Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Galuh Putri

Menguak Sejarah Penyakit Beri-Beri

Edukasi | 2023-05-01 15:24:02
Sumber : https://steptohealth.com/beriberi-symptoms-of-thiamine-deficiency-in-the-body/

Dalam sejarah dunia gizi Internasional, Indonesia dikenal sebagai negara tempat dimana vitamin anti beri-beri ditemukan pertama kali. Penemunya adalah Dr. O. Eijkman (1858-1930) yang saat itu bertugas sebagai dokter di Rumah Sakit Angkatan Darat Hindia Belanda di Jakarta, yang kemudian menjadi direktur pertama laboratorium patologi dan bakteriologi yang khusus didirikan pemerintah pada 1890 sebagai sarana penelitian untuk pemecahan masalah beri-beri di Indonesia.

Meskipun pada masa ini beri-beri tidak lagi menjadi masalah gizi di Indonesia, namun ahli gizi tetap harus mengetahui hal yang berkenaan dengan kejadian penyakit beri-beri pada masa sebelum ditemukan vitamin yang membawa nama Indonesia ke tingkat pergizian internasional.

Beri-beri telah menyebar luas di Timur sejak abad ke-4 setelah masehi, sementara penyebabnya baru diketahui sejak beri-beri mulai menyebar di Indonesia. Sepanjang yang dapat ditelusuri dari karya tulis Lindman pada tahun 1854, beri-beri menyebar luas di kalangan serdadu pribumi dan narapidana sejak perang Aceh pada 1873 dan perang Batak pada 1878.

Infeksi racun dan udara dingin pada waktu itu diasumsikan ambil andil sebagai penyebab dari beri-beri. Berlanjut pada metode mandi uap dan berjemur pada waktu itu dipercaya sebagai upaya untuk mengobati atau mencegah beri-beri. Barulah pada tahun 1880-an dimulailah penelitian ilmiah sebagai bentuk upaya untuk mengungkap penyebab dari beri-beri, kendati demikian untuk kepastian dari hasil penelitian ilmiah tersebut baru ditetapkan pada tahun 1910-an.

Tubuh manusia membutuhkan vitamin B1 untuk memproduksi serta memelihara energi disetiap sel tubuh. Saat kadar vitamin B1 tubuh terlalu rendah, maka terjadilah kondisi yang dikenal sebagai beri-beri. Rendahnya kadar vitamin B1 menyebabkan tubuh memiliki tingkat energi yang rendah sehingga menyebabkan masalah pada peredaran darah, jantung, dan sistem saraf.

Sebagai upaya pencegahan, Van Haeften (1894) menganjurkan desinfeksi dan pengosongan tempat menginap orang-orang yang terjangkit beri-beri. Pada tahun 1890, dikatakan bahwa penjara yang penghuninya mendapat jatah beras tumbuk hanya sedikit, hampir tidak ditemukan kasus beri-beri. Sementara penjara yang mendapat jatah beras tumbuk yang banyak, malah sering terjadi penyakit beri-beri.

Dari hal itulah berkembang kembali pendapat agar masyarakat pribumi diberikan makanan yang lebih banyak mengandung lemak dan protein, sejalan dengan pemahaman waktu itu bahwa gizi yang baik adalah makanan yang kaya akan lemak dan protein.

Seorang peneliti lain melakukan percobaan dengan memberikan kacang hijau pada binatang percobaannya, dan hasilnya binatang tersebut tidak terjangkit beri-beri. Ketika binatangnya tidak lagi diberikan kacang hijau, beri-beri kembali menyerang. Karena itu, ia menyarankan pada pribumi waktu itu untuk memberi tambahan makanan berupa kacang hijau.

Saran lain guna mencegah beri-beri dikemukakan oleh Kop pada 1920 setelah membuktikan penelitiannya bahwa kentang kupas yang direbus memiliki sifat-sifat anti polineuritis. Maka dari itu ia menyarankan agar pribumi juga diberikan jatah kentang.

Dan di era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini memang sudah terbukti bahwa hasil penelitian para ahli yang diungkapkan di atas benar adanya. Di zaman sekarang untuk mencegah penyakit beri-beri, diperlukan makan makanan padat nutrisi dan seimbang yang mencakup makanan kaya vitamin B1, seperti kacang-kacangan, daging, kentang produk susu, dan sejumlah sayuran seperti asparagus dan bayam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image