Peluang Ekonomi Mikro Menggunakan Bahan Yang Tidak Terpakai

Image
Latipah Lala
Bisnis | Friday, 07 Oct 2022, 21:04 WIB

“Kira-kira apa ya yang harus dilakukan setelah masa pandemi ini, dimana semua cenderung harga melambung naik dan pendapatan malah menurun” kira-kira itu kata yang terucap oleh sebagian banyak manusia setelah melewati masa pandemi.

Setelah pandemi, saat ini sekolah sudah kembali kegiatan belajar normal dan sudah mulai banyak juga wali murid yang menunggu anaknya sampai pulang sekolah, termasuk di TKQ Nurhasanah di Karangmulya RW 02 Desa Karangmulya Kecamatan Telukjambe Barat Kabupaten Karawang. Banyak wali murid menunggu anaknya sampai 2 jam 30 menit disana, tapi banyak sekali waktu yang sia-sia hanya dilakukan untuk mengobrol sampai anak pulang.

Kami mahasiswa KKN yang bertugas di RW 02 berinisiatif untuk mengisi waktu luang wali murid agar waktu menunggu anak tidak terbuang sia-sia dengan menciptakan peluang ekonomi mikro menggunakan bahan yang sering orang lain buang yaitu kain sisa penjahit atau kain baju yang sudah tak terpakai atau disebut kain perca untuk dibikin bros, yang biasa digunakan sebagai aksesoris sebagai pemanis hijab, yang biasa digunakan untuk sehari-hari ataupun acara penting.

Selama ini kebiasaan sebagian besar warga mengakhiri kain-kain sisa menjahitnya dengan cara dibuang begitu saja dan juga jika ada baju yang sudah tidak terpakai kadang kita buang walaupun kainnya masih layak. Hal tersebut diakui oleh kalangan wali murid di TKQ Nurhasanah saat Kami Mahasiswa KKN RW 02 STIT Rakeyan Santang melakukan identifikasi.

Setelah melakukan identifikasi Kami kelompok KKN RW 02 dan Dosen Pembimbing Lapangan Bapak Yudi telah melakukan sosialisasi untuk mengumpulkan kain-kain tidak terpakai dan baju tidak terpakai untuk kita jadikan bros atau aksesoris kerudung.

Dengan mengumpulkan kain-kain tidak terpakai kita akan mengisi waktu 2 jam 30 menit wali murid untuk memanfaatkan waktunya yang tadinya hanya untuk mengobrol menjadi kegiatan yang bermanfaat dan juga bisa menjadi nilai tambah dan pemasukan untuk jajan anak.

Pertama kita mempraktekan bagaimana caranya supaya kain-kain tersebut bisa menjadi bros, caranya:

1. Mengumpulkan kain-kain yang sudah tidak terpakai, setelah dikumpulkan

2. Kain tersebut digunting segiempat kecil atau sesuai selera, lalu

3. Lipat menjadi segitiga dan lipat lagi menjadi segitiga (terbentuklah segitiga kecil), kemudian

4. Lipat menjadi seperti kelopak bunga atau daun bunga atau sesuai selera, lalu

5. Jahit sampai kain berbentuk, lakukan berulang sampai mendapatkan banyak

6. Setelah kain sudah banyak menjadi kelopak-kelopak bunga lalu digabung agar bisa menjadi bunga

7. Ditempel dengan lem tembak, lalu dihias dengan Pernak-pernik tambahan

8. Jadilah bros dari kain tak terpakai atau sering disebut kain perca.

Selain banyak bahan kain tak terpakai membuat bros dari kain perca mudah dan banyak peminatnya karena target kita adalah wanita berhijab, sekarang kebanyakan wanita berhijab di Karawang. Dan bahan-bahan tambahannya pun hanya sedikit, hanya butuh: jarum jahit, benang jahit, lem tembak dan pernak-pernik.

Bahan-bahan tersebut sudah mudah didapatkan dan harganya pun miring. Setelah jadi menjadi bros kita bisa jual 1 bros dengan harga 3000 sampai 5000/per bros. Jika wali murid ada 30 orang dalam satu pertemuan saja wali murid menghasilkan 2 bros per orang berarti dalam satu hari mendapatkan 60 bros, berarti mendapatkan 180.000/perhari, hanya dikurang modal membeli alat tambahannya seperti pernak-pernik dll.

Alat dan bahan membuat bros dari kain perca atau kain yang tidak terpakai (Dok. Pribadi)
Pelatihan membuat bros dari kain perca RW 02 Desa Karangmulya-Telukjambe Barat (Dok. Pribadi)
Membuat bros dari kain perca RW 02 Desa Karangmulya-Telukjambe Barat (Dok. Pribadi)
Memproduksi bros dari kain perca RW 02 Desa Karangmulya-Telukjambe Barat (Dok. Pribadi
Menjual bros dari kain perca RW 02 Desa Karangmulya-Telukjambe Barat (Dok.Pribadi).

Hasil penjualan bros bisa menjadi pendapatan tambahan untuk wali murid setelah masa pandemi ini dan bisa memanfaatkan waktu 2 jam 30 menit dengan sebaik mungkin.

Penulis : Latipah, Rahmat, Zakia difa dan Husnul hotimah (kelompok 2)

DPL : Yudi Wahyu Widiana S. Pd.,M.Pd

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Mahasiswi Prodi Bidan Unisa Yogya Raih Juara 1 Puisi Tingkat Nasional

Image

Kesekian Kali

Image

Puskesmas Terbaik DKI Jakarta Berdasarkan Review Terbaru

Image

Ruang Lingkup Morfologi

Image

Pengaruh k-pop terhadap remaja

Image

Prodi Hukum Bisinis Unismuh Makassar Siap Gelar Kuliah Perdana Awal Desember

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image