Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Kamil

Terkait Resesi, Perbankan Harus Bangun Optimisme Nasabah

Ekonomi Syariah | Thursday, 17 Nov 2022, 16:18 WIB

Apakah Indonesia akan mengalami resesi? Dunia kini tengah dilanda kekhawatiran akan terjadi badai resesi di tahun 2023. Semua pihak harus tenang menghadapi isu resesi global 2023.

Bayangan resesi kian terasa semakin dekat ketika Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan sepertiga ekonomi di dunia telah mengalami resesi atau pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut-turut. Hal itu tentu membuat para investor di Indonesia mulai merasa was-was akan gelapnya kondisi perekonomian di Tanah Air.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Made Gitanadya Ayu Ariani, sebagaimana diberitakan Republika.co.id pada Rabu 2 November 2022 menyarankan semua pihak untuk menghadapi situasi ini dengan kepala dingin. Bukan hanya tantangan, Resesi harus diposisikan sebagai peluang untuk membuat inovasi dan mengambil manfaat dari hal tersebut.

Sektor perbankan terbilang aman, karena usaha perbankan di Indonesia diatur dan diawasi sangat ketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Terlebih saham-saham blue chip atau saham dari perusahaan besar memiliki pendapatan stabil.

Heaf of Macroeconomics & Financial Research Bank Syariah Indonesia Kahfi Riza menjelaskan adanya nasabah di tempatnya yang bertanya tentang resesi. Berdasarkan data yang dihimpunnya, probabilitas resesi memang meningkat. Negara-negara seperti Jerman, Rusia, Inggris, Italia, berada di angka 20 persen probabilitas mengalami resesi.

Bagaimana dengan Indonesia? “Probabilitasnya 5 persen. Bagaimana bisa? Karena fundamental ekonomi kita kuat. Indonesia lebih tahan dari probabilitas terjadinya resesi,” kata Kahfi dalam acara Workshop BPD Syariah to The Next Level yang diselenggarakan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) di Bandung pada Kamis (17/11).

Penjelasan informasi semacam itu menurutnya diperlukan untuk disampaikan kepada nasabah yang mempertanyakan soal resesi. Mereka harus mendapatkan data dan analisis yang menunjukkan optimisme menghadapi situasi tersebut.

“Kami memberikan informasi yang simetris dan berimbang terkait hal ini agar mereka tercerahkan dan percaya diri,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga menjelaskan, fundamental ekonomi Indonesia sangat baik meskipun perekonomian dunia tengah bergejolak. Ekonomi tumbuh positif di angka 5,44 persen pada kuartal II 2022. Sedangkan neraca perdagangan mengalami surplus selama 27 bulan berturut-turut. Bahkan pada semester I 2022, surplus neraca perdagangan mencatatkan hingga sekitar Rp 364 triliun.

Pengelola Bank Pembangunan Daerah diharapkan mampu memandang tantangan resesi 2023 sebagai peluang. Bersama nasabahnya, mereka dapat lebih maksimal membangun kolaborasi membangun ekonomi di daerah masing-masing.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image