Membangun Religius Personal Branding

Image
Ropiyadi ALBA
Agama | Wednesday, 16 Jun 2021, 18:55 WIB
Sumber gambar :https://gerryfosterbranding.com/

Hampir setiap manusia ingin dikenal sebagai orang yang baik, dan diakui keberadaannya. Sebagai makhluk sosial, tentunya kita tidak ingin terasing dan tidak dikenal di lingkungan sekitar. Untuk itu, kita perlu menyadari bahwa kita bukanlah siapa-siapa tanpa adanya peran positif dari masyarakat dan lingkungan. Disinilah pentingnya sebuah persepsi dan citra positif masyarakat terhadap kita, agar hidup kita dapat lebih bermakna dan bermanfaat bagi banyak orang.

Kemuliaan seseorang memang tidak diukur dari seberapa besar tingkat 'keterkenalan' mereka di masyarakat. Namun, orang-orang yang sudah biasa terjun dan bersosialisasi di masyarakat, tentunya adalah pribadi-pribadi yang unggul. Karena mereka mampu merealisasikan diri mereka sebagai 'zoon politicon' yang senantiasa hidup dan berinteraksi dengan manusia lainnya.

Sebagai manusia dan anggota masyarakat, kita ingin eksistensi kita diakui. Kita tidak ingin keberadaan kita menjadi sesuatu yang meresahkan, dan sebaliknya ketiadaan kita justru dirindukan. Kalau ini sampai terjadi, maka sesungguhnya kita telah menjadi seburuk-buruknya makhluk di muka bumi. Untuk menjadi seorang manusia yang dirindukan keberadaannya, tentunya kita harus membangun citra diri yang positif. Citra diri yang dimaksud bukanlah sesuatu yang sifatnya polesan dan penuh kepalsuan, namun lahir dari dalam diri dan merupakan potret diri sejati yang lahir dari sebuah keotentikan jiwa dan kebersihan hati.

Membangun citra diri atau biasa disebut dengan Personal branding adalah upaya sadar dan disengaja untuk menciptakan dan mempengaruhi persepsi publik tentang 'diri' dengan memposisikan sebagai pribadi yang khas dan membedakan dengan yang lain, yang pada akhirnya untuk memajukan karir dan meningkatkan lingkaran pengaruh di masyarakat.

Seseorang yang memiliki mimpi yang besar, tentunya tidak akan berhasil kalau ia merupakan pribadi yang kecil. Ia akan terus berusaha menjadi pribadi yang bertumbuh, tak kenal musim dan arah angin.

Memang baik menjadi orang 'penting', tetapi lebih penting menjadi orang 'baik'. Di sinilah kata kunci dari sebuah 'personal branding' yang selayaknya kita bangun. Terminal akhir dari merek diri yang kita jual adalah kita ingin dikenal sebagai orang baik (min ahlil khoir) pada ujung perjalan hidup kita nanti.

Dalam sejarah peradaban manusia kita telah mengenal seorang manusia paripurna (insan kamil), yang sosok kemuliaannya tidak hanya dikenal di kalangan manusia yang mengikutinya, tetapi juga oleh lawan-lawan yang senantiasa memusuhinya. Dialah Muhammad bin Abdullah, seorang manusia pilihan Tuhan yang diimani sebagai Nabi dan Rasul serta pembebas manusia dari gelapnya perbudakan hawa nafsu menuju terangnya peradaban manusia.

Muhammad bin Abdullah, sejak kecil sudah dibranding oleh Allah SWT sebagai anak yang baik, selalu berkata benar dan dapat dipercaya. Untuk itulah masyakat melabelinya dengan gelar Al Amin. Inilah modal besar yang dimiliki Muhammad bin Abdullah, sebagai calon pemimpin besar umat manusia kala itu.

Dikenal sebagai orang yang jujur dan memiliki integritas bukanlah sebuah perkara yang mudah, dan tidak mungkin lahir dari sebuah kepura-puraan. Pribadi yang berintegritas merupakan akumulasi dari nilai-nilai luhur yang sudah terbangun sejak dini dan menjadi sebuah kebiasaan dan pembiasaan yang berlangsung sejak lama.

Dasar dari upaya membangun citra diri yang positif adalah nilai-nilai spiritual atau religius. Untuk itu, religius personal branding adalah upaya yang tepat agar kita tidak salah langkah dalam membangun pencitraan diri, karena dasarnya adalah nilai-nilai ketuhanan dan kata kuncinya adalah kepasrahan kepada Allah SWT dan keikhlasan semata-mata hanya karena-Nya.

Siapapun dan apapun kita pada hari ini adalah tidak penting. Yang terpenting adalah, sudahkah kita memposisikan diri sebagai orang-orang yang bermanfaat bagi banyak orang atau belum?. Untuk menjadi insan yang berguna bagi banyak orang, kita tidak perlu fokus pada kekurangan dan ketidakmampuan yang kita miliki. Namun sebaliknya, fokuslah pada kelebihan dan kemampuan yang kita miliki. Kita harus mengenal siapa kita, apa kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Selanjutnya fokuskanlah pada kelebihan yang kita miliki untuk digunakan sebesar-besarnya manfaat terhadap lingkungan sekitar.

Semoga kita semua menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat bagi masyakat dan dikenal sebagai orang yang baik pada lingkungan yang baik-baik, karena pada akhirnya kita hanya ingin dikembalikan dan dikumpulkan bersama orang yang terbaik yaitu Rasulullah SAW. Aamiin.***

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tenaga Pendidik di SMA Putra Bangsa Depok dan Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan MIPA Universitas Indra Prasta Jakarta.

Hikmah Silaturahmi

Tetap Istiqomah Pasca-Ramadhan

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Pembelajaran Abad 21

Image

Tim Misi Kemanusiaan feat OSIS SMA Malahayati, Berbagi Masker Gratis Untuk Masyarakat

Image

Partai Politik: Dapatkah Memperkuat Demokrasi?

Image

Beli Rumah Secara Online, Tidak Cocok Uang Booking Bisa Direfund 100%

Image

Perkuat Ketahanan Pangan, Provinsi Banten Perluas 37 Hektare

Image

3 Langkah Mudah Menebus Saham Right Issue dan Warrant

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image