Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image siti suryani

Anak Pelaku Kejahatan, Bukti Bobroknya Negara

Agama | Tuesday, 24 Jan 2023, 14:36 WIB

Anak Pelaku Kejahatan Pada Anak, Bukti Bobroknya Negara

Berubahnya zaman maka akan diikuti transformasi dan kemajuan teknologi, perubahan gaya pendidikan, perubahan sosial masyarakat, menjadi tantangan yang harus dihadapi. Perubahan yang terjadi dalam setiap waktu tentu harus diiringi dengan penyikapan kita agar tidak terjebak dalam sisi buruknya. Karena sejatinya setiap perubahan akan menghadapi dha sisi, baik dan buruk.

Maraknya kasus tindak asusila sebagai salah satu dampak buruk perubahan tatanan kehidupan. Saat ini pelaku tindak susila bukan saja dilakukan orang dewasa namun dilakukan seorang anak yang masih duduk di Sekolah Dasar mampu melakukan tindak asusila. Tentu ini menjadi alarm bagi kita semua sebagai individu dan masyarakat, untuk lebih peka dan peduli atas kondisi umat. Juga keberadaan negara yang bertanggung jawab atas seluruh rakyatnya.

Dilansir dari liputan6.com, bocah taman kanak - kanak (TK) di Mojokerto menjadi korban perlakuan tidak senonoh. Hasil penyelidikan yang dilakukan kepolisian pelakunya adalah stetangga korban yang masih duduk di Sekolah Dasar. Awal kejadian korban diajak oleh pelaku yang terdiri tiga anak ke sebuah rumah kosong, kemudian para pelaku melakukan aksinya dengan menyuruh korban untuk melepas pakaiannya, lalu para pelaku melakukan tindak asusila tersebut secara bergiliran.

Sistem pendidikan yang diterapkan saat ini, pada faktanya tidak mampu untuk membentuk kepribadian yang baik, meskipun pemerintah menggunakan berbagai kurikulum karakter dalam menjalankan sistem pendidikan, alhasil output yang dibentuk tetaplah generasi rusak yang jauh dari pemahaman aqidah Islam.

Sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 yang disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Maka pendidikan berbasis karakter yang menjadi program pemerintah diharapkan mampu mewujudkan tujuan pendidikan.

Namun sayang, upaya yang dilakukan pemerintah dalam sistem pendidikan tidak bisa lepas dari intervensi asing yang berlandaskan pada ideologi kapitalisme sekuler. Dimana pendidikan hanya dijadikan sebagai alat kepentingan penjajahan mereka, serta mencampakkan wahyu ilahi sebagai otoritas ilmu tertinggi dalam dunia pendidikan, agama tidak diberikan ruang peran dalam proses pembinaan dan pengajaran setiap program pendidikan.

Pendidikan kapitalis sekuler memang tidak diprogram untuk membentuk karakter yang berkepribadian Islam, tapi justru membentuk pribadi sekuler, pribadi yang jauh dari niiai dan ajaran Islam, kering dari kesadaran akan hubungan dirinya dengan pencipta, niradab, pemikirian serta perilaku yang jauh dari Islam. Pendidikan berorientasi pada pencapaian nilai materi belaka tanpa disandingkan dengan pemahaman akan agamanya.

Keberadaan teknologi yang sejatinya memberikan sumbangsih kemajuan dalam kehidupan masyarakat, namun justru lebih dominan digunakan untuk kesenangan semata. Keberadaan media komunikasi, seperti gadget sebagai hasil teknologi, menjadi salah satu faktor yang merusak pemikiran anak. Bagaimana tidak, segala usia bisa menggunakan dan mengakses berbagai tontonan apapun, termasuk yang tidak layak dilihat oleh anak, sehingga apa yang mereka tonton menjadi tuntunan atau contoh yang akan diikuti, apabila tidak ada pengawasan dari orang tua atau pun negara yang bertanggungjawab atas segala tayangan yang beredar di tengah masyarakat.

