Nada Cinta

Image
Sutanto
Sastra | Friday, 06 Aug 2021, 13:39 WIB

Permainan organ tunggal Prasetyo tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Melalui Pras Entertaiment yang didirikan sejak sepuluh tahun silam, dia telah meramaikan berbagai even skala kecil maupun besar di Kota Yogyakarta.

Kesuksesan Prasetyo di jagat hiburan, tak berbanding lurus dengan perjalanan cinta. Menapak usianya yang ketigapuluh, Prasetyo telah menyandang predikat sebagai duda. Perkawinan yang dilakoni bersama Novi tak bertahan setahun karena ketidakcocokan dengan sang ibu.

Pras, kamu harus menemani Ibu. Istrimu juga harus mau tinggal di sini, pinta Sang Ibu waktu itu.

Kata-kata itulah yang memicu masalah, karena Novi tak mau serumah menemani ibunda Prasetyo dan berujung kepada perceraian.

Lelaki yang juga menjadi guru honor di SMA swasta itu tak ingin larut dalam kesedihan dan kesendirian. Ia mencoba melabuhkan hati pada guru sekolah dasar bernama Ningrum, seorang dara berusia duapuluhempat tahun. Sebenarnya gadis itu telah memberi lampu hijau, tetapi sayang ibunya belum merestui.

"Maaf Nak Pras, sebaiknya jauhi saja Ningrum. Dia mau saya nikahkan dengan pengusaha kaya," pinta Bu Dewi, ibunya Ningrum seminggu lalu.

Prasetyo bukan tipe lelaki yang mudah menyerah dengan masalah, ia tetap berupaya tetap menjalin hubungan dengan Ningrum.

Mas Pras benar-benar serius dengan saya? tanya Ningrum saat keduanya menikmati es degan sambil menikmati deburan ombak di Pantai Depok.

Prasetyo tak segera menjawab, dipandangnya gadis yang dicintai itu. Jelas serius Ning, kapan aku pernah main-main. Apalagi berkait dengan perasaan.

Syukurlah kalau begitu. Aku juga tak akan pernah mempermainkan perasaan Mas.

Ningrum menghela napas panjang, tampak keresahan hati terpancar dari raut mukanya yang murung. Keinginan Sang Ibu hendak menjodohkan dengan Reno si Pengusaha Kaya amat mengganggu pikirannya.

Kok malah murung, apa yang mengganggu pikiranmu? tanya Prasetyo.

Tentu saja masalah keinginan ibu menjodohkanku. Mas tahu sendiri kan, tak mungkin hatiku mendua, sahut Ningrum.

Prasetyo mencoba menenangkan pujaaan hatinya, Sudahlah, jangan terlalu menjadi beban pikiran. Kita jalani saja hari-hari kita dengan apa adanya. Aku akan tetap berupaya melunakkan hati ibumu, namun apabila sampai puncak perjuanganku aku gagal berarti takdir harus kita terima.

Ningrum mengangguk, kata-kata bijak Prasetyo mampu menyejukkan hatinya. Tak salah dia melabuhkan harapan kepada pria itu.

***

Malam itu Prasetyo sedang melakukan perjalanan pulang dari gedung Madu Candya. Sejak jam tujuh sampai jam sembilan malam, dia mengiringi penyanyi andalannya Noni dan Reni dalam acara resepsi pernikahan. Keduanya mampu memuaskan tamu yang hadir dengan lagu nostalgia, langgam jawa, pop modern. Bahkan banyak permintaan lagu maupun sumbangan dari hadirin. Kedua biduanita tersebut mampu menjadi magnet penonton, sehingga namanya makin berkibar di jagad hiburan.

Dingin udara malam tak dirasakan oleh lelaki yang sudah setahun menduda itu, karena sudah menjadi rutinitas yang dilakukan selepas pentas selalu pulang malam. Jalan Bantul telah dia lalui dengan lancar karena lalu lintas tidak terlalu padat.

