2022, Tahunnya Bangsa Kita

Image
Agung Mahardika agungmahardika.2020
Eduaksi | Wednesday, 29 Dec 2021, 13:06 WIB

Kandungan Al quran, Surat Al Hasyr ayat 19, seakan telah menjelaskan tentang harapan seseorang untuk senantiasa optimis dalam berkehidupan yang lebih baik kedepannya. Makna optimis yang dijelaskan oleh Martin Seligman seorang Psikolog Amerika terkenal yang berfokus pada bidang Psikologi Positif, juga telah memaparkan mengenai sebuah keyakinan dari sebuah sudut pandang baik. Pemaparan tersebut juga seakan menyiratkan kepada kita semua bahwa sikap yang merepresentasikan impian baik penting diimplementasikan dalam segala hal dikehidupan sehari-hari. Utamanya dalam menyongsong kehidupan dimasa yang akan datang.

Dalam rangka menyongsong pergantian tahun 2022, akan banyak harapan yang diprespektifkan dalam sebuah impian kehidupan yang lebih baik utamanya berkaitan dengan target-target tertantu. Langkah utama yang harus dilakukan untuk mengiplementasikan sebuah impian perlu menanamkan sikap optimis, kerja keras, dan perencanaan matang. Keberhasilan akan menjadi energi postif dari aksi yang dilakukan dimasa yang akan datang. Dengan itulah tahun baru sering kali dikaitkan dengan perubahan didalam kehidupan.

Bertambahnya usia atau dalam konteks disini, merupakan tahun baru yang sering juga dikaitkan dengan menyongsong peradaban baru. Peradaban yang baru dalam kehidupan manusia terus berkembang sesuai tahapan zamannya, dari mulai masa pra-sejarah, hingga masa modern sekarang ini. Tahapan tersebut memberikan informasi berkaitan hukum yang berlaku di masa tersebut. Sejarah yang digambarkan sebagai sebuah lorong dan waktu, tentu saja bukti dan saksi ilmiah yang biasanya tercantum dalam peninggalan-peninggalan sejarah. Dalam kaitannya dengan intervensi penggolongan perkembangan zaman, secara psikologi akan berpengarus tehadap praktik kelompok yang terjadi pada suatu masa.

Perkembangan praktik kelompok kini juga menjadi sebuah energi yang merupakan fragmen dari kemajuan suatu negara. Salah satu negara yang mengalami kemajuan yang signifikan didasarkan pada data yang dirilis oleh International Monetary Fund (IMF). Kemajuan Ekonomi Indonesia disaat pandemi Covid-19 ini tentunya menjadi pengakuan Internasional yang akan meningkatkan elektabilitas bangsa dimata dunia. Harapan menjadi negara maju juga telah diidam-idamkan oleh para pendahulu bangsa. Sehingga kemajuan negara akan menguatkan persatuan dan kesatuan pada sebuah implementasi praktik kelompok.

Nilai persatuan dan kesatuan ini yang menjadi harapan pendahulu bangsa, telah dimulai sejak zaman kejayaan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari. Dalam serat Negara Kerta Gama telah dijelaskan bahwa dalam ajaran Aliran Tantrayana telah diajarkan bahwa kepercayaan ini berisi banyak elemen meliputi ritual, filsafat, budaya dan lain sebagaimanya. Makin dalam kita mendalami suatu kepercayaan akan bertemu dengan esensi. Maka elemen tersebut akan tampak seperti kulit kerang. Bahwa terlihat kulit kerang satu akan berbeda dengan kulit kerang lainnya. Namun dalam tataran esensi akan bermakna sama. Maknanya, selama berabad-abad agama hindu dan budha hidup berdampingan di Jawa Kuno. Berkembangnya Aliran Tantrayana menjadi landasan bagi era Jawa Timur untuk meleburka Candi Hindu-Budha menjadi satu bangunan. Sejak era Kertanegara, Dewa Siwa dan Budha melebur menjadi yang Maha Mutlak dan Tak Terfikirkan. Mpu Tantular menjelaskan ajaran yang terkandung dalam Dewa Siwa dan Budha sesungguhnya satu jua, “Bhineka Tunggal Ika” artinya mereka memang berbeda beda namun hakikatnya sama, karena tidak ada sebuah perbdaan yang mendua.

