Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nurul Aulia Nadhira

Cerita Pendek Berjudul "Permasa"

Sastra | Tuesday, 29 Nov 2022, 21:56 WIB
Sumber foto : pixabay

Desiran angin ringan bertebaran ke seluruh wilayah, mendorong gumpalan awan yang menutupi sang surya dengan menampakan indahnya langit biru milik sang pencipta, sungguh nikmat yang tak terkira.

Di sisi lain terlihat ada seorang perempuan yang berpakaian syar’i tengah bercermin di dalam butik. Ia memandang dirinya dengan sorot mata yang tengah mengobrol dengan pikirannya.

“Risa..” panggil seorang perempuan yang usianya sekitar 30 tahunan yang penampilannya pun menggunakan syar’i. Sontak perempuan tersebut menoleh karena namanya terpanggil. “Iya, ada apa kak Dian?” sahut perempuan yang bernama Risa tersebut.

“Kenapa kamu bengong depan cermin, kakak mau minta tolong sama kamu. Tolong belikan kakak beberapa model kain di tempat biasa sekalian kamu pilihkan kain yang cocok untuk produk terbaru kita nanti.” Ucap Dian sembari memberikan catatan jenis kain dan kartu kredit.

Dengan senang hati Risa menerimanya dan langsung bergegas keluar. Sesaat ketika Risa keluar dari butik, terlihat dari sudut mata kanannya ada yang sedang melihat ke arahnya. Tapi Risa menepis sangkaan itu, mungkin saja itu hanya perasaanya dan langsung bergegas untuk membeli kain.

****

Risa kembali menatap cermin di kamarnya, sekali lagi ia memandangi dirinya dengan mata yang dipenuhi banyak pertanyaan dalam pikirannya. Ketika bertatapan dengan cermin, terkadang Risa selalu teringat dengan masa sekolahnya dulu. Sudah 7 tahun lamanya Risa lulus dari sekolah. Saat itu, Risa merupakan salah satu murid tercantik di sekolahnya dan sering sekali ia mendapatkan pujian dari orang yang melihatnya.

Risa sangat terobsesi untuk selalu tampil cantik, karena itu wajahnya selalu dibumbuhi dengan riasan wajah yang sebenarnya tak terlalu dibutuhkan untuk anak sekolah. Bahkan ia sengaja merombak seragam sekolahnya menjadi ketat sampai terlihat lekuk tubuh idealnya agar kecantikannya terlihat totalitas ditambah dengan rambut lebatnya yang terurai. Tanpa ia sadari hal itu telah menarik syahwat orang-orang yang melihatnya.

Pujian-pujian selalu terlontarkan kepadanya, terkadang ada saja laki-laki yang mencoba mendekatinya. Bahkan ada beberapa dari mereka yang mendekatinya dengan tingkah yang tidak sopan seperti merangkul pinggang, mengusap bokong ataupun pinggul. Untuk sesaat Risa mewajarkan hal tersebut tapi lama kelamaan membuat Risa merasa risih dan tidak nyaman karena tingkah mereka semakin menjadi-jadi.

Akhirnya Risa memutuskan untuk membuang seragam ketatnya dan berpenampilan selayaknya anak sekolah yang lain, tanpa riasan wajah, berpakaian lebih sopan dan tertutup. Lambat laun orang-orang bertingkah lebih sopan dan menghargai dirinya. Setelah lulus dari sekolah, Risa memutuskan untuk menjadi muslimah yang baik dan belajar mendalami ilmu agama di sebuah pondok pesantren. Hal itu ia lakoni selama 6 tahun dan kembali ke kampung halamannya untuk berbagi ilmu-ilmu yang ia dapatkan kepada keluarga dan orang lain terutama anak-anak.

Risa yang sekarang bukanlah Risa yang dulu. Kini keseharian Risa bekerja disebuah butik pakaian muslimah milik kak Dian dan sore harinya ia mengajarkan mengaji anak-anak di pengajian yang ada di kampung halamannya.

