Dibalik Partai Komunis China (PKC): Sebuah Refleksi Sejarah

Image
Alif Ariaputra
Sejarah | Friday, 02 Jul 2021, 12:23 WIB
China rayakan ulang tahun ke-100 Partai Komunis. Foto/The Economist

Pada Kamis (1/7/2021) Partai Komunis China (PKC) merayakan hari jadinya yang ke-100. Dalam perayaan tersebut lebih dari 70.000 orang di Tiananmen Square hadir untuk mendengarkan pidato dari Sekertaris Jenderal dari Partai Komunis China, Xi Jinping mengenai prospek negara mereka sebagai great power di masa yang akan datang

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana Partai Komunis China (PKC) bisa menjadi penguasa akan 1,44 milyar jiwa, dengan wilayah sebesar 9.597 million km persegi dan membawa RRC dalam menempati urutan GDP kedua (2021)?

Pada dasarnya ketika membicarakan mengenai sejarah Partai Komunis China maka selaras dengan perkembangan komunis dan Revolusi 1911 yang terjadi di mainland china. Perkembangan komunisme di China berawal dari studi Marxisme di Universitas Nasional Beijing (Beida).

Anggotanya adalah para mahasiswa dan revolusionaris seperti Li Dazhao dan Chen Duxiu termasuk seorang asisten pustakawan yang bernama Mao Tse Tung yang kelak menjadi pemimpin terbesar China Modern.

Kelompok studi ini yang kemudian menjadi cikal bakal Partai Komunis China yang berdiri pada tanggal 1 Juli 1921. Pada turbulensi politik 1920an di China, Mao Zedong, Liu Shaoqi dan Li Lisan mulai mengorganisir buruh kerja di seluruh penjuru kota-kota China

Selama enam tahun pertama PKC dikendalikan oleh Komintern yang memberikan dukungan dan bantuan finansial (James Wang, 1985: 9).

Dalam konferensi PKC III, Chen Duxiu mengakui secara terbuka bahwa PKC sepenuhnya didanai oleh Komintern. Dalam satu tahun Komintern menyumbangkan 200.000 yuan kepada PKC.

Revolusi Xinhai (1911-1912)

Sun Yat-sen. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Sun_Yat-sen

Ketidakpuasan bangsa China terhadap pemerintahan Dinasti Qing terus memuncak sejak kekalahan China dalam perang candu tahun 1842.

Sejak itu banyak wilayah China yang menjadi wilayah pengaruh kekuasaan asing baik bangsa Eropa, Amerika maupun Jepang.

Keadaan ini seolah-olah menimbulkan sistem negara dalam negara karena pengaruh asing yang ada di wilayah-wilayah China masing-masing memiliki hak konsesi dan hak ekstrateritorial.

Secara politik dan ekonomi kehidupan bangsa China menjadi semakin terpinggirkan akibat ketidakmampuan pemerintah Manchu mengatasi masalah-masalah yang ada di China.

Akibatnya banyak bermunculan berbagai macam gerakan yang pada intinya ingin menumbangkan kekuasaan Manchu dan menggantikannya dengan kekuasaan dari bangsa China sendiri.

Di antara berbagai gerakan yang bermunculan di China, salah satu pimpinan yang terkemuka adalah Sun Yat Sen.

Beliau merupakan tokoh nasionalis China yang dilahirkan di desa Xiang shanxian di Propinsi Guangdong pada tanggal 12 November 1866.

Sun Yat Sen mendirikan organisasi Dongmenghui yang bertujuan untuk menggusir bangsa Manchu, merebut kembali China bagi bangsa Tionghoa, dan mendirikan suatu negara yang berbentuk republik.

Dalam konteks Partai Komunis China di masa ini, berdasarkan anjuran dari Komintern PKC dan Kuo Min Tang bergabung dalam satu aliansi front bersama yang dipimpin oleh Sun Yat-sen.

PKC bekerja sama dengan Kuomintang untuk memperluas pengaruhnya dengan mengambil keuntungan dari revolusi nasional (1911-1912) yang kala itu sedang terjadi melawan established authority Kekaisaran Qing.

Pada tanggal 12 Februari 1912 Kaisar Xuantong turun tahta setelah terjadinya Revolusi Xinhai. Sebulan kemudian, yaitu pada tanggal 12 Maret 1912 berdirilah Republik China (ROC).

Namun demikian kedudukan Sun Yat Sen sebagai presiden segera digantikan oleh Yuan Shih Kai, seorang warlord (panglima perang) yang sangat berpengaruh.

Yuan segera mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup, sementara Sun Yat Sen mengundurkan diri ke Kanton dan mendirikan Partai Kuomintang (Nasionalis).

