Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhtar Lintang

YUUK TETAP PAKAI MASKER

Eduaksi | Friday, 01 Oct 2021, 21:43 WIB

Siapa yang nggak kenal masker akhir akhir ini?, secuil kain yang sebelumnya hanya dikenal oleh orang yang sedang batuk pilek dan petugas kesehatan atau orang yang sedang ingin terlindung dari debu. Saat ini hampir semua mengenal masker walau ada yang kenal cuma namanya karena sering disebut, ada yang terpaksa kenal karena takut razia, ada yang tahu namanya karena pertentangan pemakaiannya seperti di Bekasi beberapa waktu lalu, tapi ada juga yang kenal karena fungsi dan manfaatnya. Tanpa bermaksud menempatkan masker menjadi "tuhan" dalam kehidupan kita...., tapi secara alamiah dan ilmiah (sunatullah) masker menjadi salah satu upaya manusia dalam menghadapi cobaan Alloh berupa pandemi corona virus deseases 19 (covid 19). Secara ilmiah dan alamiah masker BISA menahan droplet (partikel kecil) yang muncrat menjadi "kendaraan" bagi covid 19 menyebar ke sekeliling kita saat kita bicara, batuk atau bersin. Dari kaca mata ikhtiar....jika saja kita semua memakai masker dalam kurun waktu yang CUKUP dalam seluruh aktifitas sehari-hari..... mungkin pencegahan covid 19 dengan biaya sangat mahal bisa dihindari. Sekali lagi ini hanya upaya manusia....., bisa saja sudah makai bahkan rangkap tiga...eeh masih juga kena. Sebagai makhluk tentu kita harus memahami hal ini, apapun usaha kita al khaliq yang menentukan, sia-siakah upaya kita??, TENTU TIDAK......, setidaknya kita sudah berikhtiar, melakukan ikhtiar/berusaha itu menjalankan sunnah rasul (ingat ada kisah: sahabat yang menyatakan tawakal, pasrah diri kepada Alloh atas unta miliknya yang dibiarkan lepas begitu saja sementara akan ditinggal melaksanakan shalat, rasulullah menegurnya....., bahwa bukan seperti itu tawakal itu, ikat erat dan tambatkan untamu ditempatnya agar tidak lari, baru kamu tawakal...pasrahkan kepada Alloh).

Di ujung ujung kapung wilayah dekat Ibu Kota pun ada yang menganggap pemakai masker orang yang takut mati...."kamu memakai masker...., takut ya?" kurang lebih seperti itu ungkapannya. Yaa....akhir akhir ini pemakai masker dikaitkan dan dianggap takut menghadapi mati....., setuju! mungkin kita semua takut mati tapi alasannya bukan karena serbuan covid 19 tapi lebih pada kurang bekal, bekal hidup di sono masih dikit. Bukan alasan tepat bila makai masker karena takut mati...., ingat !! jangankan hanya dibalik selembar masker, dibalik dinding benteng yang sangat kokohpun kematian akan menjemput kita. Jadi jangan anggap orang yang memakai masker sedang berusaha menghindari kematian atau takut mati......, TIDAK!.

Sebuah analogi kecil...., Rasulullah tetap memakai baju besi saat berperang dengan kaum musrikin......Rasulullah takut mati?, tentu TIDAK!, padahal mati di medan perang adalah syahid.

Secara alamiah dan ilmiah (sunnatullah) bila kulit terkena tajamnya pedang akan terluka, dan luka yang timbul akibat pukulan pedang perang banyak menimbulkan kematian....., tapi yakinlah rasulullah menggunakan baju besi bukan karena takut mati, tapi itulah salah satu ikhtiyar rasulullah untuk memenangkan pertempurannya disamping doa doa beliau.

Kita ingin memenangkan pertempuran melawan covid 19 bukan?, kenakan masker dalam setiap aktifitas yang memaksa kita ketemu dengan orang lain dengan tanpa melupakan tawakal kepada Alloh.

