Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Prof. Dr. Budiharjo, M.Si

Delapan Ajaran Prof. Moestopo agar Hidup Semakin Merah Putih

Edukasi | Monday, 18 Jul 2022, 12:59 WIB
Sebagai tokoh bangsa, Prof. Dr. Moestopo memiliki sumbangsih berupa pemikiran dan tindakan nyata untuk bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Peran Prof. Dr. Moestopo dalam melahirkan generasi berkualitas tidak perlu diragukan lagi. Pendiri Universitas Moestopo (Beragama) ini memiliki perjalanan yang panjang dalam menempa generasi muda untuk lebih berkarya di masa mendatang. Sebagai pengusung ide-ide brilian, Prof. Moestopo menyumbangkan banyak pemikiran kepada masyarakat. Pemikiran yang berguna karena berangkat dari ilmu yang dikuasainya dan kemudian dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Spirit ini yang kemudian menjadi pesan-pesan yang bisa diambil bagi generasi muda. Berikut delapan ajarannya yang bisa dipetik untuk kita semua.

Pertama, jadilah seorang yang mumpuni (memahami teori-teori ilmu dan mampu mengamalkannya untuk masyarakat banyak) mampu menjadi inidividu yang ditempa oleh tantangan zaman. Pesan pertama ini begitu masuk dalam sanubari civitas akademika Universitas Moestopo karena ilmu yang diwariskan Prof. Moestopo dapat diterjemahkan secara empiris, baik akademik maupun praktik kehidupan sehari-hari.

Kedua, jadilah seorang yang mampu menggores sejarah dalam peradaban manusia. Sebagai tokoh nasional, Prof. Moestopo mampu mengembangkan teori dan filsafat yang dipahaminya. Kekayaan intelektual itu diterjemahkan dengan mewariskan Universitas Moestopo kepada masyarakat banyak. Meski kaya ilmu, Prof. Moestopo selalu mewanti-wanti agar civitas akademika kampusnya tidak sombong.

Ibarat padi, semakin berisi makan semakin merunduk. Ajaran Prof. Moestopo adalah seluruh civitas harus membaur dengan masyarakat, mulai dari kelompok elit hingga kelompok ekonomi sulit.

Ketiga, semakin rajin belajar harus semakin "Merah Putih". Ini menjadi ajaran paling dasar yang diajarkan kepada mahasiswa di lingkungan Universitas Moestopo (Beragama). Jiwa "Merah Putih" harus terpatri dalam setiap sanubari civitas akademika kampus. Prof. Moestopo sendiri telah membuktikan bagaimana dharma baktinya dipersembahkan untuk Ibu Pertiwi. Beliau juga menyatakan sebagai pengawal Pancasila, dibuktikan dengan tingkah lakunya membela Pancasila sesuai keyakinannya.

Keempat, hidup jangan terlalu tegang, harus dibumbui dengan humor dan senda gurau. Prof. Moestopo adalah sosok humoris. Kehidupannya dipenuhi dengan senda gurau dan tidak pernah tersinggung sedikit pun apabila ada serangan balik.

Ini terbukti dalam sebuah acara ramah tamah. Seorang penerjemah menyanyikan lagu “Ya Mustafa" dan mengajak beliau naik panggung. Dengan gaya tidak canggung, beliau menari a la Timur Tengah sebagaimana layaknya seorang Abu Nawas menari. Hal itu menimbulkan gelak tawa seluruh hadirin. Sebagai balasannya, beliau menyanyikan lagu perjuangan, menyuguhkan tarian wals, dan berakhir dengan semua hadirin ikut serta berdansa mengikuti irama sehingga suasana pertemuan menjadi sejuk dan bersahabat.

Kelima, mampu menempatkan posisi dalam segenap lapisan masyarakat. Prof. Moestopo adalah sosok yang adaptif. Beliau mampu membawa diri dan bergaul dengan segenap lapisan masyarakat. Ketika beliau berada di lingkungan murid taman kanak-kanak, beliau menyebut dirinya “Paman Profesor”. Kepada para alim ulama, beliau menyebut dirinya “Pak Jenal”, serta di kalangan pemuda, intelektual dan mahasiswa, sebutannya “Pak Moes”. Begitu akrabnya, Pak Moes dengan para pemuda dan mahasiswa, sehingga sering tidak kelihatan perbedaan antara mahasiswa dan profesor.

Keenam, Bhineka Tunggal Ika adalah pemersatu. Bagi Prof. Moestopo dibutuhkan rejuvenasi Bhineka Tunggal Ika yang artinya adalah menempatkan nilai-nilai toleransi, keadilan dan gotong royong sebagai sesuatu yang sangat vital dalam kehidupan nasional. Rejuvenasi (peremajaan kembali) makna Bhineka Tunggal Ika sangat penting karena dia bisa mengimbangi maraknya intoleransi dan berkembangnya praktik politik identitas dan radikalisme.

Sikapnya yang tegas terhadap NKRI dan Bhineka Tunggal Ika diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari di kampusnya. Prof. Moestopo menilai peremajaan kembali makna Bhineka Tunggal Ika dilakukan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pendidikan dan pembangunan karakter bangsa menjadi aspek penting membangun SDM demi Indonesia yang berlandaskan empat pilar, UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Ketujuh, mendahulukan kepentingan bangsa dan negara dibandingkan kepentingan pribadi atau golongan. Ajaran Prof. Moestopo ini sangat dimafhumi oleh civitas kampus. Baginya, kepentingan bangsa dan negara di atas segala-galanya. Kita melihat kenyataan banyak negara yang miskin sumber daya alam, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura serta sebagian negara-negara Eropa dapat menjadi negara makmur dan rakyatnya sejahtera karena memiliki SDM yang berkualitas.

Negara-negara maju mampu melahirkan SDM-SDM yang mendahulukan kepentingan negaranya. Jepang, contohnya, setelah dihancurkan oleh bom atom pada PD 2, dia menjadi negara yang mampu bangkit dari keterpurukan. Itu menjadi salah satu contoh bagaimana kepentingan bangsa dan negara adalah menjadi vital dan urgen.

Kedelapan, jangan ragu berbagi ilmu untuk masyarakat. Salah satu ilmu yang disebarluaskan dengan gratis oleh Prof. Moestopo adalah ilmu kesehatan gigi. Ketika awal merintis Universitas Moestopo (Beragama), Prof. Moestopo berbagi kemampuan dan keterampilan dalam usaha merawat, menyembuhkan dan memperbaiki gigi. Pada saat itu tenaga kesehatan gigi masih terhitung langka, sedangkan tenaga-tenaga tukang gigi yang ada masih menangani pasien-pasien mereka dengan cara tradisional yang dianggap sudah tidak sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan.

Selesai mengikuti kursus, para tukang gigi dianggap telah mampu melakukan pengobatan sederhana terhadap penderita sakit gigi, merawat abses, mencabut gigi dan membuat gigi tiruan. Dari para peserta hanya ditarik uang kursus ala kadarnya, karena memang tujuan Pak Moes membuka ini bukan untuk tujuan komersial.

Itulah delapan ajaran Prof. Moestopo yang bisa saja menjadi inspirasi kehidupan bangsa dan negara di kemudian hari. Semboyan Prof. Moestopo adalah "Ambil lah salah satu bagian dari ilmuku dan kembangkan. Anda akan menjadi orang yang terkenal dan ahli di dalam masyarakat." (*)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image