Book Share: Ajaran Kiai Gontor (72 Wejangan Hidup KH. Imam Zarkasyi)

Image
Iqbal Maulana
Eduaksi | Thursday, 16 Sep 2021, 22:30 WIB
Buku karya Muhammad Ridlo Zarkasyi (Putra bungsu dari Imam Zarkasyi). Buku ini menceritakan kisah perjalanan hidup Ridlo yang dibesarkan dengan pendidikan karakter yang ditanamkan oleh sang Ayahanda yaitu Imam Zarkasyi. | Dok. Pribadi: Iqbal Maulana

Perjalanan seorang Muhammad Ridlo Zarkasyi yang dibesarkan dengan kehidupan yang sederhana oleh sang Ayah, membuatnya menjadi pribadi yang handal sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sang Ayah, yaitu KH. Imam Zarkasyi.

Sejak kecil putra-putri KH. Imam Zarkasyi sudah diberikan tanggung jawab yang besar, diajarkan kemandirian dan berwiraswasta, dibiasakan menjadi pribadi yang sederhana, dan tak dikenalkan dengan materi (uang) dalam melakukan setiap pekerjaan.

Metode Pendidikan Karakter yang dilakukan di PONPES Gontor antara lain: Pembiasaan KEDISIPLINAN dengan ketatnya peraturan dan tata tertib. Memperbaiki MENTAL santri yang dilakukan dengan cara menanamkan kata-kata mahfuzat ke dalam jiwa setiap santri. KEMANDIRIAN dan TANGGUNG JAWAB, santri diwajibkan mencuci pakaiannya sendiri, menjaga kebersihan kamar, dan lingkungan PONPES, dan diberikan tugas untuk mengikuti berbagai organisasi. KEWIRAUSAHAAN, santri dituntut untuk dapat menciptakan suatu produk yang dapat menghasilkan nilai manfaat.

1. Kedisiplinan

Disiplin adalah kerelaan individu yang berasal dari dalam hati untuk mematuhi segala tata tertib yang berlaku. Disiplin terbentuk melalui proses yang dilakukan oleh sikap, baik berupa ketundukan, ketenangan, hingga kebiasaan.

Kedisiplinan inilah yang nantinya akan membuat impian kita dapat terealisasikan seiring berjalannya waktu. Disiplin mampu merubah kelemahan menjadi kekuatan, terutama kekuatan mental dan spiritual.

Ada yang sudah pernah menonton film Negeri 5 Menara?

Di sana banyak digambarkan bagaimana disiplin benar-benar diterapkan setiap hari di PONPES Gontor, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dan bagi mereka yang melanggar, maka sanksi pun siap mereka dapatkan.

Lonceng yang sampai saat ini masih terdengar suaranya yaitu Jaros. Benda yang paling ditakuti oleh seluruh santri di Pondok Pesantren Gontor.

Saya adalah salah satu santri dari Mahasantri lulusan Gontor. Di mana saya digembleng dan dididik layaknya seorang prajurit yang harus mematuhi dan menjalankan setiap aturan yang ditetapkan. Seperti menjaga koperasi, melakukan kebersihan area pondok dan lain sebagainya. Dan itu dilakukan tanpa adanya pujian, yang ada hanyalah didikan dan nasihat agar lebih baik lagi, dan lebih teliti lagi.

2. Mental

Dalam pendidikan mental di PONPES Gontor dijelaskan dalam buku ini dengan menanamkan kata-kata hikmah atau kalimat pemantik. Kalimat pemantik tersebut adalah mahfuzat yang ditanamkan pada diri santri sejak awal mereka masuk ke PONPES Gontor.

Lalu bagaimana dengan pendidikan orang dewasa?

Dalam buku Ajaran Kiai Gontor, pendidikan orang dewasa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan berkumpul dan bertukar pikiran baik itu yang bersumber dari bahan bacaan maupun pengalaman yang telah dialami oleh seseorang. Dan pengalaman itu terdapat di mana saja, bisa dari diri sendiri maupun orang lain yaitu pengalaman atas kegagalan/keberhasilan dalam usaha, cerita orang dalam seminar atau book share seperti yang kita lakukan pada malam hari ini.

