Andai Pandemi Pergi, Akankah Ekonomi Indonesia Pulih?

Image
Ari Faturrokhmah
Lomba | Friday, 24 Sep 2021, 02:39 WIB

Pandemi Covid-19 yang melanda negara dunia sudah hampir 2 tahun berlangsung. Ada secercah harapan tatkala grafik indikasi positif melandai. Namun tak berapa lama, grafik kembali menanjak. Di awal tahun 2021, tepatnya 30 Januari lalu, republika.co.id mempublikasikan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia mencapai angka tertinggi dilebih dari 14.500 kasus dalam sehari. Kemudian jumlah kitu berangsur turun pada bulan-bulan setelahnya.

Sayang, angka tersebut tak bertahan lama. Gelombang kedua pandemi menghujani Indonesia pada Juli lalu dengan capaian kasus positif menembus angka 50 ribu kasus perhari. Kontan saja, pemerintah mengambil langkah cepat Pemberlakuakn Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat se-Indonesia, yang berdampak pada semakin melambatnya roda perekonomian.

Banyak tempat usaha yang tutup, rantai produksi terputus, hingga menjalar ke sisi permintaan dan merosotnya nilai investasi. Pembatasan juga menimbulkan goncangan di pasar keuangan dan sektor riil.

Ya, bagi Indonesia dampak pandemi cukup memberikan pukulan luar biasa. Ekonomi domestik pada kuartal I/2020 mengalami pertumbuhan yang lebih rendah hampir 50 persen.

Meski resesi Indonesia terbilang kecil dibanding tingkat dunia, namun jutaan orang kehilangan pekerjaan, sehingga ada 3 juta orang jatuh dalam lingkaran kemiskinan. Jika sudah begini, Indonesia pun semakin terpuruk.

Dalam menangani dampak ekonomi, berbagai kebijakan diarahkan pada sejumlah prioritas. Diantaranya penyediaan dana untuk penanganan kesehatan, penyaluran bantuan jaringan pengaman sosial, hingga stimulus dukungan ekonomi untuk dunia usaha.

Pemerintah pun harus menambah utang negara karena besarnya pengeluaran, ibarat besar pasak daripada tiang. Tambahan utang tersebut diperlukan untuk menutup defisit akibat membengkaknya pengeluaran.

Pertanyaan yang muncul kemudian, akankah Indonesia bisa terbebas atau paling tidak, pulih dari situasi lilitan utang negara yang menghimpit akibat pandemi Covid?

Mungkin saja, tetapi butuh berapa lama? Entahlah.

Apalagi tren pemulihan ekonomi di berbagai negara tidaklah merata. Buktinya, pasar keuangan juga belum mengalami perbaikan secara merata akibat masih tingginya ketidak pastian global yang direspon pelaku pasar.

Agar ekonomi bisa bangkit, penting untuk dilakukan perubahan dan transformasi. Pasalnya, krisis kesehatan dan ekonomi karena pandemi, berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia berada di bawah level fundamentalnya untuk jangka waktu bertahun-tahun.

Namun jika berkaca pada perekonomian global, sudah ada pertanda baik, contohnya saja Amerika Serikat, China dan Jepang. Publikasi terbaru menunjukkan bahwa Amerika beringsut lebih dekat ke normal. Sinyal pemulihan itu terlihat pada kuartal I/2021 dimana AS mengalami pertumbuhan ekonomi mencapai 6,3 persen. China, sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, mencatatkan pertumbuhan 18,3 persen dikuartal yang sama. Sementara ekonomi negeri sakura, Jepang, pulih lebih dari yang dibayangkan pada kuartal II/2021.

Lantas kapan indonesia menyusul? faktanya, kita harus sadar bahwa pandemi menyebabkan kontraksi yang diperparah dengan pertumbuhan di bawah potensi. Hal ini akan diperkirakan berlangsung sepuluh tahun jika kita tidak melakukan perubahan-perubahan dari segi kebijakan maupun perbaikan investasi.

Jika seandainya kontraksi yang dialami Indonesia sebesar 2%, kita butuh 1% di bawah potensi atau 4%. Mungkin kita perlu waktu hingga dua atau tiga tahun kedepan, atau bahkan lima tahun untuk mengembalikan situasi seperti pre-Covid-19.

Yah, mungkin saja, perekonomian Ibu Pertiwi bisa pulih secepatnya, mungkin saja dengan program vaksinasi yang berjalan dengan baik akan berpengaruh pada positifnya laju investasi. Namun perlu diingat, optimisme terhadap percepatan pemulihan ekonomi Indonesia ini juga perlu didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif serta dukungan belanja infrastruktur yang berkelanjutan.

Untuk mendukung pemulihan ekonomi, perlu pula memperhatikan berbagai aspek dengan menciptakan keseimbangan antara bergeraknya kegiatan ekonomi yang disesuaikan protokol kesehatan, disamping kebijakan akomodatif yang harus terus diimplementasikan.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Menangisi Kehilangan, Ihwal Manusia yang Posesif

Image

Tokoh-Tokoh Ahlusunnah wal Jama'ah

Image

Sejarah Terbunuhnya Husain bin Ali

Image

Mengenal Konsep Syiah Imamiyah dan Perkembangannya di Indonesia

Image

Kamu Harus Tahu, Ini Cara Mudah Menghapus Follower TikTok yang Menyebalkan

Image

Proses Konversi Golongan Syiah dan Khawarij

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image