Dikemudian hari pendiri Bangsa Indonesia memilih kalimat dari Mpu Tantular menjadi semboyan negara. Menariknya pada pengertian lebih luas bahwa bangsa Indonesia sangat beragam kelompoknya. Toleransi jelas dirayakan oleh nenek moyang Bangsa Indonesia dengan monumen Candi Jawi. Toleransi terhadap perbedaan merupakan jati diri bangsa kita dimasa lalu. Adanya perbedaan ini juga dalam Ilmu Psikologi merupakan identitas sosial suatu kelompok.

Dewasa ini impian yang terkandung didalam “Bhineka Tunggal Ika” diimplementasikan dengan cita-cita bangsa untuk menjadikannya sebagai semboyang yang sering digaungkan yaitu “Indonesia Maju”. Makna yang terkandung dalam semboyan menjelaskan bahwa Indonesia yang tidak ada satupun rakyatnya yang tertinggal untuk meraih cita-citanya, artinya kita harus membangun pendidikan, yang meningkatkan keimanan. Pembangunan pendidikan yang berdasarkan kepada keimanan, juga merupakan implementasi dari pengamanan jati diri kearifan lokal. Selain itu juga dijelaskan bahwa nantinya akan menjadi negara yang memperlihatkan hak yang sama di depan hukum.

Tahun 2022, Indonesia resmi menyandang tanggung jawab sebagai Presidensi Group of Twenty (G20) selama periode setahun penuh, dimulai dari 1 Desember 2021 hingga KTT G20 di November 2022. Tema yang diusung Presidensi G20 adalah “Recover Together, Recover Stronger”. Nantinya Indonesia akan mengajak negara – negara diseluruh dunia untuk bersama-sama mencapai pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan. Terintegrasinya perekonomian global yang baik, akan memberikan keberhasilan berkaitan dengan penanganan pandemi serta pemulihan ekonomi di suatu negara akan berjalan secara efektif dan efisien. Melalui forum G20 tersebut, Indonesia mendorong upaya kolektif dunia mewujudkan kebijakan yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi global secara inklusif.

Terdapat tiga manfaat besar bagi Indonesia dengan menjadi Presidensi G20, yakni manfaat ekonomi, pembangunan sosial, dan politik. Dari aspek ekonomi, beberapa manfaat langsung yang diproyeksikan dapat tercapai dengan menjadi Presidensi G20 antara lain adalah meningkatnya konsumsi domestik hingga mencapai Rp1,7 triliun, PDB nasional yang bertambah hingga Rp7,4 triliun, serta pelibatan UMKM dan penyerapan tenaga kerja sekitar 33 ribu di berbagai sektor. Manfaat implementasi yang diutamakan yaitu untuk sektor akomodasi, makan-minum, pariwisata, dan branding Indonesia di dunia internasional. Branding tersebut akan meningkatkan confidence dari negara-negara lain terhadap Indonesia. Sehingga dampak jangka panjang yang akan terjadi secara psikologis adalah akan menjadi central stage di dunia.

Peningkatan kepercayaan diri dalam mensukseskan hajad besar di tahun 2022 ini secara makro juga akan meningkatakan kreatifitas secara kolektif pada masyarakat. Dengan membaca peluang yang baik, juga akan menjadikan potensi baru untuk kemajuan suatu negara. Peluang tersebut juga telah dibuktikan dengan dipilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Moto GP dan Miss Grand Internasional. Dengan begitu tentunya sinergitas antar kelompok diperlukan untuk mensukseskan hal-hal dimasa yang akan datang.

(Agung M. Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

2022, Tahunnya Bangsa Kita

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Kesekian Kali

Image

Puskesmas Terbaik DKI Jakarta Berdasarkan Review Terbaru

Image

Ruang Lingkup Morfologi

Image

Pengaruh k-pop terhadap remaja

Image

Prodi Hukum Bisinis Unismuh Makassar Siap Gelar Kuliah Perdana Awal Desember

Image

Video Kreatif Keren Tanpa Asap Rokok Lapas Perempuan Palembang Juara 1 pada HUT Yayasan Jantung Seha

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image