3. Kemandirian dan Tanggung Jawab

Para santri dibekali dengan kemandirian. Mandiri artinya mampu melakukan segala sesuatu dengan sendiri. Berdiri di atas kaki sendiri, tidak bertumpu atau berharap lebih pada bantuan orang lain. Selagi mampu mengerjakan sendiri, maka ia akan melakukannya sendiri. Tanggung jawab dapat diberikan kepada santri atau siswa dengan memberikan beban tugas seperti mencuci baju sendiri, menjaga kebersihan lingkungan, menjaga koperasi PONPES dan hal lainnya yang dapat menumbuhkan sikap mandiri dan tanggung jawab.

4. Kewirausahaan

Di pesantren para santri diajarkan untuk mampu membuat atau menciptakan suatu produk yang memiliki nilai manfaat tinggi dan bersifat ekonomis. Seperti membuat kerajinan tangan, produk makanan, kosmetik maupun tekstil. Semua diajarkan guna menciptakan generasi wiraswasta

Dalam hidup pasti kita diberikan ujian dan permasalahan yang harus diselesaikan. Itu adalah jembatan untuk menjadi manusia yang unggul, yang dapat menjadikan pembelajaran untuk memperoleh pengalaman di masa yang akan datang.

Menurut KH. Imam Zarkasyi, jika mendapatkan permasalahan hidup maka dihadapi dan diselesaikan dengan baik, jangan malah pergi meninggalkan permasalahan tersebut atau hanya mengeluh tanpa adanya action dalam diri.

Kegiatan Book Share KOMED Banten yang dilaksanakan pada (18/09/21) melalui grup WhatsApp. Dengan jumlah peserta 158 orang peserta se-Indonesia.

Dalam Kegiatan Book Share KOMED Banten, Iqbal Maulana selaku narasumber, beliau mengungkapkan "Pendidikan karakter yang dilakukan oleh KH. Imam Zarkasyi kepada anak-anaknya adalah hal yang patut dicontoh oleh orang tua zaman sekarang. Di mana hal itu hampir hilang ditelan oleh kecanggihan teknologi. Banyak orang tua yang lebih mengajarkan kepada anaknya untuk hidup bermewah-mewahan, tidak disiplin menggunakan gadget dan anak tidak diajarkan untuk menjadi problem solver yang baik (dimanjakan)". Tukasnya dalam mengakhiri sesi materi.

Niat adalah hal utama yang harus ditanamkan dalam diri sebelum memulai suatu aktivitas. Dalam buku Ajaran Kiai Gontor 72 Wejangan Hidup KH. Imam Zarkasyi mengatakan "Perbaiki niat belajarmu sebelum masuk ke pondok pesantren". Itu pesan yang sering ucapkan KH. Imam Zarkasyi kepada para santri baru. | Dok. Pribadi

Niat artinya setiap anak dan santrinya selalu diberikan wejangan untuk memperbaiki niatnya dalam belajar maupun bekerja dan berwiraswasta. Menurut KH. Imam Zarkasyi “Orang yang benar niatnya akan menemukan ilmu yang bermanfaat dan berkah. Akan mudah baginya memberikan kemanfaatan ilmunya. Bagi orang pandai, akan mudah baginya menggunakan kepandaiannya untuk membantu orang banyak atau menebar manfaat meskipun tanpa salery”.

Keyakinan memiliki jiwa percaya diri dan percaya Tuhan. Maksudnya bagaimana? Setiap santri atau siswa diajarkan untuk memiliki keyakinan atas pilihan dan tindakan yang akan ia ambil, sebagai jembatan menuju keberhasilan. Santri diberikan kebebasan untuk mengembangkan Life Skill yang dimilikinya. Gunanya untuk menumbuhkan keyakinan pada potensi yang ada dalam dirinya.

Hal-hal yang diajarkan kepada anak dan para santrinya yaitu menanamkan kedisiplinan, pembentukan mental, tanggung jawab, kemandirian dan kewirausahaan.

Terakhir, dengan membaca buku, kita belajar banyak hal, ide atau pengalaman hidup yang pernah dihadapi oleh seseorang di masa lampau. Itu semua bisa kita jadikan bahan renungan untuk dapat dijadikan sebagai sumber referensi agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mahasiswa dan Penulis

Artikel Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

The Power of Curhat: Jangan Dipendam, Ini Tiga Cara Positif untuk Meluapkan Perasaan

Image

Review GB Whatsapp Apk & Fitur Unggulan Terbaru 2022

Image

Download Video Tiktok Tanpa Watermark Secara Online di Android dan iOS

Image

Kangen Water Penipu? Ini Penjelasan Sebenarnya

Image

5 Fakta Unik di Balik Popularitas Jajanan Khas Korea

Image

Pengalihan Hutang Dalam Islam

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image
-->