Stop Melanggengkan Budaya Patriarki

Image
Gabrielle Onassis
Eduaksi | Saturday, 23 Oct 2021, 17:34 WIB
Perempuan dan laki-laki sama, bukan beda.
Perempuan dan laki-laki sama, bukan beda.

Di negara kita tercinta ini, kita sudah tahu bahwa budaya patriarki masih mengental dan kuat. Tapi, budaya ini hanya menjadikan perempuan sebagai korban. Laki-laki selalu dianggap sebagai orang kuat, lain hal dengan perempuan. Perempuan selalu dianggap yang kedua dalam berpikir dan berpendapat banyak hal. Laki-laki istimewa, perempuan biasa.

Perempuan sering sekali dianggap hanyalah objek bagi laki-laki. Seperti contohnya kasus Kiwil dalam video berbincang bersama Feni Rose di akun YouTube Feni Rose Official. Di dalam video itu, dia menyamakan perempuan seperti mobil. Menurutnya, orang yang sudah punya 1 mobil akan tergiur untuk membeli mobil lagi. Padahal itu hanyalah asumsi yang tidak bisa disamakan dengan semua orang. Belum tentu orang mau punya banyak mobil. Lagi pula, menyamakan perempuan dengan benda termasuk dalam ideologi konservatif dogmatis yang harus dihilangkan. Konservatif dogmatis sendiri bermakna pemikiran kolot yang dijabarkan tanpa kritik sama sekali.

Perumpamaan antara perempuan yang merendahkan kaum perempuan juga banyak jenisnya. Salah satu contohnya datang dari kasus Galih Ginanjar pada mantan istrinya, Fairuz A Rafiq. Dalam videonya bersama Rey Utami, dia menganggap bahwa organ intim mantan istrinya bau ikan asin dan berjamur. Akibat videonya ini, mereka bahkan sampai sempat mendapatkan hukuman penjara. Perumpamaan yang diungkapkan selebritas itu menunjukkan penghinaan laki-laki kepada perempuan secara simbolik juga pelecehan seksual dalam bentuk verbal.

Ketika perempuan menghadapi kasus pelecehan hingga kekerasan seksual, sering kali kasusnya diabaikan begitu saja, Kalau ditangani, pihak yang berwenang pun tak jarang malah menyalahi korban. Biasanya alasan yang keluar dari mulut mereka yaitu dikarenakan mengenakan pakaian yang “mengundang laki-laki untuk maksiat”. Padahal, kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap wanita berhijab dan bercadar juga banyak. Hal itu menunjukkan bahwa pelecehan dan kekerasan seksual tak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun, termasuk pakaian.

Istilah “kewajiban kami melindungi perempuan” yang dilontarkan laki-laki sangat menggelikan buat saya. Anggapan bahwa perempuan lemah sehingga perlu dilindungi itu tidak benar. Laki-laki harus memastikan bahwa dirinya sudah teredukasi sehingga tidak menjadi pelaku pelecehan atau kekerasan seksual. “Hidup aman” perempuan itu bukan kewajiban laki-laki, tapi memang sudah hak dari sana.

Banyak sekali laki-laki yang tak terima jika dirinya ikut mengambil peran dalam urusan domestik, tak lain dan tak bukan yaitu pekerjaan rumah tangga. Bahkan walaupun melakukannya mereka sering sekali dianggap spesial tak seperti perempuan yang biasa saja malah termasuk kewajibannya. Padahal dalam hidup, manusia harus bisa melakukan tugas rumah tak peduli jenis kelaminnya apa. Pekerjaan rumah tangga yang dikerjakan oleh laki-laki tak perlu begitu dibanggakan, malah harusnya memang sudah begitu dari dulu. Jangan selalu menuntut perempuan agar menanggung beban urusan domestik sendirian.

Ketika menyangkut urusan pekerjaan, tak jarang perempuan juga mengalami diskriminasi. Berdasarkan penelitian Chartered Management Institute (CMI), perempuan cenderung mendapat bayaran lebih rendah sekitar 10% dibandingkan laki-laki meski memiliki peran dan jabatan yang sama. Padahal kalau kinerjanya baik, harusnya perempuan digaji sama besar dengan laki-laki.

Sekarang ini, sudah banyak perempuan yang memperjuangkan ideologi feminisme untuk melawan seksisme di Indonesia. Tapi dari pemikiran itu, laki-laki yang tak terima mulai menganggap bahwa perempuan itu terlalu berlebihan. Misalnya banyak dari mereka yang ingin perempuan menormalisasi perilaku pelecehan seksual dengan berkata “Heran, apa-apa pelecehan.” Padahal, justru dengan sadar perilaku demikian maka berarti manusia sudah berpikir maju.

Budaya patriarki sendiri sebenarnya sudah menyalahi sila kedua dalam Pancasila yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Perempuan harus disamakan seperti laki-laki. Perempuan itu bukanlah sosok figuran dalam dunia ini. Perempuan juga punya andil yang penting dan bisa melakukan apa saja selagi itu positif dan tidak merugikan. Bahkan perempuan juga bisa menjadi sosok berprestasi. Contohnya ada pada Susi Susanti yang melegenda sebagai atlet bulu tangkis yang memenangkan banyak perlombaan hingga dikenal dunia.

Sebagai umat Kristen, saya juga ingin menjelaskan bahwa dalam Alkitab ditunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dengan derajat yang sama. Itu berarti pertanda bahwa tidak ada manusia yang dibeda-bedakan, apalagi berdasarkan jenis kelamin. Untuk lebih jelas bisa dibuktikan dengan Kejadian 1:27 yang berbunyi “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Oleh karena itu, berhenti untuk melakukan diskriminasi kepada perempuan.

Maka dengan begitu, marilah kita sebagai manusia menganggap semua setara apa pun jenis kelamin dan gender. Budaya patriarki tak layak untuk bertahan di semua lingkungan dan kondisi. Gerakan feminisme bukan berarti menganggap perempuan lebih istimewa daripada laki-laki. Feminisme tidak hanya untuk perempuan. Seperti kata dari Syaldi Sahude, “Kenapa penting melibatkan laki-laki? Sebab kalau hanya melibatkan perempuan, tidak akan banyak bergerak.” Laki-laki dan perempuan harus bisa memegang tanggung jawab bersama secara adil dalam hidup ini.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

(Tidak) Semua Laki-Laki?

Image

Bahasa Arab di Zaman Dahulu dan Zaman Sekarang, Berbedakah?

Image

Update FF Mod Apk Dengan Fitur Terbaru

Image

Aplikasi Musik Spotify Premium Mod Putar Lagu Kesukaan Gratis

Image

Kelas Coding untuk Anak, Membuat Cerita dengan Scratchjr

Image

Pemulihan Korban Penyalahgunaan Narkoba Untuk Hidup Lebih Baik

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image