Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dwiky Dimas

Perjalanan Indah untuk Dikenang tapi Ribet untuk Diulang

Sastra | Wednesday, 24 Nov 2021, 19:20 WIB

IDENTITAS BUKU

Judul buku :PERIKARIA

Penulis :Dr. Gia Pertama

Penerbit :MIZANIA

Tahun terbit :2019

Jumlah halaman : 325

Peresensi : Dwiky Dimas FIrmansyah/ Mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang

Di dunia ini banyak factor yang membuat manusia meninggal dunia salah satunya adalah kesehatan manusia itu sendiri,dalam bidang medis banyak sebuah hal baru yang membuat manusia mengalami banyak penderitaan tidak jarang hingga merengutnyawa, bahkan hal sepele bisa merenggut nyawa manusia,dari hal tersebut terciptalah sebuah tempat yang berisikan para ahli kesehatan khusus menangani kesehatan manusia

Dengan hadirnya buku ini orang yang ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah sakit saat ada pasien baru,dan memberi gambaran untuk orang yang ingin menjadi seorang dokter bagaimana perjuangan melewati masa-masa koas, agar mereka memikirkan lebih matang lagi karena pekerjaan ini sering bersangkutan dengan nyawa seseorang, salah sedikit dalam pengambilan keputusan maka nyawa pasien adalah taruhannya

Buku ini berisi tentang pengalaman dr. Gia selama menjalani masa-masa koas di RSUD Garut dan Serang. cerita tentang proses anastesia awarness, di mana pasien sadar saat operasi, tapi lumpuh. Di situ saya ikut merasakan bagaimana ketegangan yang terjadi saat dr. Gia melaksanakan tindakan anastesi. Saya yang awalnya merasa bahwa dokter anastesi itu dokter biasa, yang tugasnya tidak lebih dari sekedar perawat yang membius. Dokter anastesi ternyata juga memainkan peran penting dalam proses operasi, karena dia yang menidurkan pasien, maka dia pula yang beranggung jawab atas bangunnya pasien. Ingatan saya kemudian melaang-layang saat saya menjalani operasi usus buntu beberapa tahun yang lalu.

Kisah lain selain cuplikan di stase forensik yang tak kalah menegangkan adalah cerita di stase penyakit dalam (saat penanganan kasus cacing gelang dalam usus pasien, operasi pencabutan belati dari perut pasien, dll), bedah tulang, bedah jenazah saat proses autopsi dengan cara menggergaji tulang iga, dan yang paling seru adalah cerita tentang kasus pasien yang rahimnya keluar oleh dukun bayi. Saya bahkan menahan nafas mengikuti ketegangan alur cerita di mana dokter beserta timnya mengubek-ubek isi perut si pasien, menjahit bagian sana-sini yang mengalami pendarahana akibat rahim yang ditarik paksa oleh si dukun bayi.

Saat memasuki stase bedah di RSUD garut pada malam pertama menjaga UGD tiba- tiba suara brankar masuk membawa pasien wanita dengan wajah penuh darah. Seorang wanita yang baru saja sampai di IGD setelah di periksa ternyata mengalami keracunan baygon karena ia ingin bunuh diri. Saat menjalani penanganan untuk mengeluarkan baygon di lambung dgn cara disuntikan sulfas atropine dan memasukan selang NGT yang terhubung dgn corong, lalu selangnya dimasukan ke hidungnya sampai lambung,memasuan berliter-liter air ke dalam corong itu, memaksa perempuan ini memuntahkan isi lambungnya berkali-kali,tiba-tiba tersadar bahwa dagu perempuan sobek karena kebentur ke ujung meja kamar saat pasien pascaminum baygon. Setelah satu jam di IGD dengan infus terpasang, kondisi pasien jauh membaik. Setelah membaca adegan ini saya sedikit spicless dan heran sama apa yang dilakukan wanita itu sampai berani mengakhiri hidupnya sendiri.

Seletah satu minggu di stase bedah Dr Gia mulai memahami pola kerja stase bedah, saat scarlet Dr di stase beda minta untuk membantu menopang pasien yang di bawah oleh scarlett, saat melihat pasien terdapat sebuah ganging belati besar tertancam di perut sebelah kirinya,dengan seluruh bagian besinya tertanam di dalam, Dr Gia berusaha membopong pasieb untuk ke brankar dengan posisi tangan satu tangannya di Pundak agar blati yang ada di perut kiri tidak tercabut, setelah selesai ditidurkan di brankar segera mungkin mendorong pasien ke ruang Tindakan, Scarlet datang dengan 2 perawat lalu memberi intruksi “ Pasang oksigen,cek tanda tanda vital,ambil darahnya, persiapkan opras” setelah melakukan semua intruksi scarlet, scarlet meminta Dr gia untuk menjadi assisten oprasi, saat dokter Ilays memulai oprasi,”pisau tidak bisa hanya di cabut perlu membuka perut” ucap dokter Ilays, lalu beliaumulai menyayat kulit dari ujung ulu hati batas pusar, membuka oto lalu tampak organ organ dlam “ sebentar lagi ada pendarahan besar,lihat itu , beberapa organ tertembus,dan darahnya terbendung oleh belati itu sendiri bila kita cabut sekaligus,pendarahan akan mengalir deras. Jadi kita akan Tarik perlahan-lahan,membebaskannya dari setiap organ yang terkena,dan menghentikan pendarahan dari organ yg tertusuk itu” ucap dokter Ilyas. Terlihat benar ujung dari belati menembus lambungnya setelah menembus kolon(usus besar), dokter Ilyas dengan Gerakan yang luarbiasa cepat menjahit lubang lambung dan menghentikan pendarahannya. Saat beliau menarik belati dari usus besar bukan hanya darah yang keluar tapi fases. Belati telah tercabut tanpa ada pendarahan yang berarti, setelah itu kita kerja bakti membersihkan organ-organ lain agar tidak terjadi infeksi. Saya ikut terbawa suasana tegang dan kagum saat dokter melakukan oprasi tersebut dengan cepat, saya sempat kaget saat mendengar sebuah belati menancap di perut sempat terasa ngeri aat membaca tersebut

Gaya bahasa yang banyak dibumbui selera humor yang kocak, yang jika dibayangkan dan divisualisasikan, pasti membaut tertawa. Gaya lo-gue khas anak muda dipadupadankan dengan bahasa Sunda halus menjadi daya tarik tersendiri

Cerita tentang anatomi tubuh sepertinya sengaja ingin mengudukasi perihal ilmu kedokteran dasar melalui cerita yang sayangnya ditulis kurang halus menempel pada cerita Simpulan

Meskipun buku ini berisi tentang pengalaman saat koas, buku ini memiliki nilai di Setiap pasien yang diceritakan dalam novel ini, buku ini sangat bagus meskipun pembaca bukan seorang mahasiswa kedokterankarena buku ini menceritakan sebuah pengalaman dan sebauh rasa penasaran yang begitu kuat saat menangani seorang pasien

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image