Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jihan M

Kisah Lentera di Tengah Rembang Petangnya Sukabumi

Edukasi | Wednesday, 10 Aug 2022, 10:54 WIB

Innalillahi wa inna ilaihi roo ji’un, telah berpulang Ibu Savitri Mutia Agustine, S.Pd pada jam 11.35 di RS Al Mulk Lembur Situ. Semoga almarhumah diterima iman dan islamnya dan diampuni segala kealfaannya, aamiin..”

Bunyi pesan di dalam Komunitas One Day One Post sore itu membuat saya terhenyak. Antara percaya dan tidak. Bahkan saya sempat berpikir, mungkin yang dimaksud Ibu dari Teh Ivieth ya?

Lalu saya bertanya pada Bang Yonal yang kebetulan satu kota dengan Teh Ivieth,

“Bang, itu maksudnya Ibunya Teh Ivieth kan?”

“Teh Iviethnya Kak Jihan yang meninggal..”

Saya langsung duduk tegak dari posisi tiduran. Sosok Teh Ivieth yang sempat berkomunikasi dengan saya melalui pesan Whatsapp beberapa waktu lalu itu langsung berkelebat di dalam kepala.

Menjelang duhur, 1 Agustus2022 lalu, Savitri atau yang biasa kami panggil Teh Ivieth mengembuskan nafas terakhir di RS Al-Mulk. Semula Teh Ivieth hanya mengeluh sakit maag, tapi kemudian muntah-muntah dan pingsan. Tiba di rumah sakit, Teh Ivieth kembali muntah dan mengeluarkan darah dan ada indikasi stroke. Begitu penjelasan suami Teh Ivieth.

Teh Ivieth, begitu saya memanggilnya, adalah pendiri Taman Baca Masyarakat (TBM) Ma’murina di daerah Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi.

Mengenal Taman Baca Masyarakat (TBM) Ma’murina, Salah Satu Lentera Sukabumi

Suasana di TBM Ma’murina (source : instagram.com/tbm.mamurina)

Kalau mengingat Teh Ivieth saya jadi mengingat pula Taman Baca Masyarakat (TBM) yang beliau dirikan untuk anak-anak di sekitar rumahnya. Semuanya gratis, semata untuk menumbuhkan kebiasaan gemar membaca di lingkungannya.

Meskipun saat ini begitu banyak akses untuk buku digital, TBM Ma’murina salah satu satu contoh TBM yang masih eksis dengan berbagai kegiatan di dalamnya. Tidak hanya membaca, Teh Ivieth juga memberikan tambahan pelajaran gratis untuk anak-anak SD hingga SMP yang membutuhkan. Siapa sangka TBM rintisan Teh Ivieth ini ternyata sudah begitu banyak dikenal oleh berbagai komunitas literasi di Indonesia lho.

Saat mengikuti kelas blogger bersama saya, ingat sekali Teh Ivieth baru saja membuat website untuk Taman Baca Masyarakat Ma’murina rintisan beliau itu agar lebih dikenal oleh masyarakat di luar Kota Sukabumi. Sehingga akan ada banyak orang yang merasakan manfaat dari berdirinya Taman Baca Masyarakat tersebut.

Kelas Inspirasi bersama @kak_ojan dipandu kak @marlinaayuu Tetap semangat, walau ditengah hujan dan keterbatasan ruang, anak-anak soleh solehah, didampingi Kakak-kakak relawan TBM Ma'murina (Januari 2021)

Nampak sekali kesungguhan, keikhlasan, serta kerja keras Teh Ivieth untuk anak-anak didiknya di TBM Ma’murina. Jujur saja, merintis dan merawat TBM bukanlah hal yang mudah. Apalagi mengembangkannya hingga punya situs website sendiri seperti profesional. Saat sesi ngobrol melalui aplikasi Whatsapp, teh Ivieth ingin sekali memanfaatkan internet cepat untuk mengembangkan Taman Baca Masyarakat-nya itu.

