Menebar Kebaikan bagi Masyarakat di Segala Masa

Image
Muhammad Fadhli
Lomba | Saturday, 25 Sep 2021, 07:18 WIB

Tahun 2020 merupakan tahun duka bagi Indonesia dan dunia akibat pandemi Covid-19. Sedikitnya ancaman terjadi seperti percepatan penularan hingga berujung kematian yang menjadi ancaman khusus bagi masyarakat terlebih WHO sudah mengumumkan bahwa Covid 19 adalah pandemi dengan mengeluarkan saran rekomendasi ke beberapa negara untuk menerapkan protocol Kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak dan membatasi seluruh aktivitas masyarakat. Dengan kebijakan tersebut, otomatis akan merubah dari segi pola kebiasaan masyarakat pada umumnya. Upaya yang dilakukan baik pemerintah maupun stakeholder lainnya terus berikhtiar agar pandemi ini segera berakhir.

Namun dengan seiring berjalannya waktu, dengan beradaptasi kebiasan baru dan melakukan aktivitas seperti biasanya banyak sekali larangan untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19 sehingga berdampak pada aspek ekonomi keluarga. Setelah sekian lama hamper 1,5 tahun berjalan dampak pandemi Covid 19 banyak sekali permasalahan baru yang terjadi sehingga terlalu banyak fokus pada pencegahan Pandemi Covid 19 dan sedikit mengabaikan tujuan utama kita dalam pencapaian program SDGS 2030 seperti halnya aspek Pendidikan karena terlalu lama belajar Jarak Jauh, stunting makin meningkat akibat keterbatasan kesediaan pangan dan peluang usaha serta maraknya free sex karena kurang pengawasan orang tua dan guru sekita sehingga anak tersebut bisa bebas melakukan aktivitas tanpa ada yang mengawasi. selain itu aspek utama yang terjadi adalah masalah ekonomi keluarga. Ekonomi keluarga ini Sebagian besar mata pencaharian keluarga terhenti akibat Pandemi Covid 19. Melihat permasalahan tersebut, diuapayakan kekuatan kolaborasi dan Kerjasama sehingga bisa saling tolong menolong dan meminimalisir dampak yang terjadi akibat pandemi Covid 19.

Menurut data yang dimuat dari Republika.co.id yang dimuat pada 15 Juli 2020 bahwa berdasarkan paparan dari Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Suryo Utomo bahwa ada 3 dampak besar yang terjadi bagi Ekonomi Indonesia diakibatkan Pandemi Covid 19 yakni daya beli konsumsi rumah tangga yang merupakan penopang 60 persen ekonomi turun hingga 2,84 persen diakibatkan yang masuk kategori ekonomi menengah kehilangan pendapatan utama akibat Pandemi Covid 19. Dampak kedua dari pandemi ini adalah menimbulanya ketidakpastian yang berkepanjangan sehingga investasi ikut melemah dan berimplikasi pada terhentinya usaha. Dampak ketiga adalah seluruh dunia mengalami pelemahan ekonomi sehingga menyebabkan harga komoditas turun dan ekspor ke beberapa negara juga terhenti. Melihat kondisi tersebut, harus ada berbagai upaya baik kolaborasi pemerintah maupun kebijakan yang mendukung daya beli dan siklus perekonomian di kalangan menengah bisa berputar dengan baik.

Selain dari aspek ekonomi, Adapun aspek Kesehatan di luar pandemi Covid 19 ini menjadi ancama serius seperti stunting makin berkembang akibat daya pengawasan tenaga Kesehatan dan orang tua terfokus pada pandemi Covid 19. Bukan pada saat anak dilahirkan yang menjadi focus perhatian pada penanganan stunting ini melainkan pada saat remaja fase usia matang dan sudah saling mengenal antar lawan jenis. Karena faktor stunting lebih besar diakibatkan dari maraknya hamil di luar nikah serta pernikahan dini yang antara pasangannya belum memiliki kesiapan yang cukup matang dalam berumah tangga. Menurut data yang dilansir dari Republika.co.id yang dimuat pada tanggal 25 Januari 2021 bahwa menurut paparan dari Menko PMK Muhadjir Effendy angka stunting di Indonesia masih relatif tinggi, yaitu 27,6 persen pada 2019 dan diperkirakan 2020 hingga 2021 bisa terjadi kenaikan akibat pandemi Covid-19.

