati skala teratas dalam keseluruhan kebijaksanaan dan penyelenggaraan pembangunan nasional, sebenarnya secara implisit sesungguhnya berarti bahwa pembangunan ekonomi suatu negara bangsa harus berhasil. Berbagai alasan fundamental untuk mengatakan demikian yaitu sebagai berikut:

• Mengentaskan Kemiskinan

Mengentaskan kemiskinan antara lain berarti bahwa tidak ada warga negara yang tidak mampu memuaskan berbagai kebutuhan primernya secara wajar. Pengentasan kemiskinan harus pula berarti peningkatan mutu hidup. Peningkatan mutu hidup menyangkut berbagai segi lain yang bukan berupa segi ekonomis, seperti peningkatan kemampuan untuk menunaikan kewajiban sosial, menyekolahkan anak, pengobatan dalam hal seseorang dan anggota keluarganya diserang penyakit, tersedianya dana untuk rekreasi, serta peningkatan kemampuan menabung.

• Menghilangkan Kesenjangan Sosial

Pembangunan ekonomi harus berhasil untuk menghilangkan atau paling sedikit memperkecil kesenjangan tersebut. Berbagai cara yang dapat ditempuh untuk mengurangi kesenjangan sosial antara lain sebagai berikut:

a) Penciptaan lapangan kerja;

b) Peningkatan mutu hidup kekaryaan;

c) Peningkatan kepedulian sosial;

d) Pasokan bahan secara lokal;

e) Sistem perpajakan yang progresif;

• Tersedianya Dana untuk Pembangunan Bidang-Bidang Lain

Pembangunan ekonomi harus berhasil karena dengan peningkatan kegiatan di bidang ekonomi, semakin banyak sumber dana yang dapat digarap dan dimanfaatkan. Peranan berbagai sumber dana tersebut semakin penting karena suatu negara bangsa bertekad untuk mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri dalam upaya mencapai tujuan nasionalnya.

• Terpeliharanya Ketertiban Umum

Di kalangan aparat keamanan sering terdapat persepsi bahwa berkurangnya, apalagi hilangnya, kesenjangan sosial akan melicinkan jalan untuk terpeliharanya ketertiban umum yang mantap. Semakin banyaknya warga yang mampu mempertahankan tingkat dan mutu hidup yang layak bagi manusia dengan harkat dan martabatnya, semakin berkurang pula alasan untuk menampilkan perilaku yang disfungsional. Tidak ada pilihan lain bagi suatu negara kecuali mengarahkan segala kemampuan yang ada dan menggali potensi yang masih terpendam agar tujuan didirikannya negara yang bersangkutan dapat tercapai.

Daftar Referensi

Siagian, Sondang P. 2020. Administrasi Pembangunan. Jakarta. PT. Bumi Aksara

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Yuk Main Ke Candi Geneng, Situs Pertirtaan Yang Diduga Peninggalan Kerajaan Kadiri

Image

Teks Ulasan (Lengkap): Pengertian, Ciri, Struktur, Contoh

Image

Kembali Bahagia, Komedian Vico Bean Pamerkan Potret Keluarga Kecilnya

Image

Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Kalapas Ajak Untuk Bangkit Bersama

Image

Pangeran Benowo Cucu Raden Fatah dan Makamnya di Jombang Jawa Timur

Image

Wahai Umat Islam Jangan Takut Berorganisasi/Bertandzim

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image