Silaturahmi Online, Mengapa Mesti Alergi?

Image
Muhammad Sultan
Teknologi | Friday, 07 May 2021, 18:29 WIB

Tinggal beberapa hari lagi, khususnya bagi kaum muslimin di seluruh dunia dan tidak terkecuali di Indonesia, momentum hari lebaran atau Idul Fitri. Menjelang lebaran dan bahkan beberapa bulan sebelumnya, warga telah merencanakan mudik untuk menemui keluarganya di kampung halaman.

Seorang anak mudik menemui orangtuanya, seorang suami mudik menemui istrinya, kerabat mudik menemui kerabatnya, dan mudik sudah menjadi tradisi warga setiap tahunnya.

Setidaknya sudah dua kali lebaran, tahun lalu dan tahun ini, masalah mudik selalu menjadi kontroversi. Menyikapi tradisi warga pada tahun ini, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan berupa larangan mudik.

Sebagian warga bersedih karena pupus harapannya untuk bertemu langsung dengan keluarganya, tetapi sebagian lainnya menganggap kebijakan larangan mudik ini alternatif terbaik dalam mengendalikan Covid-19.

Pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan mudik lebaran, tentunya dengan pertimbangan penuh pertimbangan dan alasan tertentu. Intinya, mencegah penyebaran Covid-19. Keberadaan Covid-19 yang belum kunjung berkesudahan, sudah sepatutnya menjadi tugas bersama seluruh komponen bangsa.

Warga yang peduli Covid-19, berusaha menghilangkan egonya, menahan diri untuk tidak mudik lebaran. Meluapkan kerinduan kepada keluarga pada momentum lebaran memang wajar, tetapi akan menahan rasa rindu lebih penting di masa pandemi.

Covid-19 berdampak luas dan mengubah segalanya, bahkan korban ribu korban ribu warga Indonesia. Apakah anda tidak peduli dengan kesehatan keluarga di kampung halaman? Pasti peduli. Olehnya itu, memilih sabar dalam menahan rindu, selain itu menunjukkan sebagai warga negara, juga melindungi keluarga di kampung halaman dari paparan Covid-19.

Larangan mudik lebaran menjadi pilihan terbaik dalam mencegah penularan Covid-19. Pemerintah yang menyadari bahwa kebijakan tersebut akan menimbulkan dampak sosial yang berasal dari warga yang luar biasa, tetapi kesadaran warga adalah nomor satu. Pemerintah mencegah pencegahan penyebaran Covid-19 sehingga warga tetap sehat dan terlindungi dari penularan Covid-19.

Kebijakan larangan mudik, baik langsung dan tidak langsung, akan mengurangi dan menghilangkan kerumunan warga di sejumlah fasilitas umum seperti terminal, pelabuhan dan bandara. Selain itu, kontak fisik langsung di antara warga tidak akan terjadi.

Berkurangnya atau tidak adanya kerumunan dan kontak langsung, akan mendorong penyebaran Covid-19. Hal ini pula yang mendasari mengapa pemerintah melarang mudik lebaran di masa pandemi. Calon pemudik dan keluarga di kampung halaman akan tetap sehat dan aman dari penularan Covid-19.

Sejak Covid-19 semakin meluas di Indonesia, warga dihadapkan dan berusaha beradaptasi dengan perubahan kebiasaan baru. Warga semakin dekat dengan pemanfaatan teknologi informasi. Misalnya, di bidang pendidikan, siswa banyak belajar di rumah secara online. Begitu pula di sektor, warga terbiasa menjajakan produknya melalui media sosial, sebaliknya pengguna memanfaatkan teknologi dalam kebutuhannya.

Lalu, bagaimana agar nilai-nilai lebaran tetap dirasakan di antara dua keluarga yang saling berjauhan? Solusinya, silaturahmi secara online. Era teknologi saat ini telah memfasilitasi kebutuhan warga tersebut. Bahkan, sebelum adanya Covid-19, masyarakat telah terbiasa berkomunikasi dengan berani.

