Digital money, peluang dan tantangan

Image
Hasna Fauziana
Bisnis | Monday, 23 May 2022, 20:17 WIB
Sumber: Google

Teknologi adalah sebuah keniscayaan yang selalu berkembang dan lambat laun membawa perubahan yang signifikan terhadap peradaban manusia berupa modernisasi dalam segala aspek termasuk halnya ekonomi. Semakin banyak generasi digital native serta generasi muda yang melek akan teknologi maka akan memungkinkan mereka tumbuh dan besar dengan transaksi elektronik. Salah satu bentuk kemudahan transaksi elektronik yang ditawarkan adalah transaksi pembayaran yang semakin efektif dan efisien melalui e-wallet atau e-money. Adanya geliat digital money akan membawa wacana baru mengenai dampak yang akan ditimbulkan justru menjadi peluang atau tantangan.

Selain itu, adanya pandemi COVID-19 secara global memaksa masyarakat di dunia termasuk Indonesia untuk beralih kepada transaksi keuangan berbasis elektronik. Walaupun perekonomian Indonesia sempat terpuruk pada kuartal I pada tahun 2020 serta kuartal II tahun 2021, namun perekonomian Indonesia bisa bangkit kembali salah satu akibat naiknya volume transaksi di pasar lewat elektronik. Transaksi non-tunai tersebut secara tidak langsung akan meningkatkan volume konsumsi di masyarakat yang pada akhirnya berdampak pada tumbuhnya industri lewat naiknya permintaan produk barang atau jasa.

Menurut Bank Indonesia, secara sederhana uang elektronik atau uang digital merupakan uang dalam bentuk elektronik melalui penyimpanan pada media elektronik tertentu dan secara sah dapat digunakan sebagai alat transaksi. Media yang dimaksudkan pun dapat berupa chip kartu maupun server dalam perangkat software atau aplikasi. Penggunaan digital money ini relatif cukup mudah dengan mengisi saldo dalam e-wallet yang digunakan kemudian melakukan transaksi pembayaran sesuai nominal harga yang ditentukan bisa dalam bentuk transfer maupun scan. Konsep e-money pada dasarnya sama dengan fungsi uang dalam bentuk moneter, justru adanya e-money ini dirancang untuk memberikan kemudahan terhadap transaksi massal yang berfrekuensi tinggi seperti pembayaran belanja retail, tol, parkir, dsb.

Pada Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri oleh kaum Muslim misalnya, volume transaksi di Indonesia meningkat untuk volume pembelian bahan-bahan kebutuhan pokok. Pada pasar modern seperti swalayan dan minimarket, arus transaksi elektronik juga meningkat berdasar pada pembayaran seacra elektronik, otomatis pula hal ini akan mengakibatkan naiknya pendapatan negara melalui perolehan pajak atas konsumsi dengan menggunakan transaksi elektronik.

Eksistensi e-money seperti ini tidak dapat diabaikan begitu saja, sebab pada dasarnya e-money sama konsepnya dengan uang yang beredar di antara masyarakat hanya saja ia melalui media elektronik, sehingga apabila ditilik lebih mendasar ia berkemungkinan akan mempengaruhi jumlah uang beredar yang ada. Eksistensi e-money akan berbanding linear terhadap jumlah uang yang beredar, sebab adanya kemudahan transaksi perekonomian maka akan membuat permintaan konsumen meningkat untuk mengonsumsi barang/jasa yang mereka kehendaki, sehingga juga akan mempengaruhi naiknya harga. Indonesia sendiri, memiliki indikator mengenai CPI (Consumer Price Index) yang kemudian disebut dengan istilah IHK (Indeks Harga Konsumen). Namun uang elektronik tidak memberikan efek yang langsung terhadap variabel moneter yang lain seperti inflasi dari nilai Indeks Harga Konsumen. Lantas mengapa demikian?