Sejak motornya memasuki Jalan Parangtritis, perasaan Prasetyo tidak enak seakan ada orang yang mengikutinya. Tetapi karena merasa tidak memiliki masalah dengan seseorang dia berusaha tetap tenang. Selepas perempatan Manding, tiba-tiba dua orang yang berboncengan sepeda motor Ninja memepetnya dengan mendadak. Prasetyo oleng, tetapi masih bisa menguasai kendaraan. Dia membelokkan motornya ke timur masuk dusun, pengendara Ninja tetap mengejarnya.

Ketika pembonceng Ninja tiba-tiba menjejakkan kaki ke motor Prasetyo, otomatis dia terjatuh dari motor, berguling-guling di jalan beraspal dan tak ingat apa-apa lagi.

***

Saat sadar dari pingsannya, Prasetyo telah berada di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul. Ada dua lelaki yang menunggu, yang satu berperawakan sedang berambut ikal bernama Rudi, sedangkan satunya berbadan tegap dengan potongan rambut cepak berkulit sawo matang bernama Edi. Rudi merupakan sahabat Prasetyo sesama guru honorer, sedangkan Edi adalah teman SMP yang berprofesi sebagai Polisi.

Syukurlah Pras, kalau kamu sudah siuman. Hampir satu jam kamu pingsan tadi, sapa Rudi.

Jangan banyak bergerak dulu, mungkin badanmu masih sakit, timpal Edi.

Setelah membuka mata beberapa saat, Prasetyo menjawab, Oh, kenapa aku bisa berada di sini?

Apa kamu tidak ingat, kamu jatuh dari motor karena dicelakai pengendara Ninja. Berguling di aspal dan pingsan. Untung saja banyak warga yang menolongmu dibawa ke rumah sakit, jelas Rudi.

Berkat laporan warga yang menolongmu, aku sudah mencatat nomor polisi motor Ninja yang dipakai pelaku. Semoga bisa segera diketahui identitasnya, terang Edi.

Prasetyo tersenyum seraya mengucapkan terima kasih atas bantuan sahabatnya yang tulus membantu saat dia mengalami musibah.

Luka yang diderita oleh Prasetyo hanya bagian luar saja dan tidak parah, sehingga dia diperbolehkan pulang dan hanya diminta untuk beristirahat beberapa hari agar segera pulih seperti sediakala.

***

Reno adalah salah satu pengusaha muda yang terbilang sukses. Biro perjalanan umrah miliknya ada di beberapa kota: Yogyakarta, Surabaya, Bandung dan Jakarta. Sampai usia tigapuluhlima tahun dia juga belum memiliki istri. Tetapi bukan berarti dia tidak tertarik dengan perempuan, karena dengan uang melimpah leluasa berganti pasangan. Tentu saja hal ini sekedar menjadi hiburan bagi Reno, tidak mengarah kepada hubungan serius sampai ke jenjang pernikahan.

Sebuah petualangan cinta tak selamanya nyaman dilakukan. Suatu saat akan sampai pada titik jenuh. Belakangan ini Reno mulai berpikir kepada jalinan hubungan yang serius dengan seorang gadis. Pilihan hatinya jatuh kepada Ningrum, seorang guru sekolah dasar yang manis dan keibuan. Ibu dari gadis tersebut merestui, tetapi Ningrum sendiri belum menunjukkan tanda-tanda menerima cintanya.

Sore itu Reno menemui Bu Dewi dan Pak Heru, orangtua Ningrum. Tak lupa dia membawa makanan favorit menreka.

Pak, Bu. Ini saya bawakan gudeg dan bakpia, ujar Reno setelah dipersilakan duduk. Ah, Nak Reno ini. Kok repot-repot lho.Tahu saja kesukaan kami, sahut Bu Dewi sambil menerima oleh-oleh.

Tidak repot kok, sekedar buah tangan saja untuk Bapak dan Ibu.

Kedua orangtua Ningrum duduk di hadapan Reno. Melihat raut muka tamunya, Bu Dewi melihat ada hal serius yang hendak disampaikan.

Setelah beberapa saat berbasa-basi, Heru membuka pembicaraan, Silakan Nak, mungkin ada yang mau disampaikan kepada kami?