Tanpa menggunakan masker artinya kita membiarkan tertular atau menularkan covid 19, dan membiarkannya hidup di dalam diri manusia. Saat ini kasus positif baru covid 19 memang melandai. Rumah sakit dan tenaga kesehatan yang berjaga ada kesempatan bernafas lega, jangan sampai jatuh kembali seperti saat saat Rumah Sakit hampir semuanya penuh, tenaga kesehatan kelelahan bersimbah peluh lalu tumbang dan rubuh.....!!!

Banyak diantara kita yang membawa covid 19 namun tidak menampakkan gejala, tidak batuk, tidak demam, tidak juga lemes, pendeknya seger buger kaya orang sehat. Nah.....dengan memakai masker......, kita seperti membuat "rumah isolasi mobile mandiri", dengan begitu aktifitas bisa dijalankan tapi penularan dan kemungkinan tertular bisa dikendalikan.

Pengalaman seorang dokter di salah satu RSUD Kabupaten Bogor yang sempat terkena dengan gejala sesak nafas karena covid menceritakan, "seperti tenggelam dalam air...... berusaha menarik nafas yang sangat sulit", kita bisa bayangkan betapa tersiksanya, yaa Alloh..... na'uudzubillaahimindzalik.

Di grup whatapp penulis ada yang posting pertanyaan tentang masker ini. Deretan pertanyaannya seperti sekedar bercanda, bergurau pengisi kejenuhan pembatasan-pembatasan yang berlaku selama ini. Sedikit dari banyak pertanyaan itu kira-kira seperti ini:

○Jika masker ber FUNGSI, kenapa jaga jarak?

○Jika jaga jarak ber FUNGSI, kenapa wajib pakai masker?

○Jika keduanya ber FUNGSI, kenapa PPKM?

○Jika ketiganya ber FUNGSI, kenapa harus wajib vaksin ?

○Dan seterusnya........

Untuk temen-temen yang punya pertanyaan serupa, mungkin catatan saya ini bisa sekedar mengurangi rasa penasaran jawaban dari pertanyaan di atas.

Sebenarnya prinsipnya sederhana....., seperti kita jaga rumah kita dari kemasukan maling....., pintu kita lengkapi dengan kunci canggih.....dan BERFUNGSI, tapi rumah kita masih ada jendela yang maling bisa juga masuk dari sana, artinya kalau jendela kita biarkan rapuh mudah dibuka si maling....tentu kita juga akan memperkokoh jendela dengan teralis dan memastikan BERFUNGSI dengan benar......, amankah rumah kita insyaAlloh aman walaupun masih ada kemungkinan maling bisa masuk dari lubang angin-angin, dari atap dari lubang-lubang lainnya, duh masih banyak lagi kemungkinan maling masuk dan harus kita antisipasi semuanya...., sangat rasioanal, kesampingkan emosi/nafsu menyikapi ini semua. Yuuuk tetep makai masker, jaga jarak, cuci tangan dengan sabun sampai keadaan benar-benar aman. Faktanya pandemi covid ini telah merenggut banyak hal dari kita....walau semua yg telah terjadi adalah takdir Alloh. Kita ihlaskan, bila diantara kita telah ditinggal saudara kerabat yang kita cintai karena terkena covid, semoga mereka syahid dijalannya. Alhamdulillaah syukur tak berbatas bila keluarga kerabat dan sahabat kita utuh tidak terdampak.

Apapun kondisi kita karena pandemi ini, yuuk kita berusaha keras untuk bisa lepas dari cobaan ini dengan ihtiar dan doa. Berihtiar sederhana yang bisa mencegah agar tidak tertular atau menularkan dengan "yuuk memakai masker". Semakin kita membiarkan penularan terjadi, maka kemungkinan kondisi akan kembali jatuh seperti saat terjadi banyak orang yang "sulit bernafas seperti orang tenggelam" akan terjadi lagi. Yuuk memakai masker....., memenuhi sunah rasul yatu ikhtiyar, hasilnya adalah qadarullah.

Wallohu a'lam

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image