3 Penyebab Kerugian pada Diri Manusia

Image
Mohamad Su'ud
Agama | Saturday, 14 May 2022, 07:42 WIB

Dalam edisi sebelumnya, saya membagi tulisan tentang Spirit waktu dari ayat pertama surat Al-Ashr.

Dalam ayat kedua, Allah berfirman,
اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ
"Sungguh, manusia berada dalam kerugian"
Mengapa manusia dalam kerugian? Uraian di bawah ini terkait dengan ayat setelahnya di surat yang sama.

Ada tiga hal yang yang menjadi penyebab kerugian diri yaitu:

1) Abai dengan potensi diri
Tidak mungkin Allah membiarkan hamba-Nya tanpa bimbingan, tanpa instrumen pendukung. Kadang manusia sendiri yang tidak menyadari.

Potensi akal, rasa, jiwa adalah karunia luar biasa yang bisa mengantarkan seorang hamba menjadi pelaku di muka bumi. Ingat, identitas kita adalah Kholifah fil Ardhi.
Jangan merasa lemah, minder dan malu. Setiap diri menyimpan kekuatan, hanya saja belum tergali secara maksimal.

Kita sudah diingatkan keras oleh firman-Nya, artinya: "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."
Anda, saya dan semua orang adalah hebat, di tempat dan momen yang berbeda. Tergantung, kita menyadari atau tidak?


2) Tidak peduli dengan orang lain
Bukti orang beriman terpancar dalam kehidupan. Memberi manfaat bagi yang lain. Bila hanya berpikir untuk diri sendiri, maka orang kafirpun bisa melakukan.
Ada dua kutub yang harus berimbang, Hablum Minallah dan Hablum minannas.
Rosulullah peduli dengan yatim piatu, Rosulullah mencintai fakir miskin. Kurang apa dekatnya Nabi Muhammad Saw dengan Allah SWT? Rosulullah tidak melupakan sisi sosial.

Peduli, berderma, empati, kasih sayang, ringan tangan, dan sebagainya adalah karakteristik mukmin.


3) Menganggap tugas orang lain
Ini urusan peran individu, bukan orang lain. Kalau kita mampu, mengapa diam? Orang lain memiliki maksud dan tujuan, yang kita tidak tahu.
Jangan berfikir, ketika orang lain sudah berbuat terus kita diam? Kita bisa mengisinya dibagian yang masih "kosong".

Justru orang lain menjadi Spirit bagi pribadi untuk berbuat. Bukan menunggu atau sekedar penonton.

Bukankah Nabi membolehkan iri 2 hal ini, sebagaimana Hadits berikut, "Dari Ibnu Umar r.huma, berkata bahwa Rasulullah SAW Bersabda: “Tidak diperbolehkan hasad (iri hati) kecuali terhadap dua orang: Orang yang dikaruniai Allah (kemampuan membaca/menghafal Alquran). Lalu ia membacanya malam dan siang hari, dan orang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia menginfakannya pada malam dan siang hari.” (Hr. Bukhari, Tarmidzi, dan Nasa’i)"
Setiap kita bertanggung jawab terhadap amal kebaikan yang kita lakukan.


Semoga kita termasuk orang-orang produktif dan bermanfaat.
InsaAllah.

Ilustrasi (M. Su'ud)
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Aktifis Muhammadiyah. Saat ini aktif menulis dan editor beberapa buku. Juga mengelola beberapa channel kajian di telegram.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Ekspresikan Dengan Buku

Image

Menjadi Bangsa yang Terdidik

Image

Sepucuk Malam

Image

Mp3 Juice: Converter Paling Gampang 2022 Hanya Masukkan Link

Image

Peradaban Buku

Image

Waspada Saat Libur, Kalapas Kelas I Palembang Periksa Kesiapan Petugas Pengamanan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image