Milenial, Industri Syariah dan Penguatan Literasinya

Image
Moh. Rasyid
Lomba | Thursday, 25 Nov 2021, 17:46 WIB
Foto: Republika/Wihdan Hidayat

Pengembangan industri syariah/halal di Indonesia sesungguhnya tidak tersekat oleh entitas apapun, termasuk oleh perbedaan status gender dan usia. Laki-laki, perempuan, kaum tua maupun kaum muda sama-sama mengemban tanggung jawab sosial-keagamaan untuk mengembangkan potensi syariah yang dimiliki Indonesia.

Tapi karena kaum muda atau kaum milenial relatif bisa lebih adaptif dengan perkembangan zaman, praktis mereka mempunyai potensi lebih untuk mengembangkan potensi syariah di tengah zaman yang terus bergerak maju secara dinamis. Di sini relevansi kaum milenial dengan industri syariah berada. Alasan ini yang mendorong saya untuk mengedepankan peran milenial dalam pengembangan industri syariah.

Dalam kondisi di mana keniscayaan modernisasi-industrialisasi global tidak bisa kita tolak, generasi milenial tidak boleh tinggal diam. Sebisa mungkin mereka harus memainkan "peran" sebagai bagian dari tanggung jawab sosial-keagamaannya. Peran milenial yang dimaksud tidak cukup sekedar ikut memanfaatkan platform-platform internet untuk kegiatan bisnis, tapi sekaligus merealisasikan sebuah “nilai” dalam berbisnis yang berbasis digital.

Kaum milenial, khususnya yang beragama Islam, harus mengkampanyekan nilai-nilai syariat Islam melalui aktivitas bisnis yang sudah begitu berubah. Karena bagaimana pun, Islam sebagai “sistem sosial” yang utuh perlu memberi rambu-rambu terhadap perkembangan itu agar penyelenggaraannya benar-benar bermanfaat sebagaimana Islam hadir sebagai rahmat bagi semesta alam. Inilah sesungguhnya cita-cita ideal ekonomi syariah.

Potensi dan Perkembangan Industri Syariah

Indonesia memiliki lembaga bernama Dewan Syariah Nasional (DSN). DSN adalah lembaga bentukan MUI yang mempunyai otoritas dalam bidang ekonomi syariah. Sejak berdirinya pada tahun 1999 hingga hari ini, DSN-MUI telah mengeluarkan sebanyak 138 butir fatwa. Fatwa-fatwa tersebut mengatur aktivitas ekonomi umat Islam Indonesia agar tetap berada pada rel syariat Islam. Sesuai dengan visi DSN-MUI, yaitu mensyariahkan ekonomi masyarakat dan memasyarakatkan ekonomi syariah.

Indonesia memiliki potensi industri syariah yang besar dan oleh karena itu memang harus direncanakan dan dipersiapkan secara serius regulasinya. Bukti riil besarnya potensi industri syariah yang paling mendasar adalah mayoritas penduduknya beragama Islam. Per tahun 2021, jumlah penduduk muslim Indonesia mencapai 87,2% dari populasi. Dengan begitu, bisa dipastikan sebagian besar dari 25,87 (data BPS, 2021) jumlah kaum milenial Indonesia juga beragama Islam. Ini sebuah potensi besar bagi Indonesia untuk mengembangkan sektor keuangan dan ekonomi syariah, sehingga bisa berkontribusi terhadap keuangan inklusif dan pembangunan ekonomi nasional.

Menariknya, industri syariah Indonesia tidak hanya berupa keuangan syariah atau produk konsumsi seperti makanan-minuman halal, tapi juga meliputi industri jasa pariwisata syariah/halal sejak pencanangan Indonesia Halal Expo pada tahun 2013. Selang tiga tahun berikutnya, DSN-MUI sebagai mitra pemerintah mengeluarkan Fatwa No. 108 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pariwisata Berdasarkan Prinsip Syariah.

Dalam kaitannya dengan aktivitas bisnis berbasis teknologi informasi seperti jual beli online, kita juga sudah memiliki perangkat regulasinya, yaitu Fatwa DSN-MUI No. 117 Tahun 2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah. Selain itu, hari ini juga berkembang uang elektronik di mana regulasi syariahnya secara normatif tertuang dalam Fatwa DSN-MUI No. 116 Tahun 2017 tentang Uang Elektronik Syariah.

Jelaslah bahwa perkembangan industri syariah sekaligus transformasi akad-akad transaksinya yang berbanding sejajar dengan perangkat regulasinya memang benar adanya. Kenyataan ini harus disikapi secara positif oleh kaum milenial. Lantas, bagaimana kaum milenial menyikapinya?

Optimalisasi Peran

Ada dua langkah minimal yang bisa saya ajukan sebagai jawaban dari pertanyaan di atas. Pertama, penguatan literasi syariah di kalangan milenial. Tentu kita semua sepakat bahwa perkembangan industri syariah tidak bisa berjalan baik tanpa bekal literasi yang memadai. Secara umum, berdasarkan hasil survei Program for International Student Assessment yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development tahun 2019, tingkat literasi Indonesia masih sangat rendah, yaitu berada pada ranking ke 62 dari 70 negara.

Kondisi itu juga yang agaknya mendorong Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama merilis Buku Saku Halal pada 7 September 2021 lalu. Tujuannya, jelas untuk meningkatkan literasi kita tentang syariat Islam khususnya dalam hal mengkonsumsi dan memproduksi produk-produk halal menurut syariat Islam dan sains.

Langkah minimal yang bisa ditempuh milenial dalam meningkatkan literasi syariah, selain memperkuat pemahaman terhadap Buku Saku Halal, adalah memahami fatwa-fatwa DSN-MUI yang bisa diakses secara mudah dan bebas di website resminya. Rekomendasi ini tentu atas pertimbangan bahwa fatwa-fatwa DSN-MUI merupakan satu-satunya regulasi normatif (syar’i) ekonomi syariah di Indonesia yang bersifat semi-formal dan mempunyai garis kemitraan dengan pemerintah.

Kedua, optimalisasi peran milenial dalam mengkampanyekan industri syariah melalui teknologi informasi. Langkah ini bukan perkara yang sulit dilakukan. Secara teknis, sebagian besar mereka sudah sangat memungkinkan karena keakraban dan ketersediaan fasilitas untuk bermedia sosial. Adapun langkah konkretnya, mengisi akun sosial media mereka dengan konten-konten kreatif dan edukatif menurut syariah.

Jika langkah ini dijalankan secara serius dan berkelanjutan, maka potensi industri syariah Indonesia bisa tersebar secara lebih luas. Kaum milenial perlu lebih kreatif dan inovatif untuk bisa memosisikan diri sebagai penggerak ekonomi syariah di era digital. Era di mana konten-konten yang kontraproduktif dengan syariat bisa diakses dengan mudahnya, kapan dan oleh siapa saja.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Artikel Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Khikman Faqih, Imam Idaqu di Negeri Ginseng

Image

Model ASSURE dalam Mengembangkan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Image

Keunggulan Fitur FF Mod Versi Terupdate

Image

Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Image

Keuntungan Menggunakan Aplikasi Pemutar Lagu Spotifify Premium Mod

Image

Game Legendaris GTA SA Versi Lite yang Sangat Ringan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image