Agama Sebagai Kebudayaan Bangsa

Image
Muhammad Fadilah
Agama | Friday, 12 Aug 2022, 15:10 WIB

Para filsuf, sosiolog, psikologi, dan teolog memberikan pengertian agama menurut caranya masing-masing dan sesuai dengan tujuan masing-masing. Sebagaian filsuf menafsirkan agama sebagai “superstitious structure of incoherent metaphysical notions”. Secara sederhana, agama diartikan sebagai struktur takhayul terkait paham metafisis yang tidak beraturan. Artinya, agama hanya dapat diyakini tanpa mampu dijelaskan secara sistematis. Agama bersemayam pada tatanan faktual, ada dalam ranah kepercayaan. Secara umum, agama dapat dijelaskan melalui bentuk-bentuk yang dapat dicirikan secara khas darpada mendefinisikan agama dengan menitikberatkan kepercayaan dan aktivitas manusia yang ritualistik, misalnya aktivitas agama seperti kebaktian, profesi shalat jumat, pemisahan antara yang sekral dan yang profane, kepercyaan terhadap roh, dewa-dewa atau tuhan, juga penerimaan atas wahyu Tuhan yang supranatural.

Setidaknya ada dua hal utama yang dapat menjelaskan apa itu agama, yaitu nilai suci yang astral atau sifat kudus dari agama dan praktik-praktik ritual dari agama. Dari anggapan tersebut secara tersirat bahwa agama sangat dekat dengan budaya jika sisi tijauannya adalah peleburan ritual dan nilai. Pada dasar, agama tidak harus melibatkan konsep astral, rohani, dan supranatural, tetapi agama budaya tidak dapat dilepaskan dari hal-hal tersebut karena ia akan menjadi “buka agama” lagi ketika salah satu unsur tersebut terlepas. Agama dan kebudayaan merupakan dua persoalan yang sangat dekat di masyarakat. Beberapa anggapan salah mengartikan bahwa agama dan kebudayaan merupakan satu ketersalingan yang utuh. Dalam kaidah emas, agama, dan kebudayaan mempunyai kedudukan berbeda, ada pembatas yang memebedakan, dan karenanya kedua hal tersebut tidak dapat disertakan. Bagi penulis, agamalah yang mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada kebudayaan, namun keduanya memiliki ketersalingan yang tidak dapat dipisahkan dalam ritual masyarakat. Agama bisa disebut sebagaia atap dari seluruh kebudayaan.

Beberapa praktik keagamaan pun bisa dikatakan sebagai kebudayaan. Contohnya, di Aceh ada peuseujuk atau kenduri syukur, di Jawaada tahlilan. Kenduri adalah kebudayaan, tetapi konsep substansial dalam kenduri adalah adaptasi dari nilai keagamaan. Demikian juga dengan tahlilan, proses tahlil atau kegiatan tahlil merupakan tindakan kebudayaan, tetapi substansial yang ada dalam nilai tahlil merupakan nilai keislaman. Dengan demikian, dapat direfleksikan bahwa budaya yang dimotori oleh agana timbul dan tumbuh berkembang dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama, tetapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, dalam hal ini adalah tokoh-tokoh pada masa kenabian penerima kita suci. Misalkan, Al-Quran mengisahkan banyak pelajaran dari manusia-manusia terdahulu, baik berisi contoh untuk kebaikan maupun keburukan.

Penulis : M.Fadilah Perdana

Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi

FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Lapas Batu Ikuti Sosialisasi Penyusunan SKP Secara Daring

Image

Cara Dapat Barang Gratis di Akulaku Tanpa Undang Teman

Image

Kejujuran Adalah Bekal Hidup Mu Nak

Image

Game Online PC Gratis Yang Wajib Kamu Mainkan Sekarang!!

Image

Kemenkumham Jateng Siap Diaudit BPK RI

Image

Masa Berlaku Paspor Kini 10 Tahun, Imigrasi Siapkan Juknisnya

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image