Terbukti berkat internet cepat dari IndiHome Telkom Group, saya juga tahu bahwa Teh Ivieth memerlukan banyak buku untuk TBM-nya. Bersyukur sekali dengan kehadiran internet cepat, kami bisa saling bersilaturahmi meski hanya lewat dunia maya. Tak mampu menggenggam tangan dan memeluk Teh Ivieth, namun semangatnya itu selalu saya rasakan ketika membaca sebuah buku.

Belakangan TBM Ma’murina juga telah banyak menerima donasi buku. Mulai dari perusahaan, hingga bantuan buku dari berbagai lapisan masyarakat. Tak jarang pula Teh Ivieth “memberikan” buku-buku dengan judul yang sama untuk pengembangan TBM lain di seluruh Indonesia. Orang bilang, take and give. Apa yang diterima Teh Ivieth akan selalu dikembalikan lagi untuk masyarakat sekitarnya.

Seorang anak yang diasuh oleh teh Ivieth sedang membuat skenario video pendek di TBM Ma’murina

Tidak hanya menumbuhkan semangat gemar membaca, namun TBM Ma’murina juga menjadi tempat untuk berekspresi untuk pelajar di sekitarnya. Mereka belajar soal public speaking, belajar mengatur suatu acara, dan hal-hal yang mungkin tidak didapatkan di sekolah formal.

Setitik Harapan dari Taman Baca Masyarakat Ma’murina Setelah Kepergian Teh Ivieth

Kegiatan Read Aloud di TBM Ma’murina

Jujur saja, adanya TBM Ma’murina yang didirikan oleh Teh Ivieth tersebut di atas sedikit banyak menggugah semangat saya untuk melakukan hal yang sama ketika nanti hunian baru kami telah selesai dan siap ditempati. Bayangkan ada berapa banyak kebaikan yang mengalir dari sana.

Kalau Teh Ivieth ingin mendapatkan amal jariyah dari buku-buku di TBMnya, saya pun ingin begitu. Punya banyak buku, menyimpannya di rak-rak yang kadang dibiarkan berdebu, tentu akan lebih membahagiakan dan lebih bermanfaat nantinya.

Apalagi jika Taman Baca Masyarakat tersebut bisa menjadi Pusat Sumber Belajar anak-anak di sekitar rumah. Tak perlu buku yang baru, saya sudah membayangkan memesan buku loak yang banyak sekali beredar di internet. Melalui internet cepat, insya Allah Taman Baca Masyarakat yang kita inginkan akan lebih mudah mendapatkan supply buku-buku terbaru, bekas maupun buku-buku lawas.

Nantinya saya juga ingin mengkampanyekan perpustakaan digital agar anak-anak atau pengguna Taman Baca Masyarakat tidak hanya memanfaatkan gadget sebagai alat komunikasi maupun hiburan, tapi juga untuk mengakses buku digital. Sehingga budaya gemar membaca bisa diterapkan pada siapa saja, bahkan generasi Z yang disebut-sebut sebagai generasi yang malas membaca.

Masa iya kita tidak mau mematahkan penelitian yang digarap bertahun-tahun lalu itu? Jangan biarkan Teh Ivieth berjuang sendirian dan hanya meninggalkan kenangan. Beliau yang merintis, tugas kitalah yang melanjutkan. Semoga Taman Baca Masyarakat seperti Ma’murina semakin banyak tersebar di negeri ini.

Saya yakin ada begitu banyak orang baik dan peduli terhadap literasi dan masa depan bangsa ini seperti Teh Ivieth. Ada banyak Taman Baca Masyarakat lain di luar sana yang memiliki visi dan misi yang serupa. Kalau kita belum bisa merintis, setidaknya kita membantu menyebarluaskan. Manfaatkan teknologi dan internet cepat dari IndiHome agar kebaikan untuk literasi negeri ini tersebar lebih luas lagi.

Yuk jangan biarkan kebaikan berhenti sampai di sini. Kita teruskan perjuangan Teh Ivieth yang telah tiada, mari nyalakan lentera di tengah rembang petangnya tanah air Nusantara dengan semangat gemar membaca.

Sumber gambar : instagram.com/tbm.mamurina

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image