Selain itu maraknya pernikahan dini pada saat Pandemi Covid 19 ini menimbulkan permasalahan baru di negeri ini, pasalnya upaya pemerintah menekan angka stunting harus memberikan edukasi yang lebih untuk bisa menekan angka tersebut. Tercatat data yang dilansir dari Republika.co.id pada tanggal 21 September 2021 yang dipaparkan oleh Dr.Zulfa Sakhiyya yang menjabat sebagai Anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia sekaligus Dosen di Universitas Negeri Semarang mencatat bahwa perkawinan anak sepanjang masa pandemi Covid 19 meningkat hingga 300 persen dengan rata-rata alasan membantu ekonomi keluarga sehingga mereka diharuskan bekerja dan menikah supaya bisa mengurus kehidupan keluarganya sendiri dan mengurangi beban orang tua dalam menafkahi anaknya. Semua sentra terjadi akibat pelemahan ekonomi baik Pendidikan, Kesehatan hingga mengubah suatu karakter individu dan kelompok dari segmen keluarga.

Maka dari itu, selama Pandemi Covid 19 saya pribadi yang terlibat dalam aksi sosial kemanusiaan turut membantu dalam penanganan Covid 19 ini ikut bersama-sama serta terus memperjuangkan rekomendasi masyarakat kepada pemerintah sehingga apa yang diharapkan dari masyarakat bisa membaik seperti semula dalam rangka Bersama-sama untuk memulihkan keadaan masyarakat seperti semula minimal keluarga mempunyai pendapatan sendiri, gizi keluarga tetap harus di kontrol dengan baik serta Pendidikan dan aktivitas keluarga dapat di monitoring dengan baik untuk menghindari perilaku-perilaku yang menyimpang.

Saya pribadi bersama team dari Diferensia Foundation sebagai NGO hadir Bersama-sama untuk memulihkan Kesehatan dan ekonomi masyarakat dengan berbagai upaya program adalah Estafet Kebaikan. Estafet Kebaikan ini merupakan program yang digulir oleh Diferensia Foundation untuk Bersama-sama membantu dari mulai pedagang UMKM bisa meningkatkan daya belinya setelah itu karena di masa Pandemi Covid 19 biasanya hasil pembelian diantar secara door to door oleh Ojek Online yang bisa membantu menaikkan pendapatan pekerjasaan jasa seperti ojek online. Setelah itu diberikan kepada Penerima Manfaat Keluarga yang rentan baik dari segi ekonomi yang mengakibatkan kesulitan dalam mengakses Pendidikan serta rentan akses Kesehatan seperti stunting dan PTM lainnya.

Upaya tersebut bila jika pandemi sudah hilang pun ekonomi masyarakat serta sektor Kesehatan dan Pendidikan lainnya sudah pulih terlebih dahulu karena upaya kolaborasi dan akselerasi masyarakt untuk Bersama-sama mempertahankan kediupan yang lebih baik. Jika pandemi hilang pun memberdayakan masyarakat akan terus berjalan demi terwujudnya masyarakat yang bisa menanganai isu masalah sosial ekonomi dan kesehatan bisa diberdayakan secara mandiri.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Yuk Buka Bisnis Kosmetik Brand Sendiri, Berikut 5 Tipsnya!

Image

Generasi Milenial Melek Ziswaf: Bangkitkan Keterpurukkan dengan Industri Digital Syariah

Image

Pinjaman Online ; Sebuah Gaya Hidup Untuk Memenuhi Kebutuhan dan Keinginan.

Image

Menyambung Hidup dari Pinjol ke Pinjol ; Realita dan Problematika.

Image

Millenial, Arsitek Masa Depan Ekonomi Syariah

Image

Waspadai Varian Omnicron, Sedia 'Payung Sebelum Hujan'

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image