Seluruh aspek saling berkaitan dalam merusak aqidah dan pemikiran generasi, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga pengaturan media yang berasaskan kapitalis sekuler. Melahirkan generasi berorientasi materi, niradab, jauh dari membentuk ketakwaan, akhlak mulia dan kepribadian islami anak. Keberadaan negara justru memberi pelonggaran dan permakluman pada perilaku maksiat atas dasar kebebasan. Karena itu, jangan heran jika kejahatan seksual makin beranak pinak dengan berbagai motif dan cara.

Islam Solusi Ideologis Yang Mengakar

Islam adalah solusi berupa syariat dalam bentuk perintah dan larangan serta sanksi bagi yang melanggar. Segala problematika yang ada saat ini adalah akibat tidak dijalankan syariat atau aturan hidup yang Alloh perintahkan, sehingga berbagai problema menghampiri dalam seluruh lini kehidupan. Tak terkecuali kejahatan seksual bukan saja menimpa anak tetapi pelakunya itu sendiri adalah seorang anak.

Dalam Islam, tindak pencegahan dilakukan melalui penerapan ajaran Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan. Penanganan bagi pelaku kejahatan seksual dilakukan melalui sanksi sistem Islam, yang akan membawa pada efek jera bagi pelaku.

Peran negara sebagai pilar yang menerapkan sistem sosial dan pergaulan sesuai dengan aturan Islam. Ketentuan atau aturan Islam diberlakukan untuk menjaga sistem pergaulan baik dalam keluarga atau masyarakat seperti kewajiban menutup aurat secara syari, larangan berzina dan berkhalwat, larangan ikhtilat atau campur baur laki - laki dan perempuan.

Dalam Islam keberadaan lembaga media masa dan informasi, dilakukan dengan penyaringan konten dan tayangan yang tidak mendukung atas perkembangan generasi seperti film beraroma sekuler liberal, konten yang mengandung pornografi, media yang menyeru oada hal kemaksiatan serta perbuatan lainnya yang bertentangan dengan hujum syariat

Sanksi yang diberlakukan Islam bersifat tegas, menghukum para pelaku berdasarkan kadar kejahatan yang dilakukanya menurut pandangan hukum syara dan memberi sanksi sesuai dengan ketentuan hukum Alloh serta kebijakan khalifah sebagai pemegang kewenangan dalam melaksanakan hukum yang diberlakukan.

Pendidikan yang diterapkan Islam berasakan pada akidah Islam. Melalui sistem Islam, kurikulum, proses belajar dan media belajar akan mengacu pada akidah Islam. Dengan demikian anak - anak akan memiliki akidah yang kokoh, orang tua juga memiliki agama yang baik dan masyarakat yang sudah terbiasa amar maruf nahi munkar, saling memberi nasihat serta saling mengingatkan ditengaj masyarakat. Dalam asuhan Islam, rasa peduli dan empati terhadap sesama manusia akan terbentuk. Sementara itu, dalam sistem sekuler, manusia dibentuk menjadi masyarakat individualis kapitalistik.

Sistem politik ekonomi menggunakan ekonomi Islam. Kejahatan yang terjadi sebagian besar diakibatkan karena keterpurukan ekonomi. Oleh karenanya, negara Islam akan memberikan jaminan atas kebutuhan pokok masyarakat, yaitu sandang, pangan, papan, kesehatan, keamanan, pendidikan dengan baik. Dengan menjamin kemudahan dalam mencari nafkah serta pelayanan publik yang berbiaya murah atau gratis, dan amanah.

Sebagai langkah ideologisnya adalah mencampakkan i sistem sekuler dan mengganti dengan sistem Islam kafah. Tentu upaya ini harus dilakukan melalui penyadaran pemikiran dan pemahaman yang terus menerus tentang Islam. Bahwa Islam bukan saja hanya agama tapi juga sebagai solusi kehidupan. Dengan begitu, masyarakat menyadari bahwa kebutuhan akan penerapan sistem Islam merupakan hal penting dan genting untuk melindungi anak dan generasi dari kejahatan seksual ataupun sebagai pelaku kejahatan itu sendiri.

Wallohu'alam

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image