Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image A. Fahrur Rozi

English Camp, Jalan Mencebur Diri pada Formaci

Curhat | Thursday, 05 Jan 2023, 10:13 WIB
Mazhab Ciputat/ilustrasi LPM UIN Jakarta

Mengenal Formaci (Forum Mahasiswa Ciputat) adalah keberuntungan sekaligus keresahan. Tepatnya bukan mengenal, tapi dikenalkan. Kebetulan, waktu masih mahasiswa baru (maba, warga Ciputat menyebutnya), salah seorang senior/alumni Formaci yang menjadi Dosen waktu itu mengenalkannya kepada saya.

Keberuntungan dan keresahan. Beruntung karena terbilang sedikit mahasiswa yang dikenalkan langsung oleh alumninya sendiri, keresahan karena terjebak pada ‘iya atau tidak’ untuk berproses di dalamnya. Selama satu tahun terakhir, keresahan itu terus berlanjut. Selalu saja dihadapkan pada pilihan-pilihan, setidaknya pilihan yang kita sebut ‘aktivis atau akademisi’—meski tidak jarang banyak orang yang bisa menggeluti keduanya secara bersamaan.

Formaci tentu memberikan corak tersendiri terhadap potret ekosistem intelektualitas di Ciputat. Tapi sayang, itu pada masanya tersendiri. Kemarin, jauh sebalum saat ini. Ciputat yang kita kenal sekarang, dibangun dalam paradigma baru yang sukses menggeser kiblat keilmuan dalam kancah akademisi kampus di Indonesia. Ciputat pernah menyandang sebagai ‘kiblat keilmuan’ dalam dunia akademisi kita. Itu dulu. Formaci menjadi bagian domain penting dalam membentuk tipologi keilmuan itu.

Tapi dinamika terus berlanjut. Percaturan domain membentuk tipologi akademis tiada henti. Alhasil, Ciputat dikenal dengan tipologi baru. Berbeda dengan dulu. Bukan lagi soal diskusi, literasi, atau ‘gerakan kiri’, melainkan konsolidasi, koordinasi, atau gerakan konfrontasi. Angkringan kopi yang dulunya melahirkan ide pembaharuan, bergeser menghasilkan kepentingan-kepentingan. Dari ihwal idealisme intelektual berubah pada pragmatisme elektoral. Tapi sekali lagi, ini hanya soal dinamika dalam perang membentuk tipologi Ciputat. Ada masanya tersediri, soal yang lalu dan yang depan nanti.

Barang tentu Formaci berada dalam kondisi yang demikian itu. Sejumlah program dan kegiatan yang dimaksudkan mengembalikan ritual intelektual Ciputat patut untuk menjadi perbincangan dalam ruang-ruang yang lebih konkrit dan nyata. Faktanya sekarang, Formaci telah terasingkan dalam angkringan-perbincangan mahasiswa kini. Ia bukan forum yang sehegemonik dan sesentralistik dulu dalam membangun paradigma akademis di Ciputat. Tapi, Formaci tidak larut dengan keadaan. Ia tetap berjuang mengembalikan khitah akademisi yang sempat hilang, melalui kajian, text reading, dan kegiatan rutin lainnya. Ini mengindikasikan bahwa kejayaan masa lalu, bagi Formaci, adalah tanggung jawab moral yang harus dijalankan.

Disclaimer, ini adalah potret subjektif dari ‘orang luar’ bagaimana ia melihat Formaci dan Ciputatnya. Sebagaimana ‘orang luar’, dia pasti sok tau, pesimis, dan skeptisis melihat yang demikian itu. Selanjutnya, sekalipun objektif dan benar adanya, memotret Formaci dari luar dan dari dalam tentulah tidak sama. Potret yang dihasilkan dari penilaian semata dan potret dengan bergelut langsung di dalamnya, itu jauh berbeda. Dan ocehan ini, saya tegaskan, hanya hipotesa yang tidak berdalih.

Itu sekadar disclaimer, biar tidak ada kesalahpahaman, antara siapapun itu dan nantinnya. Di sini saya hanya berusaha membaca keadaan. Saya lanjutkan

Bacaan itu (yang telah saya sampaikan), berhasil mengakhiri keresahan saya. Saya jatuh pada satu pilihan, akhirnya; memilih menjadi bagian dari perjuangan penting memulihkan khitah akademisi, di Ciputat tentunya, melalui ‘kerja-kerja inteletual ala Formacian’. Tapi pilihan itu serasa belum menemukan momentumnya untuk diekspresikan. Malu, sungkan, bimbang. Hanya itu yang ada, terus menggerogoti, tanpa henti. Alhasil, mentok pada harus; dari mana memulai; dengan apa harus memulai, dan; bagaimana cara memulai.

Bak gayung bersambut, Formaci membuka jalan untuk ‘mulai’ itu. Yaa, Formaci mengadakan program “English Camp” untuk mengisi waktu liburan, khusus mahasiswa yang bimbang tanpa kegiatan. Jalan-jalan tidak punya uang, magang tidak cukup pengetahuan, pulang juga masih malu sama kampung halaman.

Akhirnya, ketika saya tahu soal kegiatan “English Camp” Formaci, saya skip semua agenda yang sudah lama direncanakan, jauh ketika sibuknya perkuliahan. Naah, kalo ditanya soal komitmen, inilah komiten saya; mengesampingkan semua agenda yaung udah direncanakan jauh hari, demi memulai untuk bergabung di Formaci. Sangat simpel sebenarnya, tapi semoga dapat mejelaskan. Akhirnya

Berharap “English Camp” bisa menjadi jalan yang benar, jalan untuk memulai, jalan untuk mencebur diri pada Formaci

Ciputat, 05/01/2022

A Fahrur Rozi

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image