PROBLEMATIKA DAN IMPLEMENTASI PENDIDIKAN DI ERA COVID-19

Image
Iqbal Maulana
Guru Menulis | Tuesday, 14 Sep 2021, 19:37 WIB
Kegiatan Pembelajaran Daring yang dilakukan oleh para guru Komunitas Media Pembelajaran (9/9/2021) melalui ruang zoom meeting, dengan tujuan bertukar pengalaman tentang menghadapi pembelajaran di era Covid-19. | sumber foto: Iqbal Maulana.

Oleh: Iqbal Maulana, S.Pd.

Pendidikan di Indonesia satu setengah tahun belakangan ini berbeda dengan pendidikan pada lazimnya. Semenjak dikeluarkannya SE Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 4 tahun 2020 pada (03/20). Hal tersebut, memunculkan banyak polemik yang harus dihadapi, baik oleh siswa, guru maupun kepala sekolah.

Problematik yang muncul pun cukup krusial. Hal tersebut mengakibatkan banyak tenaga ahli di bidang pendidikan hingga seorang profesor berlomba-lomba dalam mencarikan solusi atas peraturan baru yang harus dilaksanakan dalam pendidikan di era Covid-19. Istilah-istilah baru dalam dunia pendidikan pun mulai bermunculan, mulai dari Belajar dari Rumah (BDR), Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), belajar dalam jaringan (DARING), hingga yang terakhir Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT).

Ilustrasi Program Tahunan, Program Semester dan Silabus. Ketiganya adalah instrumen yang menjadi acuan untuk tercapainya KBM yang dilakukan oleh guru di sekolah. | Ilustrator: Iqbal Maulana.

Belajar dari rumah (BDR), siswa dan guru bersama-sama bersinergi untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik. Dalam pembelajaran dari rumah (BDR) guru dan sekolah tidak dituntut untuk dapat menyelesaikan pembelajaran sesuai silabus, program tahunan (PROTA) maupun program semester (PROMES). Titik tumpu dalam belajar dari rumah adalah berfokus pada berjalannya proses pembelajaran dengan baik antara guru dan siswa.

Mengapa demikian?, karena pada tahap awal kebijakan belajar dari rumah (BDR) diterapkan, banyak problematik yang bermunculan ke permukaan, di antaranya: pertama, siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal itu disebabkan karena tidak adanya fasilitas teknologi yang mendukung (gawai atau laptop).

Diskusi bersama guru-guru se-Indonesia dalam kegiatan pembinaan anggota komunitas guru dalam mengimplementasikan pengajaran (public speaking) di era Covid-19, Sabtu (14/08) | Dokumen pribadi: Iqbal Maulana.

Kedua, siswa memiliki fasilitas teknologi yang mendukung, akan tetapi terkendala dengan kuota atau jaringan internet. Dampaknya siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran secara tuntas, bahkan ada yang sampai terlewat tidak melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini amatlah mengganggu dalam proses pembelajaran dari rumah. Siswa yang dapat mengikuti pembelajaran pun tidak sampai 50% dari jumlah siswa keseluruhan. Ini terjadi pada siswa yang tinggal di pedesaan.

Lain halnya dengan siswa yang tinggal di perkotaan, pembelajaran dari rumah amatlah mudah untuk diakses dan dijalankan. Mengingat fasilitas teknologi, kuota dan jaringan internet amat mudah untuk didapatkan bagi masyarakat menengah ke atas. Namun, berbeda dengan siswa yang memiliki taraf ekonomi menengah ke bawah, meski mereka tinggal di perkotaan, pembelajaran tidak dapat diakses oleh semua, karena tidak adanya sumber pendapatan untuk membeli kuota internet.

Potret pendidikan di era Covid-19 menjadi kisah sejarah yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran untuk menciptakan proses pembelajaran jarak jauh yang berkualitas. Sebagaimana program pendidikan yang tengah digaungkan oleh Menteri Riset, Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Nadiem Makarim tentang Merdeka Belajar.

