Totalitas Guru Di Masa Pandemi

Image
Ummu Azka
Guru Menulis | Tuesday, 28 Sep 2021, 11:40 WIB
Sumber : Pinterest

Penulis : Ummu Azka

Digugu dan ditiru adalah julukan yang pantas disematkan bagi seorang guru. Sosoknya selalu dibutuhkan dalam menuntun generasi menuju masa depan yang lebih baik. Dari masa ke masa guru mendapati ujiannya. Jika sebelum pandemi guru di beberapa tempat terpencil mengalami kesulitan akses ke tempat mengajar. Kini saat pandemi melanda para guru mendapati tantangan yang lebih kompleks diantaranya :

1. Persiapan mental dalam mengajar.

Pembelajaran daring merupakan model baru dalam belajar dimana guru dan murid melakukan interaksi jarak jauh. Guru menjelaskan di depan layar, begitupun dengan siswa yang mendengar dan belajar melalui layar. Pola demikian ternyata membutuhkan kesiapan mental para guru karena bagaimanapun kegiatan mengajar tak hanya mentransfer ilmu pengetahuan melalui penjelasan teori.

Namun lebih jauh dari itu , mengajar adalah aktivitas mengintegrasikan tauladan dari segi sikap dan adab. Saat guru mengajar, murid tak hanya menangkap penjelasan berupa kata kata. Saat mengajar murid bisa melihat bagaimana guru menjelaskan dan bijak menjawab pertanyaan. Pun jika ada murid yang dianggap menyalahi aturan, para guru memberikan nasihat bahwa hal itu adalah keburukan yang tak patut diikuti.

Sebaliknya guru pun akan memberikan apresiasi yang layak bagi siswa yang mengikuti pelajaran dengan baik. Penjelasan teori, respon, serta sikap guru merupakan tauladan yang menjadi bekal penting bagi para siswa di kemudian hari. Itulah yang tak ditemukan dalam pembelajaran daring.

Maka dari itu seorang guru harus berjuang untuk tetap optimal menghadirkan diri dengan segenap ilmunya dalam mengajar. Meski pada faktanya tak ada yang menjamin para siswa yang berada di balik layar handphone akan menyimak penjelasan guru dengan seksama.

2. Persiapan Fisik Dalam Mengajar.

Kebijakan pembelajaran via daring yang ditetapkan selama pandemi telah menjadikan guru beradaptasi dengan kecanggihan teknologi. Hal itu bukan masalah bagi guru dengan rentan usia muda. Namun kendala teknologi menjadi sandungan utama bagi guru yang merasa sudah ada di batas ambang usia. Guru di masa pandemi harus berkenalan dengan teknologi kekinian sebagai penunjang mengajar secara daring. Membuat konten pelajaran, upload video ke youtube , hingga menjalankan aplikasi pembelajaran online merupakan tantangan tersendiri.

Penulis melakukan penelusuran kepada narasumber secara langsung, beliau adalah Ibu Siti Aisyah seorang guru agama di sebuah Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kota Serang, Banten. Usia yang tak lagi muda menjadikannya pantang berputus asa untuk terus belajar mengoperasikan teknologi sebagai prasyarat mengajar selama pandemi.

Dengan kegigihannya, guru yang tiga tahun lagi memasuki usia pensiun ini berhasil membuat chanel di youtube tempatnya mengunggah video pembelajaran. Subscribernya terhitung ratusan lebih terdiri dari para siswa yang setia mendengarkan pelajaran darinya. Dengan bekal gadget seadanya, dan kondisi penglihatan yang sudah tak lagi prima, sosok guru seperti Ibu Siti Aisyah kiranya menjadi bukti totalitas seorang guru di masa pandemi.

3. Keluhan Dari Siswa Dan Orang Tua.

Selain kendala gadget dan kuota, pembelajaran daring kini menemukan permasalahan yang lebih mendasar, yakni motivasi belajar siswa. Jika masalah kuota dan gadget bisa diatasi dengan mudah, lain halnya dengan siswa yang kurang motivasi belajar. Terhadap yang demikian ini maka guru sebagai sosok yang diandalkan harus segera turun tangan untuk melakukan konseling baik via daring maupun pemanggilan langsung.

Menurunnya motivasi belajar pada siswa ini ternyata berdampak pada psikologi para orang tua sebagai pendamping utama belajar daring. Terlebih bagi siswa usia sekolah dasar. Anak yang mengalami penurunan motivasi belajar akan membuat para orangtua mengeluarkan energi lebih untuk membimbing mereka. Di sinilah titik kritis ditemukan. Saat anak anak kehilangan motivasi belajar, bertemu dengan orang tua yang kelelahan dengan tugas rumahtangga. Lagi lagi, seorang guru dibutuhkan perannya untuk membuat suasana lebih kondusif dengan memberi masukan bagi orangtua dan siswa itu sendiri.

Sampai di sini kiranya kita yakin bahwa pandemi menjadi bukti bagi guru dalam memberikan totalitas tanpa batas dalam menjalankan tugas. Mereka berjuang sekuat tenaga, semampu upaya dalam mendidik siswa siswinya menjadi manusia beradab dan bermanfaat untuk masa depan bangsa dan negara. wallahu alam bish showab.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Work From Bali : Kebijakan Pro Pengusaha

Covid Meningkat, Solusi Tak Tepat

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Menangisi Kehilangan, Ihwal Manusia yang Posesif

Image

Tokoh-Tokoh Ahlusunnah wal Jama'ah

Image

Sejarah Terbunuhnya Husain bin Ali

Image

Mengenal Konsep Syiah Imamiyah dan Perkembangannya di Indonesia

Image

Kamu Harus Tahu, Ini Cara Mudah Menghapus Follower TikTok yang Menyebalkan

Image

Proses Konversi Golongan Syiah dan Khawarij

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image