Kang Pisman, Ikon Kota Bandung Menuju Zero Waste Cities

Image
Tri Wahyu Handayani
Gaya Hidup | Friday, 20 May 2022, 11:28 WIB

Saya mengenal istilah zero waste cities pada suatu acara liputan tentang persampahan yang diadakan oleh YPBB (Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan) sebuah yayasan non profit dan non pemerintah di kota Bandung.

Fokus layanan YPBB adalah mengedukasi masyarakat bersama kelompok, organisasi, atau pemerintah kota untuk secara efektif melalui program-progam agar pola hidup masyarakat lebih baik dan sehat.

Zero waste cities adalah gaya hidup dari seluruh warga masyarakat di sebuah kota yang beritikad mewujudkan kota yang minim atau nol sampah. Seperti kita ketahui sampah adalah masalah bersama yang harus dikendalikan agar bumi tetap sehat dan layak huni.

Peristiwa Leuwigajah

TPA Sarimukti sudah overload, sumber: Media Indonesia

Walaupun saya bukan asli Bandung, tetapi telah menetap di kota ini sejak puluhan tahun yang lalu.

Masih ingat di benak saya peristiwa longsornya TPA (tempat pembuangan akhir) Leuwigajah, tepatnya 21 Februari 2005. Kejadian tersebut didahului dengan suara ledakan, menimbun 2 kampung sekaligus. Kampung Cilimus dan Kampung Pojok harus kehilangan 157 warganya tertimbun longsoran sampah sepanjang 200 m dan setinggi 60 m. Longsoran sampah ini meluncur sejauh nyaris 1 km dari tempat timbunan asalnya.

Dampaknya bisa diduga, kota Bandung yang sebelumnya mendapat julukan Kota Kembang, berubah menjadi kota lautan sampah. Hal ini terjadi, karena pada saat itu kota Bandung kehilangan tempat pembuangan akhir untuk sampah-sampah dari seluruh warga Bandung.

Peristiwa yang sudah lewat bertahun-tahun yang lalu seolah menghadang di depan mata, karena TPA Sarimukti tahun 2025 akan ditutup dan dipindahkan ke Legok Nangka.

Sedangkan TPA Legok Nangka adalah TPA Regional yang kapasitasnya hanya bisa menampung sampah antara 800-1025 ton/hari, sementara itu kota Bandung sendiri mencapai 1700 ton/hari.

Untuk itu perlu langkah-langkah konkret supaya limpahan sampah terutama sampah rumah tangga bisa dikendalikan dari sumbernya.

Mewujudkan Zero Waste Cities Bersama Kang Pisman

Kang Pisman, walaupun visualisasi ikonnya akang-akang yang Nyunda pisan, dengan baju pangsi dan ikat kepala khas Jawa Barat, dia merupakan tokoh virtual.

Kang Pisman merupakan sebuah gaya hidup yang dicetuskan di tahun 2018 oleh Pemerintah Kota Bandung. Kang Pisman sebetulnya akronim dari KurANGi PISahkan dan MANfaatkan yang bertujuan agar warga Bandung agar melakukan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Artinya warga masyarakat diminta mulai mengurangi sampah, memisahkan sampah antara sampah organik, anorganik, dan limbah berbahaya. Selanjutnya memanfaatkan sampah-sampah yang sudah dipilah tersebut. Misalnya, sampah organik menjadi pupuk, kompos, pakan ternak, atau biogas. Sedangkan sampah anorganik bisa bermanfaat atau didaur-ulang menjadi produk-produk kreatif, bahan aditif untuk material konstruksi, dan lain-lain.

Melalui Peraturan Daerah Kota Bandung No. 9 Tahun 2018 telah menetapkan pemilahan, pengumpulan, pengelolaan, pengangkutan, dan pemrosesan akhir sampah.

Bahkan rencananya program Kang Pisman dikembangkan lebih lanjut, untuk penjadwalan pengangkutan sampah, menerapkan pengelolaan sampah secara holistik, mulai dari rumah, sehingga diharapkan bisa mewujudkan Bandung Zero Waste Cities.

Jadwal pengambilan sampah oleh Petugas Pengumpul Sampah tersebut adalah sampah organik setiap hari Senin, Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Sedangkan sampah anorganik dijadwalkan diangkut setiap hari Selasa dan Jumat.

Penutup

Memilah Sampah, sumber: website YPBB

Sampah merupakan hal yang tidak akan hilang selama kehidupan di bumi ini masih ada, sehingga menjadi masalah serius bagi kita semua. Membahas tentang sampah seolah tidak ada habisnya, apalagi semakin banyak jenis-jenis sampah yang ternyata tidak mudah terurai secara alami. Makin maraknya penggunaan plastik yang berujung mikroplastik yang mencemari sumber-sumber air permukaan tentunya sangat mengkhawatirkan dampaknya pada kesehatan kita semua.

Selain itu pola lama yaitu memisahkan sampah menjadi sampah organik dan sampah anorganik saja tidak cukup. Harus ada penyesuaian gaya hidup bebas sampah (Zero Waste Lifestyle) yaitu menjadi 6 langkah pengelolaan dan penanganan sampah:

Reduce (kurangi sampah)

Refuse (tolak yang tidak dibutuhkan)

Reuse (pakai lagi)

Remove (menyingkirkan)

Recycle (daur ulang)

Rally (kerja sama antar pihak)

Nah, bisa kita meminimalisir keberadaan sampah dengan 6 langkah di atas, bukan tidak mungkin Zero Waste Cities akan segera terwujud.

Semoga bermanfaat.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis lepas dan blogger. Pemerhati arsitektur, desain, dan teknologi

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Universitas Subang Jawa Barat Studi Banding Tempat Penerimaan Mahasiswa Baru UMP

Image

Rutan Temanggung Ikut Serta Dalam Tim Eks Karasidenan Kedu

Image

Peringatan HDKD ke -77, Bapas Muratara Adakan Giat Bersih-bersih Taman Makam Pahlawan

Image

Terus Mendunia, FEB UMP Gelar Konferensi Internasional ICBAEKe-3

Image

Link Download Twibbon HUT RI ke 77 2022 Premium dan Terpopuler

Image

Petugas Lapas Lubuklinggau Bersih-Bersih TMP Patria Lubuklinggu

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image