Pengembangan Kecerdasan Emosional Anak Melalui Psikoterapi Islam

Image
Intan Zakiyyah
Guru Menulis | Tuesday, 12 Oct 2021, 23:50 WIB
Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Masa-masa pandemi mengajarkan orang tua di rumah belajar lebih mendalam lagi mengenai emosional anak, karena mau tidak mau dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) orang tua terlibat aktif dalam pembelajaran anak. Guru sebagai fasilitator siswa juga harus mempunyai kecerdasan emosional yang baik. Kecerdasan emosional amatlah penting dalam kehidupan. Upaya pengembangannya harus dilakukan semenjak dini. Keterlibatan antara keluarga, sekolah dan masyarakat dalam menanamkan kecerdasan emosional sangat penting. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak untuk mempelajari emosi. Kecerdasan emosional tidak saja dipengaruhi oleh faktor keturunan.[1] Sehingga membuka pintu bagi orang tua dan guru ataupun yang lain untuk mendidik dan mengembangkannya.

Guru/pendidik dan orang tua sangat berperan dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak, karena walau bagaimanapun guru atau orang tua merupakan seorang yang sangat dekat dengan anak baik di sekolah maupun di rumah, dan seseorang yang selalu berada di samping anak untuk mengarahkan, mendidik, dan mengembangkan kecerdasan emosional anak. Guru atau orang tua dapat juga mengembangkan kecerdasan emosional anak melalui psikoterapi Islam.

Psikoterapi (perawatan dijiwa) tidaklah ditujukan kepada orang-orang yang menderita penyakit jiwa saja, akan tetapi lebih banyak diperlukan oleh orang-orang yang sebenarnya tidak sakit, tidak mampu menghadapi kesukaran-kesukaran hidup sehari-hari dan tidak pandai menyelesaikan persoalan-persoalan yang disangkanya rumit. Karena kesukaran-kesukaran dan persoalan-persoalan yang tidak selesai itulah yang banyak menghilangkan rasa bahagia.[2] Jiwa seorang anak akan terus berkembang secara emosional dengan melalui terapi-terapi jiwa. Dengan sabar, qona’ah, tawadhu dan sikap-sikap positif lainnya. Anak harus dibiasakan dengan menerima semua yang telah dianugrahkan dari Allah baik itu pemberian sehat, sakit, susah, bahagia, kaya, miskin dan dalam kondisi apapun. Terapi jiwa secara islami ini jika dilakukan akan dapat mengembangkan kecerdasan emosional anak.

Dalam Islam pengembangan kesehatan jiwa terintegrasi dalam pengembangan pribadi pada umumnya, dalam artian kondisi kejiwaan yang sehat merupakan hasil sampingan dari kondisi pribadi yang matang secara emosional, intelektual, dan sosial, serta terutama matang pula keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.[3] Dalam hal ini Islam mengajukan tiga ragam upaya peningkatan diri yang semuanya merupakan upaya yang sadar untuk mengubah nasib menjadi lebih baik lagi. Cara pertama, adalah hidup secara Islami, dalam arti berusaha secara sadar untuk mengisi kegiatan sehari-hari dengan hal-hal yang bermanfaat dan sesuai dengan nilai-nilai aqidah, syari’ah, dan akhlak, aturan-aturan yang berlaku. Cara hidup serupa ini kalau dilaksanakan secara konsisten dan persisten, maka tanpa terasa dan secara sangat alamiah akan berkembang dalam diri seseorang kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat terpuji dan Islami dalam kehidupan pribadi dan dalam kehidupan bermasyarakat. Cara kedua, adalah melakukan latihan intensif yang bercorak psikoedukatif. Dengan pelatihan yang bercorak psiko-edukasi ini diharapkan para peserta lebih sadar diri akan keunggulan dan kelemahannya, mampu menyesuaikan diri, menemukan arti dan tujuan hidupnya, dan menyadari serta menghayati betapa pentingya meningkatkan diri. Cara ketiga, untuk meningkatkan kualitas pribadi mendekati citra insan ideal adalah pelatihan disiplin diri yang lebih berorientasi spiritual-religius, yakni mengintensifkan dan meningkatkan kualitas ibadah.

Kecerdasan emosional anak bisa juga dikembangkan oleh guru atau orang tua salah satunya dengan mengajarkannya berpuasa. Dengan terapi puasa, maka secara langsung emosional anak akan terlatih ke arah yang lebih positif. Adapun manfaat puasa adalah menyempurnakan program kombinasi makanan serasi. Meskipun pola makan ini sendiri sudah berfungsi detoksifikasi, namun masih bersifat fisik. Sedangkan puasa adalah detoksifikasi yang bersifat total dan holistik. Artinya, tujuan pembersihan bukan hanya sebatas fisik saja, tetapi juga meliputi pembersihan dan peningkatan energi jiwa dan pikiran. Banyak cara puasa yang dapat dikombinasikan dengan program ini, termasuk puasa 30 atau 40 hari penuh seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, Nabi Isa, atau Nabi Musa. Sedangkan berpantang dari makanan-makanan yang disukai atau makanan tertentu tidak dapat memberikan nilai tambah pada kesehatan karena yang penting bagi kesehatan bukanlah jenis atau jumlah makanannya, tetapi pola makanannya.[4] Pembersihan dan peningkatan energi jiwa dan pikiran akan menghasilkan emosi yang tenang. Dengan itu anak akan berpikir jernih dan sehat. Ketika anak sudah berpikir jernih dan sehat maka jasmani dan rohani anakpun akan sehat. Anak akan lebih mudah mengatur emosinya karena anak sudah dibiasakan dengan berpuasa atau terapi puasa sunnah atau wajib. Memang psikoterapi secara intensif tidak dibutuhkan oleh semua orang, akan tetapi banyak orang yang membutuhkan sekedar bantuan yang merupakan psikoterapi ringan untuk mencapai ketenangan jiwa dan kebahagiaan dalam hidup.

