Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Putri Hanifah, CHt., C.NNLP

Mengapa Permasalahan Sampah Tak Kunjung Usai?

Gaya Hidup | Tuesday, 11 Jan 2022, 10:05 WIB

Kian tahun volume sampah di Indonesia kian menggunung, berbagai program zero waste juga sudah menjamur. Rasanya pembahasan sampah tidak pernah usai, sebab pertambahan jumlah penduduk juga semakin banyak di negeri dengan mayoritas kaum muslimin ini. Ya betul saja, Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara penyumbang sampah terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Kilas balik tahun 2021 kemarin, potensi produksi sampah di Kota Malang mencapai 700 ton per hari. 700 ton adalah 700.000 kilogram saudara! Ini baru malang raya, belum kota-kota lainnya. Bisa dibayangkan lima tahun lagi, akan ada berapa ton pertambahan sampah setiap harinya? Padahal dengan produksi 700 ton saja masih kesulitan pengolahannya.

Dari jumlah tersebut, terdapat setidaknya 15-20% sampah plastik/hari. Penggunaan plastik ini akan terus menerus mengalami peningkatan sebagai konsekuensi dari berkembangnya teknologi, industri dan juga jumlah populasi penduduk. Di satu sisi penemuan plastik ini memberikan manfaat kepada kita, tapi di sisi lain juga memiliki dampak negatif yang cukup besar.

 

Keunggulan plastik dibanding material lain diantaranya ringan, kuat, tidak mudah pecah, fleksibel, tahan karat sekaligus isolator panas yang baik. Sedang dampak negatif yang diberikan kepada lingkungan adalah tidak dapat terurai dalam waktu singkat, dapat mengurangi kesuburan tanah, sampah plastik yang dibuang sembarangan akan mengakibatkan tersumbatnya aliran air dan apabila dibakar begitu saja akan mengeluarkan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Iya gimana ya, setiap hari kehidupan kita tidak pernah lepas dari plastik. Beli gorengan dibungkus pakai plastik, snack yang dipajang di swalayan juga sebagaian besar menggunakan bahan plastik, bahkan bisa dikatakan 90%-nya. Produk kecantikan bahan kemasannya juga menggunakan plastik. Belum lagi gojek, gofood dan shopee food yang juga penyajiannya dan pengantarannya menggunakan plastik. Apalagi jual beli online. Subhanallah.

Soalan sampah ini akan menjadi masalah serius seandainya tidak dicari solusinya. Selama ini solusi yang sering kita dengar adalah 3R (Reuse, Reduce, Recycle) yang masing-masing penanganan tersebut memiliki kelemahan. Misal Reuse, kantong plastik digunakan berkali kali (iya kalau tidak lupa, iya kalau tidak ketinggalan) padahal jika kita gunakan berulang-ulang tentu tidak akan layak pakai. Kemudian Reduce, berarti harus ada pengganti plastik yang biayanya lebih murah dan praktis. Sedangkan Recycle, berarti mendaur ulang plastik yang kualitasnya akan semakin menurun jika berulang kali dilakukan.

Kalaupun mau solusi parsial zero wash, kita punya kekuatan berapa besar? Sedangkan industri kapitalis setiap hari produksi barang menggunakan bahan dasar plastik? Masa iya, kita disuruh membenahi lingkungan yang sudah dirusak kapitalis ‘sendirian’? Mustahil! Bayangkan seandainya kita sendirian, kita berusaha mengurangi penggunaan plastik, sedang teman-teman diluar sana berbondong-bondong ingin yang simpel menggunakan plastik, belum lagi iklan-iklan yang disajikan di TV yang menggelontorkan dana triliyunan untuk sesuatu yang kemasannya menggunakan plastik. Maka penyelesaian soal sampah ini tidak bisa diselesaikan oleh individu saja. Butuh campur tangan masyarakat dan negara.

