Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Pandu Alkautsar

Kongres Halal Internasional 2022 dan Optimalisasi Potensi Halal Dunia

Ekonomi Syariah | Sunday, 04 Dec 2022, 16:29 WIB

Aksi ini tentunya memiliki tujuan yang sangat strategis. Dengan motto "Meningkatkan Kontribusi Produk Halal dan Pariwisata Halal dalam Menjadikan Indonesia Pusat Produsen Halal Dunia", kongres ini merupakan salah satu dukungan MUI kepada pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat Halal dunia. Salah satu agenda kongres ini adalah menyambut baik deklarasi pemerintah bahwa Indonesia akan menjadi pusat halal dunia pada tahun 2024. Seperti yang kita tahu, Indonesia adalah negara besar yang berpotensi menjadi pemasok utama produk halal dan wisata syariah. Kami memiliki sumber daya alam yang melimpah dan personel yang sangat berkualitas. Kita juga memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, yang berpotensi menjadi pasar produk Halal. Kita punya banyak tempat wisata, pantai, pegunungan, konservasi alam, tempat bersejarah, dll.

Sebagai contoh, kami mengutip Laporan Ekonomi Islam Global 2020/2021, yang menyatakan bahwa pengeluaran umat Islam untuk makanan dan minuman halal, obat-obatan dan kosmetik halal, serta perjalanan ramah Muslim dan gaya hidup halal pada tahun 2019 bernilai 2, mencapai $2 triliun. Sedangkan konsumsi produk halal di Indonesia pada tahun 2019 sebesar 144 miliar USD.

Jumlah ini menjadikan Indonesia sebagai konsumen terbesar di sektor ini. Dalam industri pariwisata, Indonesia menempati urutan ke-6 dunia dengan nilai transaksi USD 11,2 miliar. Dalam industri fesyen Islami, total pengeluaran di Indonesia adalah US$16 miliar, dan sektor obat dan kosmetik halal Indonesia menempati peringkat keenam dan kedua dengan total pengeluaran masing-masing US$5,4 miliar dan US$4 miliar. Pemerintah telah merilis roadmap yang bertujuan menjadikan Indonesia produsen halal terkemuka dunia pada tahun 2024. Ada juga banyak kelompok masyarakat dan penggiat Halal. Oleh karena itu, diperlukan sinergi (at-ansiq), kerjasama (at-ta'awun), saling memberdayakan (at-taqwiyah) pemangku kepentingan, pelaku industri, pegiat dan masyarakat luas untuk lebih jauh implementasi segera di Indonesia. pemimpin dunia sebagai produsen halal.

Keesokan harinya, beberapa insiden terjadi di lingkungan sekitar Bangka Belitung. Ini juga merupakan kampanye terkait tempat wisata halal dan pengembangan UMKM Halal di Bangka Belitung. Tujuan utama dari acara tersebut adalah untuk menyatukan para pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun penyelenggara atau penggiat Halal.

Agenda Kongres Halal Internasional menjadi salah satu agenda yang sangat penting, karena nantinya pemangku kepentingan dan penggiat Halal akan bertemu langsung untuk menyetujui kebijakan terkait Halal dan Halal Tourism. Apa yang sebelumnya tidak jelas dapat dipertemukan dan apa yang perlu ditegaskan dalam forum ini dapat dikonsolidasikan. Partisipasi peserta dari Jerman dan luar negeri kali ini juga diperlukan dan sangat penting dalam agenda KHI. Pesertanya antara lain komisi fatwa se-Indonesia, aktivis halal se-Indonesia, LPPOM se-Indonesia, lembaga pengawasan hukum se-Indonesia, pemangku kepentingan halal dan wisata halal se-Indonesia, serta lembaga sertifikasi halal internasional. Kehadiran peserta KHI 2022 dari luar negeri dinilai sangat penting. Industri halal dan wisata halal mancanegara sangat erat kaitannya dengan perkembangan umat Islam dan bangsa lain di dunia. Karena industri halal dan wisata halal juga diminati masyarakat di dunia non muslim. Kita berharap KHI 2022 menghasilkan dan memperkuat resolusi halal global. Resolusi Halal Dunia dapat menjadi ikatan moral dan memperkuat komitmen semua kepentingan. Komitmen ini menghubungkan industri halal, produsen halal, dan pariwisata halal di dalam negeri dan di seluruh dunia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image