Tinta Pendidikan Indonesia Saat Pandemi

Image
F. Farizi
Guru Menulis | Tuesday, 05 Oct 2021, 20:18 WIB
https://unsplash.com/photos/4V1dC_eoCwg?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink" />
https://unsplash.com/photos/4V1dC_eoCwg?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink

Keseimbangan dunia pendidikan dapat ditarik dari keseriusan menempatkannya pada tatanan tertinggi kehidupan. Plato pernah berkata “Pendidikan adalah hal paling penting bagi negara” untuk itu, setiap siapa pun seharusnya sadar akan pentingnya pendidikan. Bagaimana sekarang? Pendidikan terancam tidak berjalan dan tersentuh oleh anak-anak kita. Pendidikan seolah mati suri karena pandemi.

Hampir seluruh sekolah ditutup. Anak-anak terpaksa belajar di rumah dengan berbekal gawai dan paket data yang kadang naik-kadang turun sinyal. Menjadi penghambat belajar dan pemicu kekesalan anak yang dibebani banyak tugas sekolah. Seminggu mungkin Dodit senang bisa bersantai nan malas-malasan di rumah. Belajar kapan pun kecuali ibu-bapak guru meminta jadwal ”zoom meeting” dilaksanakan. Selebihnya Dodit lebih pusing dari ibu-bapaknya, tugas datang bertumpuk setiap mata pelajaran. Ibu-bapak guru yang tak pintar membaca situasi menemukan kunci untuk mudah mengajar daring dengan lebih banyak memberi tugas.

Sementara itu, di sekolah elite yang lebih tegas, anak-anak diwajibkan selalu menyalakan zoom atau meet dari awal jam sampai penghujung jam. Setiap jam, setiap mapel, tak perduli anak-anak memperdulikan atau tidak. Sinyal di rumah baik atau buruk. Zoom harus tetap berjalan dan guru siap sedia memberikan materi pelajaran. Ironi yang tetap dilakukan tanpa ada pembaharuan yang lebih baik. Atau karena memang tidak ada yang lebih baik?

Kebiasaan baru mungkin berarti kesadaran baru tentang bahaya laten bangsa kita yang tak bisa memikirkan jalan keluar dari masalah baru yang ada. Atau mungkin kita terlalu malas untuk memikirkan bagaimana bila hal seperti ini terjadi dan bagaimana solusi untuk menyelesaikan masalah.

Setahu saya, pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak lebih dari sekedar pilihan paksa yang dipakai sebagai kunci untuk pembelajaran sekarang. Ia belum relevan dipakai di Indonesia. Banyak faktor yang menjadi masalah, mulai dari kuota data, sinyal buruk, sampai gawai yang tak memadai, atau bahkan tak memilikinya. Belum lagi kinerja guru yang belum semua melek teknologi, membuat PJJ seakan menjadi agenda yang dipilih karena tidak ada pilihan lain.

Saya setuju dengan pilihan pembelajaran berjarak. Entah itu dari rumah, dari rumah tetangga, atau rumah pak RT. Tetapi rincian hal itu seharusnya lebih jelas. Apa hanya sekedar diartikan berjarak? Tanpa ada unsur lainnya yang diperhatikan, bagaimana dengan pembelajarannya. Itu harus dijelaskan lebih dalam ketimbang memilih jarak.

Terlepas dari pembelajaran daring yang berlaku saat ini. Saya senang sekarang sekolah sudah mulai buka. PJJ saat ini sudah tidak dipakai atau mulai dikesampingkan. Anak-anak sudah mendapatkan vaksin, tetapi harus tetap menaati aturan. Memakai masker dan menjaga jarak. Pemerintah telah mengatur jumlah anak perkelas dan berapa batasan jarak antar masing-masing anak.

Tetapi apakah permasalahan belajar selama pandemi habis sampai di sana? Tentu tidak. Anak-anak yang mulai bersekolah kembali, harus beradaptasi. Juga ibu-bapak guru yang telah lama kehilangan sentuhan mengajar secara langsung harus mulai mencari lagi rasa mengajar itu. Belum lagi mengajar dengan mengikuti aturan atau memakai masker di ruangan, cukup membuat napas berat dan susah.

Sejauh hal teknis itu, minat siswa juga harus “dipukul” kembali untuk meningkatkan semangat mereka. Semangat belajar yang mulai hilang ketika terkurung di rumah dengan segala kenikmatan yang ada. Ketika anak-anak melewati gerbang sekolah dan menghirup aroma kerinduan kayu dari meja dan kursi yang mereka tinggalkan selama pandemi. Selain itu, mereka juga harus merindui bagaimana manis dan menyenangkannya belajar di sekolah.

Pandemi menjadi persoalan baru bagi dunia pendidikan, banyak hal baru yang mesti dipahami dan dilewati bersamanya. Yang pasti, satu hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana meningkatkan mutu dan komitmen semua pihak yang merasa bertanggung jawab akan pendidikan. Bukan hanya sekedar mengisi kejenuhan dengan kembalinya aktivitas sekolah. Tetapi bagaimana sekolah itu dapat berfungsi dengan baik sebagai wadah untuk anak tumbuh dan berkembang menjadi manusia berguna bagi nusa dan bangsanya.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Dreaming, everything will be ok.

Tinta Pendidikan Indonesia Saat Pandemi

Catatan Seorang Guru

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Seberapa Penting Sih, Makan Bersama Keluarga Bagi Anak?

Image

5G yang Harus Ada Pada Guru

Image

Cara Healing Muktahir Tanpa Mahal

Image

Perlunya Branding Halal Tuorism di Indonesia

Image

Pay Later Pada Ekonomi Modern dan Ekonomi Khulafau-r Rasyidiin

Image

Membaca Fleksibilitas Hukum BITCOIN dengan kacamata Qowaidul Fiqhiyyah

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image