Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Humas UMKT

Perkebunan Pertambangan Para Sarjana: Ekonomi Berbasis SDM

Edukasi | Tuesday, 26 Jul 2022, 11:18 WIB

Oleh: Prof. Bambang Setiaji Rektor UMKT

Pemilu 2024 merupakan momentum pencarian alternatif arah ekonomi, setelah pada orde reformasi ekonomi yang sangat liberal terjadi, peran swasta swasta besar yang tidak terbendung, misalnya dalam kasus minyak goreng. Dalam rangka mencari alternatif ekonom kapitalis, banyak orang dan terutama pejabat berpaling kepada ekonomi berbasis negara, contoh misalnya buku Paradog Indonesia yang ditulis oleh Jendral Prabowo (revisi 2021) yang terinspirasi oleh peran BUMN di RRC. Ekonomi dengan arahan negara mengandalkan kepada BUMN drive.

Ada alternatif lain selain berbasis arahan negara yaitu ekonomi berbasis sumber daya manusia. Ekonomi kapitalis benar antitesisnya adalah ekonomi dengan arahan negara dengan salah satu aparatnya yaitu BUMN. Ekonomi kapitalis melembaga dalam kebebasan swasta atau ekonomi yang liberal di mana para pemilik modal memajukan bangsa melalui pembiayaan riset dan dilakasanakan dalam industri menghasilkan produk produk yang makin maju, hal tersebut digambarkan dengan baik dalam buku good captalism dan bad capitalism (Boumal et.all, 2008) dalam wacana ini - swasta versus negara.

Di sisi lain antitesis kapital adalah sumber daya manusia. Yaitu suatu ekonomi di mana negara memberikan fasilitas kepada sumber daya manusia SDM, tentu saja SDM yang berkualitas dengan mandat untuk membawa kemajuan bangsa. Katakanlah negara berfihak atau memberi program tertentu kepada para sarjana.

Dari sisi kelembagaan, ekonomi berbasis swasta versus ekonomi berbasis BUMN. Tetapi dari sisi lain - kapital versus SDM. Negara bagaimanapun memiliki peran sentral melalui pembentukan aturan dan melaksanakannya melalui kebijakan pemerintah yang berkesinambungan dan menjadi visi jangka panjang. Negara, dalam rangka memajukan bangsa melalui kebijakan riset dan industri, bisa mengandalkan peran orang orang kaya untuk membiayai riset yang mahal dan melaksanakannya sendiri yang diproteksi dengan hak atas intelektual HAKI. Orang lain yang mencontek begitu saja suatu temuan akan dihukum dengan denda yang sangat besar. Riset yang mahal bisa juga diibiayai oleh negara dan meminta aparatnya BUMN untuk melaksanakan riset tersebut dalam industri menghasilkan barang barang berkemajuan. Departemen riset umumnya melekat pada BUMN dengan tugas tugas tertentu.

Dalam kerangka ekonomi berbasis SDM negara memberi para sarjana dana riset, survai, dan merencanakan suatu industri. Para sarjana itu kemudian melaksanakan sendiri apa yang direncanakan, bukan berbentuk BUMN yang banyak mengandung masalah, tetapi tetap berbasis spirit dan kebaikan semangat kerja dan efisiensi swasta. Bentuk yang tepat keterlibatan negara dalam kelembagaan ekonomi berbasis SDM adalah semi BUMN atau ekonomi bagi hasil. Negara dengan asetnya terutama tanah, baik pertambangan, kehutanan, perkebunan, berbagi hasil dengan para sarjana. Skema ini mengharapkan kebaikan spirit kerja swasta – dan mengharapkan berkah ekonomi negara yang ketika diarahkan kepada suatu lembaga tertentu terbukti unggul, baik pada ekonomi liberal Barat yang sudah terbukti, dan akhir akhir ini kemajuan RRC yang fenomenal.