Kini usia Risa sudah 26 tahun, usia yang sudah matang untuk membangun mimpi dan memiliki keluarga. Terkadang Risa tak lepas dari pertanyaan-pertanyaan orang maupun tetangga yang selalu menanyakan ‘kapan nikah’, ‘udah ada calon belum?’, ‘kok belum pernah liat pacarnya’, ‘buruan nikah sebelum jadi perawan tua’, dan lainnya.

Walaupun terkesan berekspresi tidak mau menghiraukan tapi dalam hati kecil Risa sempat memikirkannya. Karena sebenarnya ia tak pernah dekat dengan laki-laki lagi setelah lulus sekolah.

Risa pun berdoa dan mendekatkan diri kepada Rabb-Nya agar diberikan petunjuk dan kemudahan dalam mendapatkan jodoh yang baik. Hal tersebut terus Risa lakoni selama enam bulan. Atas izin-Nya, di malam hari, tak lama seorang pemuda datang ke rumahnya yang dihantarkan langsung oleh pak rt.

“Permisi, pak Saryo, bu Asri. Ada pemuda yang menanyakan kepada saya alamat rumah bapak. Katanya ada keperluan yang sangat penting.” Ucap pak rt dan tak lama langsung berpamit untuk pergi setelah menghantarkan pemuda tersebut. Tak lupa pemuda tersebut mengucapkan terima kasih kepada pak rt.

Orang tua Risa menyambut ramah tamunya itu dan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam ruang tamu. Pemuda berkumis tipis berparas rupawan dengan penampilan yang sederhana datang dengan membawa sebuah hajat dan tujuan yang baik.

“Assalamualaikum, bapak, ibu. Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengganggu waktunya. Perkenalkan nama saya Ardi, saya datang kemari membawa niat yang baik yaitu melamar putri bapak dan ibu,” jelas pemuda yang bernama Ardi tersebut.

Sontak hal itu membuat orang tua Risa kaget sekaligus merasa senang karena sudah waktunya untuk purti mereka berkeluarga.

“Apakah kamu kenalannya purti saya, nak?” tanya pak Saryo.

“Bukan, pak. Tapi saya sering melihat putri bapa di butik pakaian muslimah dekat persimpangan jalan dan kebetulan saya tinggal di daerah tersebut walaupun sebenarnya saya hanyalah anak yang merantau kemari.” Jelas pemuda yang bernama Ardi tersebut. “Sejak saat itu saya mengumpulkan niat dan bertekad untuk mempersunting putri bapak.” Tambahnya.

Sejenak pak Saryo dan bu Ratih saling menatap satu sama lain, tak lama putri mereka pulang setelah mengajarkan mengaji anak-anak di pengajian.

“Assalamualaikum.” Salam Risa ketika masuk ke rumahnya dan terlihat orang tuanya sedang kedatangan seorang tamu. Bu Ratih berjalan menghampiri Risa dan mengajaknya bergabung ke ruang tamu.

“Ini Risa putri kami satu-satunya.” Ucap pak Saryo sembari memperkenalkan mereka berdua. Risa yang masih dengan wajah kebingungan ikut duduk di samping ibunya. Kemudian sang ayah perlahan menjelaskan kedatangan pemuda tersebut kemari kepada Risa. Setelah mendengar semuanya, Risa sedikit tertegun dan bingung karena ada pemuda asing melamarnya. Risa menunduk sesaat kemudian menatap kedua orang tuanya dan tersenyum yang menandakan bahwa ia menerima lamaran pemuda itu.

****

Seminggu kemudian, pernikahan tersebut diselenggarakan di kampung halaman Risa. Para kerabat, teman-teman, dan para warga ikut hadir dalam acara pernikahan itu. Mereka sangat antusias menyambut besan dari pihak mempelai laki-laki karena sudah waktunya proses pengucapan ijab qobul.

Satu jam sudah berlalu, rombongan besan masih belum terlihat. Tak lama seorang pemuda datang sendirian dengan menggunakan pakaian khas pernikahan. Dia adalah Ardi yang datang tanpa ditemani pihak keluarga. Para tamu serta warga sedikit terkejut dan merasa keheranan dengan apa yang mereka saksikan.

Ardi berjalan mendekati pak Saryo yang ada didekat meja akad nikah, sontak pak Saryo pun langsung bangun dan ikut menghampirinya.