Orang tua juga dapat menterapi anak dengan hidup sederhana sesuai sunnah Rasulullah, menahan dari segala hal yang berlebihan dan mengajarkan syukur dan sabar dalam kondisi apapun.

Kecerdasan emosional dibutuhkan oleh semua pihak untuk dapat hidup bermasyarakat termasuk didalamnya menjaga keutuhan hubungan sosial yang baik dan hubungan sosial akan mampu menuntun seseorang untuk memperoleh sukses di dalam hidup seperti yang diharapkan. Kemampuan mencermati emosi orang lain merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya, jika dibandingkan dengan kekayaan yang sewaktu-waktu dapat musnah dan tak bermakna apa-apa. Karena disamping menguntungkan diri secara internal kecerdasan emosional juga dapat membentuk tatanan yang humanis.

Dalam konteks pekerjaan, kecerdasan emosional juga sangat membantu untuk mendapatkan promosi dan kesempatan pengembangan karir. Orang yang memiliki kecerdasan emosional tentu memungkinkan menjadi lebih akrab dan mampu bersahabat, berkomunikasi dengan tulus dan terbuka kepada orang lain maupun rekan kerjanya. Berbekal kemapuan komunikasi dan hubungan interpersonal yang tinggi mereka selalu mudah menyelesaikan diri karena fleksibel dan mudah beradaptasi.[5] Disaat sahabat atau rekan kerjanya menyerah, justru mereka tampil sebagai motivator untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Maka tidak heran orang yang memiliki kecerdasan emosional biasanya mampu membawa karyawan biasa menuju karyawan luar biasa.

Kecerdasan emosional memiliki banyak fungsi dengan mengetahui kapan dan bagaimana mengekspresikan emosi sehingga hal tersebut dapat menjadi kontrol untuk setiap individu dalam menjalankan aktivitas dan tuntutan pekerjaan pada organisasi. Kecerdasan emosi juga merupakan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi dengan tepat. Jika seorang karyawan mempunyai emosional diri yang tinggi, maka akan bekerja dengan lebih baik dan bahkan cenderung sesuai dengan standar yang ditetapkan organisasi, sehingga pada akhirnya akan mencapai kinerja yang lebih baik.[6]

Dalam dunia pendidikan, dengan tidak adanya hubungan emosional antara guru dan siswa, sekolah hanya dapat mencerdaskan otak saja, bukan mengembangkan kecerdasan emosional. Padahal tujuan pendidikan tidak hanya mencerdaskan kognitif saja, akan tetapi aspek afektif dan psikomotorik juga perlu dikembangkan. Guru yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, akan dapat menciptakan suasana kelas atau tempat belajar lebih nyaman dan menyenangkan. Membuat siswa menjadi semangat untuk belajar tanpa rasa paksaan. Sehingga terciptalah hubungan guru dan siswa yang harmonis dan tentu saja lambat laun siswa akan mencontoh apa yang dilakukan guru. Pada akhirnya siswa memiliki kecerdasan emosional layaknya guru.

Pengembangan kecerdasan emosional sebagai salah satu potensi manusia selaras dengan fungsi pendidikan yaitu sebagai upaya mengembangkan semua potensi manusia secara maksimal menuju kepribadian yang utama atau disebut dengan insan kamil, sesuai norma Islam. Aktualisasi dari kecerdasan emosional dapat membentuk kepribadian manusia. Meskipun demikian dalam aktualisasinya kecerdasan emosional itu juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti keturunan (hereditas) dan lingkungan, sehingga tingkat kecerdasan emosional antara manusia sangat bervariatif. Terlebih lagi kecerdasan emosional dikembangkan oleh guru dengan terapi-terapi jiwa yang Islami seperti mengajarkan teladan para nabi dan rasul atas kesabarannya dalam segala hal dan lainnya, maka nilai-nilai yang akan didapatkan akan lebih bermakna dan komprehensif.

[1] Lawrence E Shapiro, Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), h. 10

[2] Zakiah Daradjat, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, h. 81

[3] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, (Yogyakarta: Yayasan Insan Kamil, 2005), h. 150

[4] ...., Artikel Puasa dan Detoksifikasi, h. 91, diunduh selasa, 23 Mei 2017

[5] Anthony Dio Martin, Emotional Quality Management, (Jakarta: Arga, 2003), h. 26

[6] Triana Fitriastuti, Pengaruh Kecerdasan Emosional, Komitmen Organisasional dan Organizational Citizenship Behavior Terhadap Kinerja Karyawan, Jurnal Dinamika Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, Indonesia, JDM. Vol. 4, No. 2, 2013, h. 110

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Viral Video Kuburan Upin Ipin, Ini Klarifikasi Tim Produksi

Image

Pada Suatu Paragraf

Image

Sebagian Manusia adalah Cobaan Bagi Lainnya

Image

Prediksi Lineup Bhayangkara FC vs Persebaya Liga 1 18 Januari 2021

Image

Viral Video Gus Arya Tantang Allah di Mana? Netizen Geram

Image

Profil Haruna Soemitro : Anggota Exco PSSI yang Kontroversial

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image