Saatnya Menemukan Tantangan Baru di 2022, Berani?

Image
saman saefudin
Curhat | Friday, 31 Dec 2021, 22:56 WIB
Sumber gambar: https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/0.43553900-1555902013-rolj9fbay9mcgvb3ewmx.jpg.jpeg

Pernahkah Anda berada dalam fase bekerja di mana kemungkinan untuk resign dan mencari pekerjaan baru seolah tertutup. Bisa jadi kondisi riilnya kita sudah jenuh dengan aktivitas kerja yang begitu-begitu saja, apalagi jika ditambah dengan soalan jenjang karir hingga kualitas kesejahteraan yang sulit diharapkan. Tetapi ungkapan yang keluar seringkali menjadi; "Ya jenuh sih, kerja di sini juga kayaknya gak bakal bikin kita kaya. Tapi kalau harus resign, gua mau kerja apa, kerja di mana? Apalagi umur kita juga sudah gak muda-muda amat."

Aneh bukan? Ya, kesannya paradoks. Satu sisi merasa sudah stuck, sulit berkembang dan bertumbuh kapasitas kita, perusahaan juga sepertinya tidak memberi banyak harapan soal kesejahteraan. Di sisi lain, kita seolah memusykilkan peluang untuk mencari peruntungan di tempat lain. Entah dengan Anda, saya sendiri pernah mengalami situasi pelik semacam ini. Tetapi setelah dipikirkan ulang lebih dalam, saya menemukan dua poin kesimpulan. Pertama, sadar atau tidak, dalam situasi tersebut sejatinya kita sedang berada dalam zona nyaman. Meski kita merasa jenuh, bahkan mungkin mengalami perasaan terasing dan tersandera, tetapi sebetulnya alam bawah sadar kita memilihnya sebagai pekerjaan paling mungkin, paling realistis. Kedua, pada jarum jam yang sama juga kita karenanya miskin keberanian untuk mencari tantangan baru yang bisa membebaskan dari tekanan batin.

Fase yang Melenakan

Dulu, saya menganggap situasi comfort zone hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah sukses; entah kesuksesan karir, materi, dan impian hidup lainnya. Bahwa orang-orang ini cepat menyadari situasi zona nyamannya, lalu memutuskan beranjak mencari tantangan baru agar kesuksesannya terus bertambah dan bertumbuh. Sementara orang-orang yang hidupnya jauh dari kata sukses, bagaimana mungkin zona nyaman akan menghampiri, karena kehidupan mereka sendiri sudah tidak mudah. Tetapi anggapan ini sepertinya keliru, karena setiap orang selalu menemukan zona nyamannya. Mungkin bedanya hanya soal cepat lambatnya menginsafi serta ada tidaknya keberanian untuk keluar dari zona nyaman yang melenakan.

Sekarang bandingkan dengan sejumlah pencari kerja yang berkumpul dan sering kongkow bareng, menghibur diri dari kenyataan sulitnya mencari kerja. Awalnya mungkin saling sharing informasi dan pengalaman, berikut keluhan-keluhannya. Tetapi semakin lama ruang sepengangguran ini akan menjelma menjadi zona nyaman yang melenakan, menjadi tempat pelarian dari tekanan hidup. Sementara pekerjaan belum didapat, maka mereka mencari kesenangan untuk menghibur diri. Tapi ruang ini bisa amat menyamankan hingga pada akhirnya melenakan kita dari tujuan awal mendapatkan pekerjaan. Inilah zona nyaman kaum pengangguran, dan saya pernah berada dalam situasi semacam ini.

Maka situasi zona nyaman dengan demikian bukan hanya milik mereka yang telah sukses, tetapi bisa menimpa kita-kita yang justru semestinya berjuang memperbaiki nasib. Sebagian kita, termasuk mungkin penulis, bisa jadi adalah orang-orang yang sedang dininakbobokan dengan kenyamanan hingga diam-diam kita telah mengubur sejumlah impian besar yang dulu dielu-elukan dengan heroik. Kita merasa nyaman dengan apa yang ada, lantas lupa terhadap peluang dan kesempatan lainnya yang bisa jadi akan menjadikan kita lebih bertumbuh dan berkembang lebih baik, lebih besar, lebih hebat. Sekarang pertanyaannya, beranikah kita keluar dari zona nyaman?

Mencari Tantangan Baru

Hidup yang tak pernah dipertaruhkan tidak mungkin akan dimenangkan, begitu kata Sutan Sjahrir yang menjadi viral setelah dikutip presenter kondang Najwa Sihab.

Konon, orang sukses selalu punya cara untuk menghindarkan diri dari situasi nyaman. Karena kenyamanan akan membuat kesuksesannya berhenti, tidak bertumbuh. Mungkin bagi mereka konsep sukses idealnya never ending, satu kesuksesan akan menjadi pintu bagi jalan kesuksesan lainnya. Lantas bagaimana orang sukses menjaga jarak dari zona nyaman?

Jawabannya adalah mencari tantangan baru. Jangan biarkan kenyamanan menenggelamkanmu! Maka waspadailah rutinitasmu, yang diam-diam menyelimutimu dalam kenyamanan. Ritual yang sama, metode serupa, tidaklah mungkin melahirkan hasil yang berbeda. Seperti kata Albert Einstein, hanya orang bodoh yang mengharapkan hasil berbeda dari cara yang sama.

Maka di tahun yang baru, 2022, mari menemukan tantangan baru yang membuat hidup kita lebih bergairah. Dan inilah resolusi saya di 2022; saatnya keluar dari zona nyaman dan mencari pertaruhan hidup baru yang lebih menantang. Tulisan ini adalah bagian dari cara saya memulai menemukan tantangan baru tersebut, memenuhi undangan Content Challenge dari Retizen: Apa Resolusi Kamu di 2022? Yoks, kita jemput peluang dan tantangan baru di 2022. Semoga semesta mendukung. []

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Seorang pembelajar, saat ini menjadi redaktur di sebuah media lokal di Kota Pekalongan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Mewujudkan Pemuda Islam yang Kuat dan Tangguh

Image

Mahsa Amini, Perempuan dan Islam

Image

PK Bapas Purwokerto Tindaklanjuti Usulan Pembebasan Bersyarat

Image

Pastikan Kondisi Aman, Petugas Rutan Jepara Rutin Lakukan Trolling

Image

Pembayaran Pajak Sarang Burung Walet Menuai Pro dan Kontra

Image

Mengenal Apa Itu Delik Pers. Apakah Hanya Berkutat Pada Kesalahan Pers?

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image