Saya yakin ke depan dengan adanya program Merdeka Belajar, sudah barang tentu prosesi pendidikan di Indonesia dapat memadukan antara pembelajaran tatap muka dengan berbasis online. Jika dulu, kampus yang hanya melakukan PJJ adalah Universitas Terbuka (UT) saja, ke depan banyak kampus atau sekolah bertaraf internasional yang mulai memadukan antara keduanya yaitu pendidikan tatap muka dan pembelajaran jarak jauh untuk dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas.

Permasalahan pendidikan lain yang muncul dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) di era Covid-19 adalah siswa tidak dapat memahami materi yang disampaikan oleh guru. Hal itu berimbas kepada psikologis siswa yang tidak mampu mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Faktor yang menjadi penghambat siswa tidak mampu memahami materi adalah kurang detailnya penjabaran materi yang disampaikan oleh guru, siswa tidak fokus dalam mengikuti pembelajaran online, dan gangguan lain di lingkungan sekitar yang menjadi faktor kurang disiplinnya siswa dalam memahami materi pembelajaran jarak jauh.

Berdasarkan beberapa faktor penghambat yang bermunculan, para guru mulai memutar otak untuk mencarikan solusi atas permasalahan yang terjadi. Tujuannya satu, yaitu agar pembelajaran jarak jauh dapat berjalan dengan maksimal dan selaras, baik antara siswa dengan guru maupun guru dengan sekolah.

Hal-hal yang dilakukan oleh guru adalah: pertama, mencari aplikasi pembelajaran yang mudah digunakan dan dijangkau oleh para siswa. Ini merupakan implementasi yang dilakukan oleh seorang guru agar dapat menjalankan pembelajaran jarak jauh sesuai harapan. Kedua, guru melaksanakan kunjungan ke rumah siswa dengan PROKES yang ketat, tujuannya tidak lain adalah untuk mewadahi para siswa yang tidak dapat mengikuti proses pembelajaran jarak jauh, yaitu bagi mereka yang memiliki permasalahan ekonomi maupun kurangnya fasilitas teknologi yang dimiliki.

Selain seorang guru yang berkunjung ke rumah siswa yang kurang mampu, para guru juga tidak mau kehabisan ide, bagi mereka yang kurang memahami materi yang disampaikan melalui pembelajaran jarak jauh, guru mengundang para siswa untuk menemui guru bidang di sekolah dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Tujuannya adalah agar siswa mampu memahami materi yang telah disampaikan oleh guru. Sehingga, siswa mampu mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh guru secara maksimal.

Menurut Prof. Yohannes Surya pada dasarnya tidak ada anak yang bodoh di muka bumi ini, yang ada hanyalah siswa yang belum mampu menemukan guru dan metode pembelajaran yang sesuai. Sedangkan menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam tulisan yang ditulis oleh Nabila Arfiati dalam situs kompasiana.com, setiap anak itu diciptakan dengan keadaan yang pandai. Proses belajar dan kesabaranlah yang membuatnya mampu memahami materi pembelajaran atau ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh seorang guru.

Terakhir, penulis ingin berpesan bahwa, setiap proses pembelajaran itu dapat terlaksana dengan baik meskipun dalam keadaan darurat. Kuncinya adalah satu tekad yang kuat, ketabahan, keikhlasan dalam proses pembelajaran dan mencari metode serta media pembelajaran yang sesuai untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mahasiswa dan Penulis

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

LITERASI DIGITAL DAN PERAN GURU SAAT PANDEMI

Image

Pagebluk dan Wajah Murung Pendidikan Indonesia

Image

Jangan Kau Beri Tahu Kepada Mereka

Image

Andai pandemi pergi, MAHASISWA KESEHATAN MEMBUTUHKAN PRAKTIKUM DI LAPANGAN BUKAN SEKADAR TEORI

Image

Enam Tip Memilih Reksa Dana Terbaik untuk Pemula, Nomor 2 Sering Disepelekan

Image

PANDEMI CORONA MEREDA SEMUA KEMBALI CERIA

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image