Hati-Hati, Kita Diawasi!

Image
Achmad Syalaby Ichsan
Agama | Thursday, 13 May 2021, 17:27 WIB

Tidak sulit untuk menyelami identitas seseorang dalam dunia tanpa se kat sekarang. Dengan angka, negara menandai setiap manusia yang baru lahir dan mati. Secara administratif, setiap warga negara memiliki nomor induk kependudukan yang membedakan antara satu warga dengan warga lainnya.

Setiap identitas pun akan diketahui rekam jejaknya ketika melakukan transaksi keuangan. Dunia yang makin cashless membuat setiap arus uang keluar dan masuk akan tercatat dengan baik. Setiap transaksi di supermarket, restoran, hotel, hingga transportasi daring akan masuk dalam arsip digital. Begitu pula dengan pos pemasukan.

Uang gaji, insentif, hadiah dari yang halal hingga haram yang masuk ke dalam rekening akan bisa teridentifikasi lewat bank. Kalaupun Anda menyiapkan sekian lapis rekening dari nama istri, mertua, hingga teman sejawat, aliran transaksi Anda akan diketahui otoritas keuangan terkait. Jadi, Anda harus hati-hati untuk melakukan transaksi. Salah-salah, Anda bisa terjebak dalam urusan hukum.

Sistem dalam negara modern sekarang membuat kita menjadi objek pengawasan. Kita sedang dipantau. Kita harus mengikuti aturan jika ingin tetap hidup nyaman. Meski demikian, sistem pengawasan yang sudah dibuat dengan amat ketat ini ternyata masih ada sela. Faktanya, masih banyak penjahat yang bisa lolos dari catatan petugas. Baru-baru ini, seorang terpidana kasus korupsi bahkan bisa mengelabui petugas lapas dengan masuk rumah sakit. Izin berobat digunakan untuk pelesir. Masih banyak kasus-kasus lain semodel itu.

Sistem pengawasan yang lebih canggih sudah diceritakan jauh ketika manusia masih belum mengenal algoritma dan komputer. Alquran menceritakan jika setiap manusia diikuti oleh malaikat. Mereka mengikuti kita baik pada waktu siang maupun malam. "Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah." (QS ar-Ra'du: 11).

Dalam menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menjelaskan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, dan Muslim. "Para malaikat di malam dan siang hari silih berganti meng awasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, 'Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?' Mereka menjawab, 'Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat.'"

Tidak hanya itu, Allah SWT juga menugaskan malaikat untuk mencatat setiap amal kita. Mereka ada di sisi kanan dan kiri. Malaikat sebelah kanan mencatat amal baik sedangkan sisi kiri mencatat amal buruk. "Dan Kami lebih dekat ke padanya daripada urat lehernya. Yaitu, ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya. Satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS Qaf: 16-18).

Buku catatan amal bagi orang-orang yang berbakti (mukmin) disebut dengan 'Illiyyin, sementara mereka yang durhaka dicatat dalam kitab bernama Sijjin. Kosakata ini ada pada QS al- Muthaffifin. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, 'Illiyyin diambil dari kata al-'uluwwu yang arti nya tinggi. Ketika sesuatu itu meninggi, maka ia bertambah besar dan luas. Karena itu, Allah SWT memilih kosakata yang agung untuk menggambarkan kitab itu. Bagaimana dengan Sijjin? Lafaz Sijjin memakai wazan fail berasal dari as-sijn yang artinya kesempitan. Allah menggambarkannya sebagai sesuatu yang menakutkan.

Pencatatan kitab amal akan ditulis dengan amat detail. Dalam QS al-Zalzalah, Allah SWT menyebut jika setiap amal perbuatan baik dan buruk sebesar dzarrah (atom) akan ditampakkan dan dibalas. "Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan me ihat (balasan)-nya Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula."

Ibnu Qayyim al Jauzi menyebut, ada lima pendapat terkait dengan makna dzarrah. Pertama, yakni kepala semut merah. Kedua, butiran tanah. Berikutnya, semut yang paling kecil. Pendapat keempat adalah biji khardalah. Terakhir, dzarrah juga di maknai sebagai titik debu udara yang tampak ketika celah dinding tertembus sinar matahari.

Hanya, Ibnu Qayyim mengungkapkan, penyebutan dzarrah sejatinya hanya ungkapan yang bisa ditangkap logika manusia. Tujuan sebenarnya, yakni Allah tidak berbuat zalim baik sedikit maupun banyak.

"Dan diletakkanlah kitab. Lalu, kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya dan mereka berkata, "Aduh celakalah kami! Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan (amal) yang kecil dan tidak pula (amal) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (dalam kitab itu). Dan, Tuhanmu tidaklah menzalimi seorang pun." (QS al-Kahfi: 49).

Mengulas semua makna di atas, sudah waktunya kita menghitung semua amal dan dosa yang kita perbuat sebelum mereka dihitung oleh Allah SWT. Semua perhitungan itu akan membuat kita mengintrospeksi diri sudah sejauh mana kita menaati perintah- Nya dan menjauhi larangan- Nya. Wallahu a'lam

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Lelaki yang tak Berhasrat

Hati-Hati, Kita Diawasi!

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

3 Dimensi Bahasa Bisnis dalam Laporan Keuangan

Image

Sudah Vaksin Mau Dapat Casback 10 Juta? Begini Caranya!

Image

Korupsi Bantuan Sosial di Masa Covid 19

Image

Gubernur Banten Ungkap Keterbatasan Tenaga Medis!

Image

Birokrasi Pemerintahan di Indonesia

Image

Kreativitas Peserta Didik di Masa Pandemi

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image