Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mohamad Su'ud

6 Kesalahan Orangtua dalam Mendidik Anak

Agama | Tuesday, 24 Jan 2023, 11:21 WIB
Ilustrasi oleh Mohamad Su'ud (retizen.republika)

Setiap anak memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing. Mereka akan tumbuh dan berkembang sesuai "fitroh"nya.

Orang tua tidak berhak memaksa anak apalagi mengintimidasi untuk menyukai dan menguasai hal tertentu. Tugas orang tua adalah menstimulasi anak agar potensi yang ada tumbuh secara optimal.

Berikut kami sajikan 6 kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Tujuan tulisan ini agar orangtua mampu menghindari hal negatif dalam pengasuhan.

1. Membandingkan dengan temannya

Kelebihan dan kekurangan yang melekat pada diri anak adalah hal yang lumrah. Tidak ada anak yang muncul sempurna.

Dibalik kelebihan anak ada kekurangan. Bila ada sisi kekurangan pasti Allah menambahkan keunikan.

Orang tua harus menyakinkan bahwa anaknya memiliki banyak potensi. Membandingkan akan menyakitkan jiwa anak. Lebih baik fokus pada potensi yang ada.

Aspek yang perlu diperhatikan orangtua adalah kebanggaan. Orangtua bangga bahwa anaknya adalah istimewa. Katakan itu berkali-kali dihadapan anak.

2. Berbicara dengan nada tinggi

Sebagian besar orang tua "menaklukkan" anaknya dengan amarah dan nada tinggi. Seakan itu menjadi satu-satunya cara.

Perilaku orangtua demikian akan terekam dalam alam bawah sadar anak. Dan saatnya anak akan meniru kebiasaan berbicara dengan nada tinggi.

Cara bijak adalah berbicara dengan nada rendah dan seperlunya. Ingat, anak akan mengikuti irama orangtua.

Secara psikis akan berdampak merusakan atau kematian sel-sel otak anak dan Kepercayaan diri menurun dan penakut

3. Kurang memperhatikan waktu emas

Orangtua hendaknya memilih waktu-waktu yang baik untuk berkomunikasi. Pilih waktu disaat anak rileks dan santai.

Pemilihan waktu akan menjadikan suasana hangat dan penuh keakraban. Orangtua lebih paham kebiasaan sehari-hari. Kapan saat anak lelah, kapan anak istirahat, kapan anak sedang menghadapi masalah, dan seterusnya.

4. Menganggap harta bisa membahagiakan anak

Banyak orangtua menganggap mencukupi materi anak adalah lebih dari cukup dalam pendidikan. Ini adalah salah total.

Anak bukan sekedar terpenuhinya kebutuhan lahiriah namun juga membutuhkan spirit ruhiah dan dukungan emosi. Berapa kali orangtua menanyakan "sudah sholat"? Uda ngaji? Tahukah orangtua saat-saat tertentu anak mengahadapi masalah?

5. Kurang memberi tauladan

Mendidik bukan sekedar "kata-kata", namun harus dibarengi tauladan, contoh. Bukan menyuruh namun mengajak. Bukan menggertak namun memberikan rasa nyaman.

Ketika orangtua mengajak berarti mengajak diri sendiri. Ini adalah cara mujarab dalam mentarbiyah anak.

6. Terlalu fokus dengan akademik (IQ)

Anak dikatakan cerdas, tidak cukup didukung intelektual, namun ada kombinasi dengan emosi dan spiritual.

Orang tua bingung ketika nilai pelajaran Matematika 5, namun tidak bingung ketika anak belum lancar menghapal bacaan sholat. Bingung mengkursuskan mapel Bahasa Inggris, namun lupa menyimak bacaan Al-Qur'an anak.

Saya secara pribadi, tidak begitu "peduli" dengan nilai akademik anak. Ketika anak menerima rapot saya melihat nilai hanya sekedarnya. Saya lebih bangga anak rajin sholat, ngaji dan akhlaknya bagus.

Semoga saya dan anda mampu menjadi orangtua teladan, menjadi kebanggaan anak-anak kita.

Nasrun minallah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image