“Kenapa kau datang sendirian, nak? Dimana keluargamu” tanya pak Saryo yang tengah keheranan juga.

“Saya sudah datang, pak dan saya akan menikahi putri bapak.” Ucap Ardi dengan sigap.

“Di mana keluargamu?” tanya pak Saryo sekali lagi.

“Saya sudah siap menikahi putri bapak. Restu orang tua saya hadir dengan saya dan mereka memberikan ini sebagai mahar.” Jelas Ardi sembari menunjukan cincin yang sedari tadi berada dalam genggamannya. “Apakah bapak akan tetap meridhoi saya dan Risa?” tambahnya.

Pak Saryo terdiam. Kemudian melihat ke arah Risa yang berada di jendela kamarnya menggunakan pakaian pengantin yang sedari tadi ikut menyaksikan dan mendengarkan obrolan ayah dan calon suaminya itu. Pak Saryo menatap nanar putrinya itu. Risa pun menatap ayahnya kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya menandakan ia tetap setuju untuk menikah dengan Arya. Setelah itu ayahnya membalas tersenyum dan kemudian menghantarkan Arya ke meja akad nikah.

Proses akad nikah berlangsung dengan hikmat ketika Arya mengucapkan ijab qobul dengan penuh keyakinan. Kini Arya dan Risa telah resmi menjadi suami istri yang sah.

Risa mencium tangan suaminya untuk pertama kali. Kemudian Arya mengusap kepala Risa dibagian ubun-ubun dengan tangan kirinya. Tangan kanannya ia gunakan untuk mendoakan keberkahan istrinya setelah itu mencium kening istrinya.

****

Esoknya setelah acara pernikahan tersebut selesai, Risa dan keluarga kedatangan rombongan orang-orang dengan belasan mobil datang ke daerahnya. Tak lama turunlah laki-laki paruh baya yang memakai gamis laki-laki/tog dan ternyata itu adalah Kyai H.Abdul Majid bersama istri serta para santrinya. Beliau adalah guru besar pemuka agama di daerah Garut, sontak Risa dan keluarganya serta para warga yang melihat itu sangat terkejut. Bagaimana bisa dan dengan tujuan apa seorang pemuka agama datang kemari.

“Assalamualaikum” Ucap salam Kyai H.Abdul Majid setalah tiba di depan rumah Risa yang diikuti para rombongan yang membawa parsel hantaran untuk mempelai perempuan.

“Waalaikumussalam” Jawab pak Saryo dan kerabat menyambut ramah para rombongan tersebut serta mempersilahkannya untuk masuk ke dalam rumah.

Kyai H.Abdul Majid menyampaikan tujuannya datang kemari karena sebenarnya mereka adalah orang tuanya Ardi. Mereka juga meminta maaf karena tidak bisa hadir dan menemani Ardi diacara pernikahannya kemarin. Hal itu disebabkan karena rombongan tersebut sedang dalam perjalanan dan terjebak macet yang cukup lama sehingga tidak bisa datang tepat waktu ke acara pernikahan kemarin.

Risa dan keluarganya masih terkejut dengan situasi ini, namun akhirnya semuanya telah terjawab dengan jelas. Karena sebelum pernikahan orang tua Ardi dan orang tua Risa tidak pernah bertemu sebelumnya komunikasi mereka dihubungkan melalui Ardi. Ardi pun tak pernah menceritakan siapa dirinya dan orang tuanya. Situasi tersebut pun berubah menjadi hangat dengan terjalinnya hubungan antara 2 keluarga.

Kini Risa sudah menjadi seorang istri, sudah kewajibannya mematuhi suami. Risa pun telah mengetahui bahwa orang yang sering melihatnya dulu di ujung jalan dekat butik, itu adalah Ardi, suaminya. Risa selalu bersyukur akan nikmat yang diberikan sang pencipta. Kesempatan dan Ridho-Nya selalu melimpah tiada tara.

Risa kini tinggal di kampung halaman suaminya di Garut dan ikut serta membantu mengajarkan dan mengembangkan ilmu di pondok pesantren milik ayah suaminya. Terkadang Risa dan Ardi mengadakan pengajian di rumah mereka untuk anak-anak kecil.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image