Reno tak segera menjawab, ada rasa khawatir dalam dirinya untuk mengungkapkan perasaan. Namun karena orang tua Ningrum terus meminta menyampaikan apa yang diinginkan, iapun memberanikan diri berterus terang.

Bapak dan Ibu. Kedatangan saya ini dengan tekad bulat ingin membina hubungan yang serius dengan Ningrum. Umur saya sudah tak muda lagi, jadi sudah tidak perlu banyak basa-basi. Saya mohon restu, ingin meminang Ningrum.

Kedua orang tua Ningrum saling berpandangan seakan ingin mencari sebuah kata sepakat. Akhirnya Bu Dewi yang menjawab, Bagi ibu tidak masalah, karena toh Ningrum juga sudah waktunya menikah. Tetapi terusterang, sampai detik ini dia belum memberi jawaban bersedia atau tidak.

Betul apa yang dikatakan Ibu. Bahkan saya melihat, Ningrum malah menjalin hubungan dengan Prasetyo. Jadi saya juga tidak bisa memberi jawaban pasti, karena yang akan menikah adalah Ningrum, sambung Pak Heru.

Saya mengerti, namun saya minta bantuan Bapak dan Ibu untuk terus membujuk Ningrum agar mau menerima saya, pinta Reno.

Tentu saja kami akan terus membujuknya, jawab Pak Heru.

Setelah mendengar jawaban tersebut, Reno pamit dan berjanji akan datang kembali seminggu kemudian untuk mendapatkan kepastian jawaban.

***

Seperti biasanya menjelang Asar, Ningrum baru pulang. Guru SD zaman sekarang berbeda dengan jaman dahulu. Di era tahun sembilan puluhan sampai dua ribu, ketika jam siswa pulang guru juga ikut pulang. Namun dengan birokrasi yang semakin tertata, guru ikut aturan jam kerja yang ketat, masuk jam tujuh pagi pulang jam setengah tiga sore.

Kemarilah Nduk, bapak dan ibu ingin bicara, terdengan suara Bu Dewi memanggil.

Mendengar panggilan Sang Ibu, Ningrum bergegas menuju ruang keluarga ,menemui ayah dan ibu yang sudah menunggu.

Kok seperti ada sesuatu yang penting, ada apa Bu? tanya Ningrum.

Begini Nduk. Perempuan seusiamu sudah waktunya untuk berumahtangga. Pekerjaan sudah kamu dapatkan, tunggu apa lagi?

Bu, menikah itu suatu hal penting. Berumah tangga tak hanya untuk sebulan dua bulan tetapi untuk selamanya, jadi saya harus benar-benar merencanakan dengan cermat, jawab Ningrum.

Pak Heru yang sejak tadi dia mulai angkat bicara.

Menurutku usia duapuluhempat tahun adalah umur yang pas memulai hidup baru. Jadi bukan saatnya lagi kamu terus menerus menimbang, namun mesti sudah punya lelaki pilihan untuk menjadi suami.

Mendapat tekanan dari orangtuanya Ningrum terdiam. Di satu sisi ia sudah memiliki pilihan, tetapi ia takut mereka tidak setuju.

Bu Dewi mulai tidak sabar, Pokoknya ayah dan ibumu ini sudah memiliki calon suami untukmu yaitu Reno. Dia itu pengusaha kaya, sukses dan masih bujangan.

Tapi bu, saya sudah terlanjur mencintai Mas Prasetyo, jawab Ningrum dengan suara bergetar.

Apa yang bisa kamu banggakan dari prasetyo? Dia tidak kaya bahkan statusnya duda. Seharusnya kamu yang masih gadis mencari suami yang bujang. cecar Bu Dewi.

Saya bukan cewek materai yang silau dengan kekayaan bu, tetapi saya ingin lelaki yang tulus mencintai.

Cukup Ningrum! Kamu harus mau menikah dengan Reno, kami tak mau nantinya kamu hidup susah, bentak ayahnya.

Ningrum tak tahan lagi dengan desakan ayah dan ibu. Ia lari menuju kamar sambil berurai air mata.

