Al Qur'an sebagai Pencegah Alzheimer
Agama | 2023-10-05 20:06:14
Ada banyak penyakit yang sukar diobati salah satunya adalah alzheimer. Namun, banyak orang yang masih salah mengartikan alzheimer dan demensia padahal sekitar 1,2 juta warga Indonesia menjadi penderita penyakit tersebut. Al Quran telah membahas terkait penyakit alzheimer dan demensia ini beserta cara pencegahannya. Sebelum membahas keterkaitan Al Quran dengan penyakit kepikunan ini, kita harus bisa memahami lebih dulu pengertiannya.
Demensia vs Alzheimer
Demensia adalah penyakit yang ditandai dengan gejala penurunan kemampuan untuk mengingat,berkomunikasi, dan beraktivitas. Sedangkan, alzheimer adalah penyakit dengan gejala penurunan ingatan serta dapat mempengaruhi perilaku penderita. Gambaran awal berupa hilangnya ingatan biasanya berkaitan dengan peristiwa yang baru berlangsung. Terganggunya daya berpikir dan memori seseorang secara langsung dapat mempengaruhi aktivitas dan hubungan mereka. Mereka akan kehilangan kemampuan untuk mengontrol emosi dan memecahkan sebuah masalah, hal tersebut menyebabkan perubahan kepribadian dan tingkah laku.
Demensia sendiri dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, seperti genetik (keturunan), kelainan pada pembuluh darah, paparan zat yang bersifat racun, tumor dan infeksi. Namun, sekitar 70-80% kondisi demensia ini disebabkan oleh penyakit Alzheimer. Hal ini ditandai dengan penurunan ingatan, bahasa, pemecahan masalah dan keterampilan lainnya yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Selain itu, kesulitan mengingat percakapan terakhir, nama atau peristiwa, apatis dan depresi sering kali menjadi gejala klinis awal. Gejala lain seperti gangguan komunikasi, disorientasi, kebingungan, penilaian buruk, perubahan perilaku sehingga pada akhirnya kesulitan berbicara, menelan dan berjalan. Penurunan ini terjadi karena sel-sel saraf (neuron) di bagian otak telah rusak dan tidak lagi berfungsi normal.
Kerusakan saraf yang terjadi pada penyakit alzheimer dapat mempengaruhi bagian otak yang mengatur fungsi tubuh dasar seperti berjalan dan menelan. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan secara anatomis maupun fisiologis tubuh manusia seperti terjadinya atrofi (penyusutan) di bagian tertentu otak, inflamasi (peradangan), produksi molekul-molekul yang tidak stabil atau biasa disebut radikal bebas dan disfungsi mitokondria yang menyebabkan penurunan produksi energi di dalam sel.
Dalil terkait Alzheimer
Dalam Islam, terdapat beberapa dalil yang terkait dengan Alzheimer sbb:
1. Surat An Nahl/16:70
Dalam surat ini berbunyi“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
2. Qur’an Surat Yasin/36:68
Dalam surat ini Allah berfirman “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya) Maka apakah mereka tidak memikirkan?”. Arti dari kembalikan yaitu gejala dari Alzheimer berupa hilangnya memori dan berkurangnya kemampuan kognitif secara bertahap hingga menjadi tidak tahu apa-apa. Hal ini berbeda dengan kondisi ketika seseorang lupa sesuatu tapi masih bisa mengingatnya kembali, pasien Alzheimer jarang yang bisa mengingat lagi apa yang terlupakan bahkan hampir tidak bisa lagi melakukan kegiatan sehari-hari yang dulu mudah dilakukan.
Ayat Qur’an Pencegah Kepikunan
Menurut beberapa literatur, terdapat 10 tanda utama yang biasa digunakan sebagai deteksi dini penyakit alzheimer:
1. Gangguan daya ingat yang mengganggu kehidupan sehari-hari
2. Kesulitan merencanakan dan mengambil keputusan
3. Kulit melakukan pekerjaan sehari-hari
4. Bingung/disorientasi dengan waktu atau tempat
5. Kesulitan memahami gambar visual dan spasial
6. Bermasalahan dengan kata, baik berbicara maupun menulis
7. Tidak meletakkan barang pada tempatnya
8. Salah membuat keputusan
9. Menarik diri dari pekerjaan dan aktivitas sosial
10. Adanya perubahan mood serta kepribadian.
Adapun cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko Alzheimer yaitu dengan menjaga kesehatan jantung; bergerak dan berolahraga produktif; mengkonsumsi sayur dan buah (gizi seimbang); menstimulasi otak, fisik, mental, dan spiritual; bersosialisasi dan beraktivitas positif.
Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa orang yang lebih sering belajar dan mengasah kemampuan kognitifnya serta aktif menggunakan lebih dari satu bahasa mampu menurunkan risiko terkena penyakit Alzheimer. Berdasarkan penelitian yang lainnya disebutkan bahwa seseorang yang rutin membaca Al-Qur'an berpotensi terhindar dari berbagai penyakit di antaranya penyakit Alzheimer (gampang lupa) dan kepikunan. Hal ini bisa terwujud ketika kita membaca Al-Qur'an dengan tartil. Inilah bukti bahwa Al-Qur'an merupakan mukjizat nyata dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang berisi firman-firman Allah dengan berbagai fungsi bagi kehidupan manusia di dunia.
Selain dari sisi Islam, kita pun dianjurkan untuk mencari pencegahannya dari sisi ilmu kedokteran juga. Allah swt berfirman dalam surat An-Nahl ayat 43 yang artinya: “Maka bertanyalah kepada ahlinya (yang mengetahui atau ahli) jika kamu tidak mengetahui (keadaan suatu perkara).” Pengobatan demensia bisa dilakukan dengan mengamalkan beberapa ayat berikut :
1. Surat Az - Zumar ayat 24-37 (dibaca 3x pada malam hari)
2. Surat Al-A'raf ayat 43-56 (dibaca 3x pada siang hari)
3. Surat Al-Isra/17:82
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا82
Artinya “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman..”. Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali juga menurunkan penawar atau obatnya. Selain sebagai mukjizat, ternyata Al-Qur'an mampu menjadi obat, penerang serta mampu memberikan syafa'at di hari akhir. Al Qur’an merupakan salah satu obat yang paling mujarab yang disediakan Allah bagi manusia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
