Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti Mujayanah

Konsumsi TTD bagi Remaja Putri, Pentingkah?

Gaya Hidup | Monday, 23 Jan 2023, 09:10 WIB

Remaja menurut WHO adalah penduduk dengan rentang usia 10-19 tahun. Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang memiliki peran penting dalam kehidupan di masa mendatang. Remaja perlu menjadi perhatian penting oleh Pemerintah, baik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Anemia dapat menyerang siapa saja, termasuk anak remaja, akan tetapi remaja putri lebih rentan terkena Anemia, karena setiap bulan banyak mengeluarkan darah pada saat mengalami menstruasi. Remaja putri yang mengalami Anemia berisiko lebih tinggi akan menjadi calon ibu yang Anemia. Hal ini berdampak pada bayi yang dikandung, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya tidak optimal serta dapat menyebabkan komplikasi seperti perdarahan, kematian ibu, bayi prematur, dan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Anemia yaitu kondisi dimana kadar hemoglobin dalam darah dibawah batas normal (12gr/dl), yang biasanya ditandai dengan 5L (lemah, lesu, letih, lelah, dan lalai) serta kelopak mata pucat. Hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen dan menghantarkan oksigen ke seluruh sel jaringan tubuh, termasuk otot dan otak untuk melakukan fungsinya.

Remaja yang menderita Anemia juga mengalami penurunan konsentrasi belajar yang menyebabkan menurunnya prestasi belajar. Penderita Anemia mudah terkena penyakit infeksi karena menurunnya daya tahan tubuh. Prevalensi atau angka kejadian Anemia pada usia 15-24 tahun berdasarkan Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 adalah sebesar 32% dan 26% Anemia terjadi pada usia 5-14 tahun, serta tren angka kematian ibu tahun 2021 mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya.

Tablet Tambah Darah atau biasa disebut TTD, merupakan suplemen gizi yang mengandung 60 mg zat besi elemental dan 0,4 mg asam folat, serta merupakan program pemerintah yang diberikan pada remaja putri dan wanita usia subur.

Pemberian tablet tambah darah sebagai upaya penting dan merupakan cara yang efektif dalam mencegah dan menangani anemia akibat kekurangan zat besi atau asam folat. Program suplementasi TTD pada remaja putri sudah dimulai sejak tahun 2014 dan menjadi salah satu intervensi spesifik dalam upaya penurunan stunting. Kegiatan TTD ini dicanangkan oleh kementerian kesehatan Republik Indonesia.

Menurut Kementerian Kesehatan, aturan mengkonsumsi TTD bagi remaja putri yaitu satu minggu sekali sepanjang tahun dan 90 tablet bagi ibu hamil atau satu hari sekali selama kehamilan. Ada pun cara untuk mengonsumsi TTD yaitu dengan makan gizi seimbang sebelum minum TTD, konsumsi buah-buahan sumber vitamin C, serta tidak minum TTD menggunakan air teh, kopi, atau susu, karena dapat menghambat penyerapan zat besi, cukup minum dengan air putih.

Remaja putri sering mengalami Anemia, karena remaja tumbuh dengan sangat cepat, sehingga perlu asupan zat gizi yang lebih banyak. Selain itu, gaya hidup remaja yang kurang asupan zat besi dan protein dalam makanan sehari-hari, serta remaja yang sering melakukan diet tanpa memperhatikan asupan zat besi merupakan salah satu penyebab terjadinya Anemia pada remaja putri.

Pemberian TTD dengan dosis yang tepat dapat mencegah Anemia dan meningkatkan cadangan zat besi di dalam tubuh. Pemberian TTD dilakukan pada remaja putri mulai usia 12-18 tahun di institusi pendidikan (SMP dan SMA atau yang sederajat) melalui guru UKS atau petugas gizi dan ausrem (anak usia sekolah dan remaja) yang datang ke sekolah, posyandu remaja, dan puskesmas.

Salah satu fungsi ASN dalam UU Nomor 5 tahun 2014 adalah sebagai pelaksana kebijakan dan pelayan publik, selain itu ASN harus senantiasa mengamalkan core values ASN BerAKHLAK. Dalam kegiatan ini ASN mengamalkan nilai ASN BerAKHLAK yaitu berorientasi pelayanaan yaitu denganmemberikan pelayanan terbaik untuk anak bangsa, loyal terhadap pekerjaan yang diamanahkan, serta harmonis membangun hubungan baik dengan semua orang.

Foto kegiatan Pemberian TTD di MTs N 3 Karawang (Dok. Pribadi)

Untuk mencegah terjadinya Anemia pada remaja putri, remaja perlu mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama makanan yang tinggi protein dan zat besi seperti ikan, daging merah, telor, serta jangan lupa untuk mengkonsumsi buah dan sayur kaya vitamin A, C, dan E dalam menu makan sehari-hari, atau sesuai dengan aturan menu isi piringku. Selain itu, remaja juga perlu melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, mencuci tangan dengan sabun, dan minum air putih 8 gelas setiap hari.

Gambar Pedoman Gizi Seimbang (Sumber :Kemenkes RI)

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, makanan yang banyak mengandung vitamin A yaitu minyak ikan dan hati sapi, sumber lain adalah hati ayam, kuning telur ayam, dan beberapa jenis susu dan keju. Sementara itu, sumber pangan nabati didapatkan dari sayuran berdaun hijau dan sayuran berwarna merah atau oranye.

Jeruk, jambu biji, pepaya, nanas, semangka, buah naga, tomat, kentang, labu, dan sayuran hijau seperti bayam, daun singkong, buncis, kangkung, kacang panjang, dan sawi hijau merupakan sumber vitamin C, serta sumber makanan yang banyak mengandung vitamin E yaitu minyak sayur seperti kelapa, minyak kelapa sawit, dan minyak kacang kedelai. Kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang hijau, kadang kedelai, dan kacang merah, sayur dan buah-buahan seperti tauge, bunga kol, bayam, salada, alpukat, mangga, dan tomat.

Apabila ada efek samping setelah mengonsumsi TTD seperti terasa perih di ulu hati, mual, serta tinja berwarna kehitaman jangan khawatir, kondisi ini akan berkurang karena tubuh sudah menyesuaikan, dan jangan minum TTD dalam keadaan perut kosong. Mari cegah Anemia dengan konsumsi TTD secara teratur, ciptakan generasi Indonesia sehat tanpa Anemia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image