Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhtar Lintang

Andai andai tak kan tergapai bila tak pandai

Lomba | Saturday, 25 Sep 2021, 19:26 WIB

Kapan kita pertama kali mendengar kata "pandemi"?. Orang orang yang interes pada kesehatan terlebih masuk kelompok tenaga kesehatan, mungkin sejak belajar di bangku kuliah mereka sudah mendengar istilah ini. Namun bagi masyarakat awam mungkin sangat asing dengan istilah ini, dan baru akrab akhir akhir ini setelah si covid 19 menjadi aktor utama mewarnai dinamika kehidupan kita dua tahun terakhir. Awal mula mengenal kata itu tidak lepas dari saat heboh yang terjadi di satu propinsi negeri yang jauhnya 4.195 Km dari negeri nusantara. Saking jauhnya, kita begitu tenang lebih ke santuy menanggapi kehebohannya, bahkan hanya menganggapnya sebagai konsumsi berita "b" aja (biasa saja)........, yaaa seperti dunia dalam berita atau kabar internasional yang tersaji di televisi, cukup didengar bahkan sambil lalu, tanpa harus dipikirkan, apalagi direspon dengan tindakan. Pendeknya, saat itu kita hanya menganggap sebagai berita dan kabar buruk yang dirasa oleh "orang lain" nun jauuuuh disana. Benak kita, banyak yang bilang "Nggaaak bakal nyampai di negeri nusantara tercinta ini". Faktanya, tiga bulan berikutnya berita kabar pandemi yang kita anggap mustahil nyampai ke negeri nusantara berubah nenjadi pengalaman pilu yang menggerus kokohnya ekonomi, "merusak" sendi sendi kehidupan sosial yang sekian lamanya mapan dan nyaman.

Dua tahun sudah kita dipaksa mencicipi rasanya pandemi, yang istilahnya baru saja kita kenal dan akrabi. Istilah "asing" yang cepat melambung tinggi ketenarannya seiring membubung tinggi "cerita" kasus covid 19. Saat disebut covid 19 disebut juga kata pandemi. Bahkan disetiap pernyataan baik orang penting maupun kurang penting, pernyataan formal atau plesetan sering membawa bawa kata pandemi. Ternyata pandemi sanggup membuat kita sesak nafas dibuatnya, bahkan banyak yang harus henti nafas karena gagal menetralisir "rasa"nya. Sebagian lagi ada yang menderita "sesak jiwa", sumpek dan suntuk rasanya karena aktifitas hidup yang biasanya leluasa dan asyik jadi sempit dan dibatasi. Tiba tiba zaman seperti harus berubah menjadi era baru, yang agak berbeda seperti sebelumnya. Di kantor, di sekolah, di angkutan umum, di pasar, di bioskop, di tempat ibadah, dan lain lain, semua diatur dengan "aturan hidup" baru. "Aturan hidup" yang dirasa sebagian orang memberatkan......., karena memang tidak seperti biasanya. Yang biasanya bisa ngobrol dekat dan akrab.....kini di "aturan baru" itu jadi pantangan. Yang biasanya sungging senyuman bisa diumbar sebagai tanda keramahan bangsa penghuni nusantara ini, kini harus di"kebiri" dengan masker, walaupun masih tetap tersenyum tapi tak sanggup tergambar di permukaannya. Kita mulai belajar menangkap "senyuman mata". Cuci tangan yang dulu menjadi materi pengajaran PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), kini bukan lagi sekadar menjadi bahan pengajaran, tapi harus menjadi "reflek" yang nggak perlu diajarkan dan latihan. Oh inikah yang namanya pandemi?.

Pasca ledakan covid 19 dengan varian deltanya yang "nggegirisi" bulan Juli lalu, bulan ini kita lihat angka angka yang biasa dibacakan reporter televisi nasional swasta negeri nusantara ini, disebutnya "melandai", ini karena kalau dibanding hari hari bulan sebelumnya memang jauh lebih sedikit. Tentu saja kabar "melandai" itu membuat hati girang, siapapun....., mulai dari pak presiden sampai emak emak yang sudah kebelet pingin bebas ke mall. Pertandakah pandemi segera pergi? Bila iya....., lantas apakah kita bersiap hidup bebas seperti belum terjadi pandemi? Jangan dulu tergesa bernafsu untuk hidup bergaya normal seperti dua tahun yang lalu. Kehati hatian adalah kuncinya. Transisi menuju era covid landai perlu dikemas dengan pandai. "Upacara" selamat tinggal covid bukan dalam langkah seremonial.....misalnya melepas masker rame rame (semoga tidak ada yang punya ide seperti ini)...., alhamdulillaah pak presiden bilang,"sekarang kita semua wajib memakai masker". Protokol kesehatan masih tetap menjadi kemasan apik dalam melepas kepergian covid. Performan protokol kesehatan ditengah tengah kita jangan ikut ikutan melandai, karena selagi masih ada si covid diantara kita, penularan masih tetap bisa terjadi.

Protokol kesehatan tentu saja tidak cukup hanya 3 atau 5 M saja. Kalau protokol kesehatan hanya itu, ibarat main bola, tim menerapkan strategi defensif, bertahan....., hanya berharap tidak kalah tapi sulit menang.

Perlu strategi berbeda untuk meningkatkan peluang memenangkan perlawanan.....

Pun demikian dengan perlawanan mengusir covid pergi, tidak cukup hanya menerapkan protokol kesehatan, diperlukan strategi lebih dari sekadar 3M. Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan hanya langkah berjaga dan menahan agar seseorang, secara individual tidak tertular virus yang entah dimana keberadaan di sekitar kita. Situasi saat ini kita masih menyimpan persembunyian covid 19 yang sewaktu waktu bisa timbul dan meledak kembali. Hal ini merupakan situasi bahaya yang harus secara proaktif dan berkesinambungan dikelola. Keberadaan virus covid yang saat ini "entah dimana" perlu segera diupayakan untuk diketahui. Bagaimana munkin kita memenangkan pertempuran kalau tidak mengetahui dimana musuh berada?. Oleh karena itu langkah proaktif yang paling utama mengetahui lebih jelas lagi dimana covid berada diantara kita, tentu saja melaui testing masif selektif, maksudnya dilakukan kepada semua orang yang memiliki potensi menularkan atau tertulari. Siapa mereka?

1. Orang yang nyata berinteraksi sosial ditengah masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan dengan cermat. Penerapannya pastikan orang orang yang tidak memakai masker, mereka tidak berbahaya, tidak akan menularkan virus ini karena memang dia tidak membawanya (carier). Ini menjadi tugas satgas covid 19 yang dibentuk hingga level terbawah dari pemerintahan negeri nusantara ini. Jadi hukuman push up, nyapu jalan atau ditakut takuti dengan masuk peti mati nggak perlu lagi.

2. Orang yang masuk atau keluar dari wilayah lain. Terutama orang yang akan masuk ke wilayah negeri ini, dari negara yang masih terdapat virus ini. Selain memenuhi syarat administrasi protokol kesehatan, bukti vaksin, hasil testing dari negara asal, pakai masker juga harus dan wajib test pcr di pintu masuk kita. Siapkan karantina di pintu masuk kita bila terbukti ada yang positif covid, jangan dipersilakan karantina di hotel di tengah kota.

Dua hal ini memang sudah terdengar dan terlihat, hanya disiplin pelaksanaannya yang mungkin perlu diperketat, insyaAlloh kita benar benar bisa mengatakan,"selamat jalan covid 19".

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image