Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mulia Rahayu

Pendidikan PAUD Era Pandemi: Tingkatkan Iman, Imun, dan Ilmu

Guru Menulis | Monday, 27 Sep 2021, 22:53 WIB

Pandemi untuk kegiatan belajar di rumah bagi anak usia dini sudah hampir 10 bulan dan belum ada kejelasan kapan akan berakhir. Para guru dan anak-anak sudah merasakan kejenuhan dalam kondisi seperti ini meskipun berbagai pihak mengupayakan untuk terus memberikan motivasi belajar daring. Hal ini tak hanya melanda Indonesia namun berbagai belahan dunia.

Adanya kekhawatiran terjadinya lost generation atau situasi seperti yang menggambarkan pasca Perang Dunia tahun 1920 silam. Kondisi generasi pasca perang itu kehilangan arah, pegangan dan tidak tahu akan berbuat apa, atau bila ada sekelompok orang berbuat sesuatu maka akan mengalami disorientasi tujuan sehingga kondisi akan semakin tidak pasti, mental pesimistik.

Dampak dari pembelajaran daring pada anak usia dini tidak semua menghasilkan nilai positif karena berkenaan dengan situasi dan kondisi masing-masing keluarga yang berbeda. Berbeda dalam memberikan motivasi, fasilitas, pendampingan atau hal lain yang berkaitan dengan pembelajaran daring anak. Hal ini pastinya akan mempengaruhi out put pendidikan yang sangat berbeda dengan generasi sebelum pandemi Covid 19.

Dari berbagai hal tersebut maka pemerintah dan berbagai pihak terkait perlu memberikan kajian yang mendalam. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diselenggarakan di usia emas berperan sebagai garda terdepan pendidikan Indonesia. Kajian tentang konsep pendidikan pasca pandemi Pendidikan Anak Usia Dini di berbagai institusi menjadi sangat urgen untuk menyiapkan konsep pendidikan masa pandemi.

Di dalam imajinasi penulis konsep Pendidikan Anak Usia Dini pasca pandemi kedepan setidaknya memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan iman, imum dan ilmu bagi anak usia dini. Ketiga aspek konsep tersebut nantinya dapat dimasukkan dalam kurikulum nasional pasca pandemi.

Pertama peningkatan iman atau religiusitas anak yang bersifat rohaniah atau afektif merupakan fondasi penting bagi anak untuk memberikan persepsi yang tepat mengenai materi kebencanaan yang bersifat alam maupun non alam. Akumulasi materi pembelajaran nilai-nilai agama dan moral perlu memahaman yang mendalam agar para guru mudah mengimplementasikan kepada anak.

Pembelajaran doa-doa untuk menolak bencana maupun disaat dilanda bencana perlu diberikan kepada anak sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Pembelajaran nilai kesabaran anak dalam menghadapi bencana alam maupun non alam juga perlu dikembangkan melalui berbagai metode seperti cerita baik itu yang berupa video maupun buku. Harapan dari peningkatan aspek ini generasi penerus bangsa pasca pandemi memiliki iman dan kepribadian yang kokoh dan tangguh dalam meghadapi masa depannya.

Kedua peningkatan imun anak usia dini yang bersifat jasmaniah atau psikomotorik anak agar mereka kelak tumbuh menjadi generasi yang kuat untuk menghadapi situasi kondisi yang tidak selaras dengan semesta. Hal urgen untuk diberikan kepada anak usia dini adalah pemberian vaksinasi Covid 19 teruji klinis bagi anak, agar nantinya dapat memiliki kekebalan tubuh.

Tidak dipungkiri apabila nanti ada varian virus dan penyakit baru maka anak usia dini yang lebih diutamakan. Hal ini tentu pan dan pendidikan pemerintah bekerjasama dengan instansi kesehatan dan pendidikan berupaya secara optimal.

Selain vaksinasi program peningkatan gizi anak yang selama ini sudah berjalan dari pemerintah melalui dana Biaya Operasional Prosedur (BOP) dan bantuan pemerintah daerah yang diwujudkan dalam Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) harus tetap diprogramkan. Sebagai contoh PMTAS BOP untuk Taman Kanak-Kanak di masa pandemic sangat dirasakan manfaatnya oleh para wali murid yang diberikan dalam bentuk bahan mentah.

Kaitan aspek jasmaniah selanjutnya adalah peningkatan fasilitas kesehatan anak di sekolah. Apabila pada masa pandemi telah terpenuhi fasilitas kesehatan yang berupa hand sanitizer, sabun cuci tangan, tempat cuci tangan, maka peningkatan sanitasi sekolah juga diperlukan.

Konsep ketiga adalah peningkatan ilmu sebagai peningkatan ranah kognitif anak dapat langsung dicantumkan dalam kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini diselaraskan dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar. Muatan materi pembelajaran yang dibingkai dalam tema maupun sub tema tentang pendidikan bencana maupun non alam.

Jika selama ini muatan sub tema bencana hanya berupa penjelasan bencana berupa banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan bencana alam lainnya maka materi bencana non alam seperti kebakaran, polusi udara, sampah dan bahaya virus perlu dipaparkan.

Hal tersebut sangat penting sebagai base basic keilmuan anak untuk menjaga diri dan kelestarian lingkungan sekitar.

Di masa pandemi anak mengena protokol kesehatan ala Covid 19 seperti memakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan lainnya maka anak juga diperkenalkan dengan protokol kesehatan lainnya terkait dengan bencana baik alam maupun non alam. Penanaman aspek kognitif atau keilmuan ini bila diterima anak di usia emas maka akan tertanam saat dia memasuki usia selanjutnya.

Semoga generasi emas penerus bangsa Indonesia anti lost generation dengan kerjasama berbagai pihak.

#GuruHebatBangsaKuat

#Pendidikan

#PAUD

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image