Era Warlord ( 1916-1928)

Yuan Shi Kai. Foto/Educalingo

Yuan Shi Kai meninggal dunia dengan mewariskan kesimpangsiuran perundang-undangan dan angkatan bersenjata Tentara China Utara tanpa seorang panglima yang diakui sebagai pemimpinnya.

Akibatnya era 1916- 1928 di China dikenal sebagai periode warlordisme atau periode para jenderal perang. Selama masa ini para warlord saling berperang untuk mendapatkan pengaruh kekuasaan. Sementara itu di wilayah China Selatan Sun Yat Sen masih memiliki pengaruh yang besar.

Ia diangkat sebagai kepala pergerakan republik dan menjabat sebagai presiden sampai tahun 1925 ketika beliau wafat. Selanjutnya Sun Yat Sen digantikan oleh Jenderal Chiang Kai Shek.

Selama masa pemerintahannya ini, pada tahun 1928 Chiang Kai Shek berhasil menaklukkan para warlord dan selanjutnya menyatukan China di bawah pemerintahan Kuomintang melalui Ekspedisi Utara pada tahun 1926- 1928. Dalam upaya menaklukan para warlord pasukan Kuomintang bekerja sama dengan Partai Komunis China.

Perang China-Jepang Kedua (1937-1945)

Foto sesuai arah jarum jam dimulai dari kiri atas; Pasukan Marinir Kekaisaran Jepang menggunakan masker gas di Pertempuran Shanghai, Senapan mesin Tipe 92 milik tentara Jepang, Korban Pembunuhan Massal Nanjing, Sarang senapan mesin milik Tentara Tiongkok, Pesawat Bomber Jepang di Chongqing, Pasukan Ekspedisi Tiongkok sedang baris berbaris. Sumber Foto: https://en.wikipedia.org/wiki/Second_Sino-Japanese_War

Perang China Jepang II yang dimulai pada tahun 1937, merupakan perang besar antara China dan Jepang sebelum pecahnya Perang Dunia II. Sejak tahun 1932 wilayah Manchuria diduduki oleh tentara Kekaisaran Jepang.

Pada tahun 1936 Letnan Jenderal Hideki Tojo mendesak pemerintah Jepang untuk menguasai China dengan kekerasan senjata. Diawali dengan insiden di sekitar jembatan Marcopolo yang terletak di utara kota Beijing merambat menjadi serangan Jepang terhadap kubu-kubu pertahanan tentara China.

Untuk menghadapi Jepang, PKC dan KMT berkolaborasi membentuk front persatuan. Namun dalam front tersebut Mao menolak berada di bawah pengaruh KMT dan menentang instruksi dari Komintern.

Selama aliansi pada tahun 1937 sampai 1945 Mao tetap mengontrol Tentara Merah dan daerah-daerah yang sudah dibebaskan. Penduduk yang di bawah komando Tentara Merah meningkat dari 2 juta menjadi 95 juta, begitu juga dengan pasukan merah jumlahnya meningkat dari 30.000 menjadi hampir satu juta jiwa.

Saat awal aliansi dengan KMT, PKC memanfaatkan kesempatan untuk beroperasi di kota-kota dan banyak aktivis PKC yang mendekam dalam penjara dibebaskan

Revolusi Komunis China (1945-1949)

Tentara Pembebasan Rakyat Menduduki Istana Kepresidenan Nanjing. Sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Komunis_Tiongkok

Setelah perang China Jepang berakhir pada tahun 1945 dengan kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, pertikaian antara PKC dengan Kuomintang kembali memanas.

Aktifitas parta PKC di era ini dimulai ketika Zhu Te, Panglima Angkatan Bersenjata PKC mengeluarkan perintah agar sebagian Tentara Merah memasuki Manchuria dan menuntut pada pemerintah China supaya perlucutan senjata terhadap bekas tentara pendudukan tentara Jepang di daerah yang dikuasai Partai komunis supaya dilakukan unsur Partai Komunis.

Ketika itu Tentara Merah menguasai daerah pedusunan yang amat luas sehingga menimbulkan kekhawatiran pihak Pemerintah China. Oleh karena itu Pemerintah China meminta bantuan AS untuk membantu menyelesaikan masalahnya di China.

Presiden Truman berusaha menghindarkan perang saudara di China dengan mengutus Jenderal George Marshall untuk bertindak sebagai perantara bagi sengketa antara Pemerintah Nasionalis dengan Partai Komunis China.

Salah satu yang direncanakan adalah pelaksanaan peleburan tentara kedua belah pihak menjadi satu Tentara Nasional. Namun sepeninggal Marshall pertempuaran antara Pemerintah Nasionalis dengan PKC kembali terjadi dengan skala yang semakin meluas

Meski awalnya banyak mengalami kekalahan tetapi PKC dengan Tentara Merah nya dapat memperluas pengaruhnya di daerah pedesaan, melalui politik land reform dari PKC. Tanah-tanah milik tuan tanah diambil dan menghadiahkan tanah-tanah garapan tersebut kepada kaum tani penggarap.