Beberapa Program Ekonomi Berbasis SDM

1. Perkebunan Pertambangan Para Sarjana

Jika lisensi pertambangan perkebunan diberikan berbasis kapital, maka SDM dan para sarjananya tentu saja tersisih. Ketika lisensi itu diberikan kepada pemilik modal, yang menjalankan juga para sarjana kita, bahkan lenyataannya modal pun dari bank kita, hasil setoran rakyat kita sendiri. Dengan diberikan langsung kepada para sarjana, negara meminjami tanah dan alat alat berat untuk menyiapkan lahan. Para sarjana diharapkan berjuang mati matian untuk kemajuan bangsanya. Dengan bentuk swasta spirit efiensi dan kerja keras diharapkan tetap ada suatu yang hilang jika bentuk kelembagaan ini BUMN. Dengan berbagi hasil dengan negara maka industri pengolahan di bawahnya perlu dibuat juga oleh para sarjana, dan pada akhirnya kasus seperti kenaikan harga minyak goreng, atau bumbu bumbu hasil pertanian yang secara periodik terjadi bisa dijawab secara permanen. Bagi hasil tanah antara masyarakat dan pemerintah sudah lama terjadi – misalnya pada tanah tanah kas desa. Secara budaya sudah sangat dikenal.

2. Sekolah Vokasi dengan Misi Ekonomi

Defisit neraca perdagangan dengan RRC sudah umum dikenal karena membanjirnya barang murah RRC produk berbagai industri. Alibaba.com memajang kemajuan yang luar biasa dari industri China yang murah, dari industri ringan sampai alat alat berat. Dari alat dapur, pertukangan, alat alat UMKM, asesori rumah dan gedung, alat kesehatan, sampai alat berat. Jalan untuk meredakan defisit dipilih oleh Amerika dengan memasang tarif yang tinggi, akan tetapi harga produk China bisa seperempat atau sepertiga, tarif yang tinggi tidak atau belum menolong. Harga murah ini bisa disaingi oleh produk anak sekolah vokasi, di mana SDM tidak dibayar bahkan mereka membayar, mesin mesin gratis karena memang bengkel sekolah, listrik dengan tarif sosial, di atas kertas jika terdapat sekian ratus atau ribu titik sekolah vokasi dengan penugasan negara maka produk murah yang mereproduksi produk China bisa dilakukan. Salah satu sekolah itu ditugasi membuat market place dot com yang mewadahi ribuan produk sekolah vokasi. Pada masa belajar, negara dengan uangnya yang banyak bisa mewajibkan dirinya untuk belanja kebutuhannya, dari mobil pengangkut sampah sambil memperbaiki lingkungan, komputer sambil menimngkatkan kemajuan birokrasinya, dan sebagainya. Hal ini sekaligus menjadi solusi bocornya belanja negara keluar negeri di mana negara lain yang menikmati margin dan terutama kesempatan kerja yang dihasilkan.

3. Koperasi Umrah

Contoh lain ekonomi berbasis SDM adalah koperasi layanan umrah. Hubungan antara jamaah dan vendor adalah a simetris. Service sering kali dipotong, janji tidak diatepati, iklan hotel berbintang 5 ternyata bintang 2. Menghemat penginapan dengan jalan berputar putar dulu sebelum ke bandara yang menyebabkan kelelahan luar biasa. Ada banyak lubang dan cara bisa dilakukan karena jamaah umrah umumnya hit and run. Banyak orang desa yang kurang familiar dengan jasa transportasi dan akomodasi. Dengan memberi dan mendorong bentuk koperasi umrah hampir tanpa modal negara bisa memperbaiki service tersebut sambil memandirikan masyarakat, mengawasai sendiri service yang diperlukan, merancang harganya, dan melaksanakan sendiri. Koperasi yang banyak tidak sukses di sektor lain, bisa sukses di sektor yang sifatnya layanan publik seperti umrah dan haji.

Dari ketiga contoh di atas ekonomi berbasis SDM bisa maujud dalam berbagai rupa. Tetapi bisa ditarik benang merahnya adalah peran negara dalam memberikan kemudahan dan bahkan fasilitas kepada SDM bermutu yang diharakan akan memajukan bangsa ke depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image