Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Diana Rahayu

Remaja Makin Ngawur Suka Tawur, Gegara Visi Hidup Lagi Nge-Blur

Gaya Hidup | Sunday, 22 Jan 2023, 05:48 WIB

Apa sih yang terbayang saat kata remaja diucap? Sosok muda, energik, penuh semangat, banyak visi, percaya diri, tinggi cita-cita dan seabrek lagi karakter positif yang begitu diharap akan membawa kebaikan di masa mendatang. Remaja adalah bagian dari pemuda yang padanya kepemimpinan sebuah bangsa dipertaruhkan di masa depan.

Kini, sosok penuh energi positif tengah hilang jati dirinya. Sepertinya tak pernah sepi kasus generasi di dalam negeri. Mulai dari narkoba, seks bebas, bulliying hingga tawuran yang berujung maut. Seperti kasus tawuran di Palembang 15 januari lalu yang meminta korban satu nyawa melayang akibat luka bacok di kepala bagian belakang, tusukan di dada dan luka sayat di paha.

Ngeri membayangkan bagaimana remaja yang seharusnya membawa tas dan buku, pergi ke sekolah dan berkutat dengan kegiatan belajar, kini menjadi liar di jalanan dengan parang, panah, tombak dan gear sepeda motor di genggaman sebagai senjata. Fase emas untuk memempa diri menjadi calon pemimpin telah tersia. Kondisi fisik yang kuat, konsentrasi bagus, organ tubuh yang sehat optimal, tak lagi menjadi aset kebaikan bangsa.

Ada apa dengan remaja kita? Sebuah tanya yang harus jujur kita jawab bersama, jika ingin bangsa ini selamat. Bolehlah kita sebut remaja kita saat ini minim visi bahkan tak punya visi. Bagaimana remaja memandang hidup dan kehidupan yang dia jalani, ke arah mana ujung kehidupan akan kembali, tak utuh ada di benak mereka, bahkan bias jadi tak ada.

Kenapa bisa dikatakan begitu? Ya, cukup dengan melihat ngawurnya perilaku remaja saat ini, cukup membuktikan bahwa mereka sedang kehilangan visi hidup. Kalau mereka sadar ujung hidup bukan sebatas kematian, tapi kebangkitan kembali setelah kematian, pastilah meteka akan berfikir lebih jauh untuk berhati-hati dalam berbuat.

Tak akan mudah tergoda ikutan tawur yang unfaedah banget, bahkan berbahaya dan membahayakan. Tak ngotot mengejar ketenaran duniawi, dengan dikenal sebagai sosok jagoan tanpa tanding, hanya demi eksistensi serta harga diri. Omong kosong semua itu. Bahkan tawuran lah yang akan menghabisi eksistensinya sebagai calon pemimpin. Tak hanya itu bahkan menghabisi eksitensi keberadaan dirinya di dunia alias mati sia-sia sebagai korban. Yakin nanti punya jawaban saat Allah menanyakan di hari perhitungan?

Nyeseknya lagi, ngawurnya kelakuan remaja saat ini makin parah ketika negara juga tak punya visi save generations. Kebebasan digelar habis-habisan dalam kehidupan, dan disokong penuh oleh negara sendiri. Ajang eksistensi diri remaja dengan event receh sebatas unjuk kesempurnaan wajah, pamer aurat, gemulai tuhub, kekar otot, minim intelektual sangat di apresiasi.

Jadilah generasi mengikuti kemana angin bertiup, arus mengalir, tekanan berpindah. Hingga remaja menjadi abai terhadap bahaya yang mengancam, karena memang tak kenal akan alarm bahaya. Seharusnya negara berperan menjadi penjaga sekaligus penyelemat generasi. Memberi dukungan nyata pembentukan intelektual pemuda sebagai pemimpin bangsa. Karena negaralah yang punya seperangkat alat yang akan mampu menegakkan visi penyelamatan tersebut.

Tentunya negara yang punya visi penyelamatan generasi adalah negara yang sadar akan visi hidup. Yang menolak kebebasan bercokol dalam masyarakatnya. Mengatur semua hubungan dan interaksi dalam masyarakat dengan aturan yang benar. Negara yang memahami bahwa hidup tak sebatas di dunia, tapia ada pertanggung jawaban di akhirat.Negara yang memiliki visi mulia atas penyelamatan generasi tentunya negara yang mengambil visi hidup Islam. Meletakkan aturan hidup yang menjaga manusia termasuk remaja dari kesia-siaan. Memberikan arah pandang akhirat sebagai tujuan. Seperti yang telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, yang membangun sebuah institusi di Madinah berdasar iman. Lahirlah sosok pemuda tangguh di era itu dengan kemuliaan akhlak dan ketinggian pemikiran.

Genarsi awal Islam adalah generasi yang hanya menatap akhirat sebagai tujuan. Menyiapkan bekal terbaik untuk perjumpaan dengan RabbNya. Sangat haus ilmu, mengejar intelektual untuk kebaikan umat, dan hebat dalam pembelaan terhadap kebenaran. Satu contoh cemerlangnya generasi muslim adalah ulama ternama Imam Syafi’i yang lahir dari peradaban Islam. Di usia 15 tahun imam Syafi’i sudah mengeluarkan fatwa, di saat remaja saat ini baca Al Qur’an saja mungkin terbata-bata.

Untuk kamu remaja, cukup deh, stop being broken, sebelum menyesal di akhir nanti. Hidup kita tak hanya end di dunia. Ada kehidupan abadi setelah kematian. Yuk beruah menjadi remaja muslim, generasi calon pemimpin umat yang sholih dan bertaqwa. Siap?!

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image