Tentara Merah yang menguasai wilayah China Utara segera mengarahkan sasarannya ke sebelah selatan Sungai Yang Tze.

Selanjutnya mereka merebut Nanking, ibu kota pemerintah Nasionalis China. Akibatnya pemerintah Nasionalis China terpaksa harus memindahkan ibu kotanya ke Kanton. Hangou, Shanghai dan Qingdao secara berturut-turut jatuh ke tangan kaum komunis.

Setelah separo wilayah China berada di tangan kaum komunis maka Mao Tse-tung mulai mempersiapkan pembentukan suatu Negara China sebagaimana dicita-citakan oleh Partai Komunis.

Langkah awal adalah dengan membentuk Panitia Persiapan Majelis Permusyawaratan Politik. Panitia ini berhasil memilih 21 orang untuk menjabat sebagai Dewan Harian dengan Mao Tse-Tung sebagai ketua dan Chou Enlai sebagai wakil ketua.

Dengan strategi desa mengepung kota, PKC berhasil menyingkiran Kuomintang dan pada tanggal 1 Oktober 1949 memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat China (RRC) yang beribukota di Beijing.

Bendera Nasional RRC berwarna merah melambangkan revolusi dengan empat bintang kecilkecil berwarna kuning di bagian pojok atas yang masing-masing melambangkan klas buruh, klas tani, klas borjuis kecil, klas borjuis nasional, dan sebuah bintang besar berwarna kuning yang dilingkari empat bintang kecil tersebut di atas, yang melambangkan kepemimpinan Partai Komunis.

Pemimpin tertinggi tentara RRC berada di tangan Zhu De, sedangkan jabatan Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri dipegang oleh Chou Enlai

Pemerintahan Chiang Kai Shek melarikan diri ke Taipei yang terletak di Pulau Formosa (Taiwan). Pada tanggal 1 Maret 1950, Chiang memangku kembali jabatannya sebagai presiden Republik China.

Setelah pernyataan berdirinya Republik Rakyat China, Uni Soviet segera memberikan pengakuan kedaulatannya atas RRC dan memutuskan hubungan diplomatiknya dengan pemerintahan Nasionalis China.

Negara-negara satelit Uni Soviet ikut menyatakan pengakuan kedaulatan bagi RRC. India merupakan Negara di luar blok Soviet yang pertama kali memberikan pernyataan kedaulatan atas RRC, tepatnya pada tanggal 30 Desember 1949.

Pada tanggal 6 Januari 1950 Inggris menyatakan pengakuan kedaulatan terhadap RRC sehingga Inggris merupakan negara demokratis Barat pertama yang mengadakan hubungan dengan pemerintahan komunis China.

Sumber

1. Ririn Darini. Garis Besar Sejarah China Era Mao. Yogyakarta: Oktober 2010. Diakses di http://staffnew.uny.ac.id/upload/132233219/pendidikan/Garis+Besar+Sej+Cina+Era+Mao.pdf. Diakses pada 2 Juli 2021

2. Liu Jianyi. The origins of the Chinese Communist Party and the role played by soviet Russia and the comintern. London: Maret 2000. Thesis, University of York. Diakses di https://etheses.whiterose.ac.uk/9813/1/341813.pdf. Diakses pada 2 Juli 2021

3. Xiahong Xu. The Origin and Growth of the Chinese communist Movement. Michigan: Maret 2018. Diakses di https://www.researchgate.net/publication/325685114_The_Origins_and_Growth_of_the_Chinese_Communist_Movement

4. Britannica. Chinese Communist Party. Diakses pada 2 Juli 2021 https://www.britannica.com/topic/Chinese-Communist-Party

5. James C.F. Wang. Contemporary Chinese Politics: An Introduction. 16 Juni 2001. Edisi ke-7

6. https://www.worldometers.info/world-population/china-population/. Diakses pada 2 Juli 2021

7. https://data.worldbank.org/indicator/AG.LND.TOTL.K2?locations=CN. Diakses pada 2 Juli 2021

8. https://statisticstimes.com/economy/projected-world-gdp-ranking.php. Diakses pada 2 Juli 2021

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Cara Memahami Humas Zaman Now

Image

Pentingnya Kehumasan

Image

Public Relation : Media Komunikasi Dalam Kegiatan Marketing

Image

Peran humas dalam hubungan media

Image

Peran Humas diera pandemi

Image

Totalitas Guru Di Masa Pandemi

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image