Inflasi sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor-faktor selain jumlah uang yang beredar. Sedangkan Indeks Harga Konsumen, merupakan sebuah indeks perhitungan rata-rata perubahan harga sesuai konsumsi masyarakat pada suatu periode tertentu. Namun saat masyarakat mengalami masa sulit seperti penurunan pendapatan, maka secara naluriah ia justru akan semakin selektif dan mengurangi akan kebutuhan konsumsi sehingga adanya dinamika pemakaian uang eletronik tidak berlaku dan memberikan pengaruh secara signifikan untuk indikator-indikator seperti ini, karena pada dasarnya uang elektronik hanya memudahkan dalam transaksi pembayaran dan konsumsi.

Meskipun digital money tidak berdampak secara langsung terhadap inflasi dan Indeks Harga Konsumen namun setidaknya dilihat dari sisi positif, digital money akan memudahkan pertukaran uang dengan barang/jasa sehingga dapat menghindari adanya motif spekulasi. Sebab Islam memandang uang sebagai alat tukar (medium of change) yaitu yang dimaksudkan uang dengan barang/jasa sebagai komoditas yang diperdagangkan, bukan uang dengan uang yang mengandung bunga dan riba. Fungsi uang sebagai alat tukar adalah teori yang hampir semua cendekiawan muslim amin-kan untuk dilakukan. Pada dasarnya transaksi atas uang dan barang ini adalah sebagai bentuk transaksi pertukaran, dimana uang menjadi sebuah alat untuk mendapatkan sebuah barang yang diinginkan, sehingga dapat bersama kita fahami ini adalah berhubungan dengan transaksi fisik itu sendiri dan mengindari pertukaran tanpa underlying asset. Maka ini akan menjadikan peluang bagi masyarakat yang memiliki fasilitas kemudahan bertransaksi maka akan menjadikan uang tersebut cepat beredar antar satu sama lain yang dapat menambah laju jumlah uang beredar dalam arti sempit (M1) sehingga akan berdampak positif bagi pendapatan negara salah-satunya adalah pajak oleh konsumsi yang meningkat.

Kendati demikian, semakin adanya kemudahan transaksi pembayaran namun juga tetap memiliki dampak negatif dari sisi yang lain sehingga dapat dikatakan pula sebagai tantangan yang perlu untuk diperhatikan bagi generasi pengguna digital money. Dalam teori konsumsi Islam misalnya, saat manusia melakukan konsumsi hendaknya ia memperhatikan 5 prinsip dasar salah satunya adalah kesederhanaan. QS. Al-Baqarah: 172 mengandung makna bahwasanya konsumsi yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan dan kebermanfaaatan terhadap barang yang dikonsumsi, ini akan menjadi masalah ketika seseorang yang memiliki kemudahan pembayaran transaksi ditakutkan mereka akan semakin tidak mengenali akan barang yang dikonsumsi berupa kebutuhan atau keinginan. Karena pembayaran yang semakin mudah akan dimanfaatkan sebagai promo marketing berbentuk kemudahan belanja seperti flash sale, cashback, dsb sehingga membuat masyarakat semakin konsumtif tanpa mengutamakan kebutuhannya terlebih dahulu.

Peluang maupun tantangan akan selalu turut menyertai setiap perkembangan yang ada. Manusia sebagai pelaku ekonomi dalam hal ini menyikapi adanya perubahan dan kemajuan teknologi berupa kemudahan transaksi pembayaran yaitu digital money sudah seyogyanya menjadikan hal tersebut sebagai peluang untuk menambah value dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Sekaligus, hal seperti ini akan menjadikan tantangan yang harus dihadapi pula agar manusia tetap bertahan dengan catatan tetap dalam koridor keislaman untk memperoleh kebahagiaan yang hakiki baik dunia maupun akhirat.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

PK Bapas Purwokerto Tindaklanjuti Usulan Pembebasan Bersyarat

Image

Pastikan Kondisi Aman, Petugas Rutan Jepara Rutin Lakukan Trolling

Image

Pembayaran Pajak Sarang Burung Walet Menuai Pro dan Kontra

Image

Mengenal Apa Itu Delik Pers. Apakah Hanya Berkutat Pada Kesalahan Pers?

Image

Kunjungi Rutan Jepara, Ustadz Abdurahman Berikan Tausiyah Kepada Ratusan WBP

Image

Gelar Yasinan Rutin, Kalapas Brebes : Intropeksi Diri Sarana Jadi Pribadi Baik

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image