Orangtua Ningrum tampak gusar, karena Ningrum tak mau menuruti apa kemauan mereka. Sebagai orangtua mereka tak ingin buah hatinya hidup sengsara, mereka berpikir bila uang dan harta benda mengelilingi setiap hari, bahagia akan mudah diraih. Keduanya menganggap, dengan kekayaannya Reno akan bisa membahagiakan Ningrum.

Bu, kita harus sabar untuk membujuk Ningrum. Bapak yakin, lama kelamaan hatinya akan luluh juga dan mau menerima Reno, ujar Pak Heru kepada istrinya.

Ya Pak, semoga demikian, kawab Bu Dewi.

Beberapa saat kemudian, datanglah Reno menemui mereka berdua dengan pakaian rapi membawa koper hitam.

Bapak, Ibu. Hari ini saya datang untuk memastikan jawaban dik Ningrum. Di dalam koper ini ada uang limaratus juta rupiah. Semoga cukup untuk membantu penyelenggaraan resepsi pernikahan.

Bu Dewi dan Pak Heru berbinar-binar, senang bukan kepalang. Harapannya mendapatkan menantu orang kaya akan segera terwujud.

Meskipun Ningrum belum mau menerimamu, kami selaku orang tua akan tetap terus membujuk sampai mau. Pokoknya jangan khawatir Nak! tegas Bu Dewi.

Reno tersenyum senang mendengar jawaban itu, keinginan mempersunting gadis yang diimpikan akan segera terwujud.

Tiba-tiba semua yang ada di ruangan itu dikagetkan dengan kedatangan dua lelaki berseragam polisi dan seorang lagi adalah Prasetyo. Salah satu dari dua polisi itu adalah Edi, teman Prasetyo yang sudah lama mengikuti gerak-gerik Reno sebagai buron.

Reno bermaksud lari dari ruangan itu, namun dengan sigap kedua polisi itu menyergap dan memborgolnya.

Bapak dan Ibu. Saudara Reno ini adalah buron Polda DIY. Melalui biro perjalanannya, dia telah menipu ratusan jamaah umrah. Uang yang ada di meja itu, adalah uang nasabah! Dan Reno juga, yang menyuruh orang untuk menganiaya Prasetyo beberapa waktu lalu ujar polisi yang bernama Edi.

Bagaikan disambar petir di siang bolong, suami istri itu terpaku melihat calon menantu yang disanjungnya ditangkap polisi.

Oalah Reno, ternyata kamu seorang penipu, penjahat! Bu Dewi berulangkali mengungkapkan kekesalannya.

Pak Heru mendekati istrinya, Kita harus bersyukur, Reno belum jadi menikah dengan Ningrum. Seandainya mereka sudah menikah, nama baik keluarga kita akan hancur.

Apakah ibu dan bapak masih akan menjodohkan saya dengan Reno? tiba-tiba saja Ningrum sudah menghampiri mereka berdua.

Bu Dewi tak menjawab, hanya air matanya yang bercucuran sambil mendekap Ningrum.

Maafkah ibu ya, Nduk. Ternyata ibu telah dibutakan dengan harta sampai tak menghargai ketulusan cinta.

Jadi, sekarang ibu merestui hubungan saya dengan mas Prasetyo? tanya Ningrum sambil melirik Prasetyo.

Bu Dewi tak menjawab, tetapi hanya menggangguk pasti.

***

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Celep RT.07 DK.02 Srigading Sanden Bantul DIY

Guru Harus Terus Belajar

Jathilan, Ikon Dusun Ceme

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Menangisi Kehilangan, Ihwal Manusia yang Posesif

Image

Tokoh-Tokoh Ahlusunnah wal Jama'ah

Image

Sejarah Terbunuhnya Husain bin Ali

Image

Mengenal Konsep Syiah Imamiyah dan Perkembangannya di Indonesia

Image

Kamu Harus Tahu, Ini Cara Mudah Menghapus Follower TikTok yang Menyebalkan

Image

Proses Konversi Golongan Syiah dan Khawarij

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image