Jika mau menilik sejarah peradaban Islam, Islam sangat memperhatikan soalan sampah. Pada kurun abad 9-10 M, Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar dan al-Masihi membangun sistem pengelolaan sampah perkotaan, yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, yang di perkotaan padat penduduk akan menciptakan kota yang kumuh.

Ketika barat sedang mengalami fase dark age, rumah-rumah mereka dibangun dengan batu kasar tidak dipahat dan diperkuat dengan tanah halus, dibangun di dataran rendah, berpintu sempit, tidak terkunci kokoh dan dinding serta temboknya tidak berjendela. Wabah-wabah penyakit berulang-ulang menimpa binatang-binatang ternak yang menjadi sumber penghidupan satu-satunya.

Pada masa itu Eropa penuh dengan hutan-hutan belantara dengan sistem pertanian terbelakang. Dari rawa-rawa yang banyak terdapat di pinggiran kota, tersebar bau-bau busuk yang mematikan. Rumah-rumah di Paris dan London dibangun dari kayu dan tanah yang dicampur dengan jerami dan bambu, dan tidak berventilasi. Mereka tidak mengenal kebersihan. Kotoran hewan dan sampah dapur dibuang di depan rumah sehingga menyebarkan bau-bau busuk yang meresahkan. Kota terbesar di Eropa pada waktu itu berpenghuni tidak lebih dari 25.000 orang.

Kondisi demikian sangat berbeda dengan peradaban Islam, khususnya pada masa tersebut. Bukti sejarah yang sangat nyata adalah ketika melihat kota Cordoba yang menjadi ibukota Andalus. Kota ini dikelilingi dengan taman-taman hijau. Pada malam harinya diterangi dengan lampu-lampu sehingga pejalan kaki memperoleh cahaya sepanjang sepuluh mil tanpa terputus. Lorong-lorongnya dialasi dengan batu ubin, dan sampah-sampah disingkirkan dari jalan-jalan. Penduduknya lebih dari satu juta jiwa.

Tempat-tempat mandi berjumlah 900 buah dan rumah-rumah penduduknya berjumlah 283.00 buah. Gedung-gedung sebanyak 80.000 buah, masjid ada 600 buah dan luas kota Cordoba adalah 30.000 hasta. Tiinggi menaranya 40 hasta dengan kubah menjulang berdiri di atas batang-batang kayu terukir yang ditopang oleh 1093 tiang yang terbuat dari berbagai marner.

Jangankan soalan sampah, soalan masuk kamar mandi saja Islam mengatur. Jaminan kesejahteraan era peradaban Islam dapat terwujud bukan karena kebetulan, namun karena Peradaban Islam memiliki seperangkat aturan atau kebijakan. Aturan maupun kebijakan ini bersumber dari Islam. Karena sejatinya peradaban Islam adalah representasi dari penerapan Islam secara menyeluruh dan utuh. Aturan-aturan ini mencakup ranah individu, keluarga, masyarakat dan negara. Sehingga secara sederhana semua keagungan khilafah terwujud karena Islam diterapkan secara penuh.

Sehingga, jika masalah sampah ini ingin segera selesai, satu-satunya solusi adalah kembali kepada sistem Islam yang kaaffah. Sembari memperjuangkan tegaknya peradaban mulia itu, sementara menggunakan alternatif solusi yang saat ini banyak diteliti dan dikembangkan dengan mengkonversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. Sehingga akan mengatasi dua permasalahan yaitu bahaya menumpuknya sampah plastik dan menghasilkan bahan bakar minyak yang merupakan bahan baku plastik itu sendiri.

Teknologi untuk mengkonversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak dengan proses cracking (perekahan) dan hal ini bisa dilakukan dalam skala RT. Bukankah solusi ini menjadi solusi emas yang lebih menguntungkan? Sembari kita mengedukasi masyarakat dan meminta dukungan negara untuk sama-sama mengatasi persoalan sampah ini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image