Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nay Beiskara

Ledakan Disforia Gender Anak di Barat

Agama | Monday, 28 Nov 2022, 15:21 WIB
Sumber: Emergency-live.com. Ilustrasi untuk disforia gender.

Republika.co.id (27/11/2022) melansir dari the Guardian perihal keterkejutan seorang psikiatris yang biasa menangani masalah gender akan fenomena disforia gender di kalangan anak-anak yang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir ini Inggris, Amerika, dan Swedia. Pasalnya, selama 17 tahun ia membuka konsultasi, 5 tahun terakhir sekitar 5 persen pasiennya terutama anak perempuan berusia 12-13 tahun menginginkan mengganti gendernya. Tidak hanya mengubah nama, mereka juga mendesak untuk menjalani proses penekanan hormon dan pubertas. Bagi perempuan, proses penekanan hormon dan pubertas ini bertujuan untuk menumbuhkan ciri-ciri maskulin dengan menahan pertumbuhan payudara, sedangkan bagi laki-laki memunculkan ciri-ciri feminin seperti mencegah pertumbuhan jakun.

FDA sebagai lembaga administrasi untuk obat-obatan dan makanan di AS belum menyetujui penyuntikan obat penghambat pubertas karena dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah psikiatrik, semisal bunuh diri, autisme, dan ADHD. Hal ini didukung oleh pernyataan Erica Anderson, seorang psikolog klinis yang sempat bekerja di klinik gender di Universitas Kalifornia dan Laura Edwards-Leeper dari Oregon (Republika.co.id, 27/11/2022).

Adanya peningkatan kasus disforia gender di kalangan anak-anak di beberapa negara Barat bukanlah sesuatu yang mengherankan dan mengejutkan. Karena sejatinya, mereka sendirilah yang membuat fenomena ini terjadi. Maraknya wacana LGBT dengan menggunakan berbagai sarana media, seperti platform media sosial, film, komik dan buku-buku di perpustakaan umum sekolah, musik, pendirian komunitas-komunitas kaum pelangi, serta pelegalan LGBT dalam UU Barat atas nama HAM, menjadikan para generasi muda di sana amat terpengaruh dan akhirnya mengadopsi ide tersebut. Bukan hanya negara sebagai institusi terbesar, tetapi hingga level keluarga sebagai institusi terkecil di masyarakat mendukung ide ini. Inilah dampak dari penerapan sistem sekuler di Barat yang mengagung-agungkan kebebasan berekspresi dan bertingkah laku. Dampak yang menjadikan mereka terheran-heran dan kebingungan sendiri mengapa bisa hal yang demikian buruk terjadi.

Sebagai Muslim, tentu kita bersyukur bahwa Islam telah mengajarkan bagaimana sebuah keluarga sebagai benteng terakhir harus memiliki ketahanan terhadap ide liberal semacam ide LGBT. Keluarga Muslim, terutama orang tua harus mendorong setiap anggota keluarganya untuk memiliki ketakwaan dan terikat dengan hukum syarak. Terlebih lagi, Allah Swt. telah mewanti-wanti agar setiap Muslim tidak mendekati perbuatan kaumnya Nabi Luth as. yang menghalalkan hubungan sejenis. Allah Swt. yang Maha Mengetahui tentu memahami implikasi apa yang akan terjadi bila LGBT dilegalkan dan marak dikampanyekan. Walaupun dalam penerapan sistem kehidupan yang sekuler seperti saat ini tidak menutup kemungkinan keluarga Muslim dan generasi mudanya turut terpengaruh.

Karenanya, sebagai Muslim kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga keluarga kita dari serangan ide-ide Barat yang merusak. Caranya adalah dengan meningkatkan ketakwaan, mengajak masyarakat untuk turut menjaga generasi muda Muslim, dan mengoreksi penguasa bila ada kebijakan-kebijakan yang hendak melegalkan ide-ide liberal, termasuk di dalamnya LGBT. Wallahua'lam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image