Apakah ada yang berbeda jika silaturahmi dilakukan secara online dibandingkan tatap muka langsung? Pasti berbeda. Tetapi, bukankah saling menjaga dan melindungi diri dan keluarga dari Covid-19, akan lebih baik dibandingkan dengan mudik lebaran dan menjadi sumber atau sumber korban penularan Covid-19? Cukup anda jawab dalam hati masing-masing dengan jujur.

Apakah anda masih ingat dulu, saat ingin mengungkapkan rasa cinta kepada pujaan hatinya? Hanya lewat sepucuk surat, bahkan berhari-hari baru diterima dan dibaca olehnya. Suratnya diterima, rasa cintanya terbalaskan, lalu sepucuk surat balasan pun menyusul. Hal itu berjalan cukup baik tanpa kedua belah pihak harus bertemu langsung. Cukup dengan sepucuk surat dan bantuan petugas pos, semuanya sesuai keinginan.

Begitu pula, waktu sekolah zaman dulu. Dipisahkan pulau, lautan luas, berjarak ratusan bahkan kilometer dengan keluarga. Belum tersedia teknologi seperti sekarang ini. Akhirnya, kerinduan berkomunikasi antara anak dan orangtuanya, pasangan dengan istrinya, dan seorang sahabat dengan sahabatnya, semuanya berharap hanya pada fasilitas surat-menyurat.

Butuh berhari-hari untuk bertemu hanya dengan melihat kabar keluarga. Apakah cara-cara lama itu, kurangi maksud dan tujuan yang ingin dicapai? Tidak, cukup dengan bersabar beberapa hari, kedua belah pihak dapat melepas kerinduannya.

Apalagi di era teknologi informasi saat ini, tidak butuh waktu berhari-hari lagi untuk melepas kerinduan dengan keluarga. Semuanya terpenuhi hanya dalam hitungan detik. Memanfaatkan teknologi informasi secara bijaksana dalam memenuhi segala kebutuhan seseorang, tidak lagi membangun ruang dan waktu.

Teknologi yang tersedia sekarang ini, sangat memudahkan penulis bersilaturahmi dengan orangtua di kampung halaman

Begitu pula, silaturahmi di momen hari lebaran melalui online, mengapa tidak? Warga sudah terbiasa dengan gadget di genggamannya. Cukup dengan mengusap layar gadget, klik dan klik, silaturahmi antar keluarga yang berjauhan pun terpenuhi.

Tidak perlu alergi jika harus membangun dan menjaga silaturahmi antarkeluarga melalui online, khususnya di masa pandemi ini. Silaturahmi online lebih fleksibel, kapan pun dan dimana pun dapat dilakukan, tidak sesulit zaman sebelum era teknologi informasi.

Dulu, jika berkomunikasi melalui telepon, maka keluarga yang akan memberikan pesan butuh waktu yang berjam-jam untuk sampai di warung telepon (wartel), sedangkan pihak keluarga yang menerima pesan harus terlebih dahulu dipanggil oleh pemilik telepon atau pemilik wartel. Begitu sulitnya saat itu. Berbanding terbalik dengan era sekarang, semuanya serba mudah dan cepat.

Silaturahmi online, selain mudah dan murah, juga dijamin aman dari risiko menularkan atau tertular Covid-19. Warga tidak mengeluarkan biaya untuk membeli tiket, tidak melakukan tes antigen atau tes swab sebagai syarat administrasi yang tidak mabuk atau pusing dalam perjalanan, tidak menunggu antrian pemberangkatan dan kepulangan, dan tidak repot mempersiapkan bekal di perjalanan.

Bahkan, tidak khawatir saat sidak hari pertama masuk kerja, dan tidak menjadi sumber atau sumber korban penularan Covid-19. Silaturahmi online akan merawat kerinduan di antara keluarga yang berjauhan, melindungi diri dan keluarga di kampung halaman tetap aman dari Covid-19.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Dosen di Universitas Mulawarman Samarinda sejak 2008-sekarang

Artikel Lainnya

Image

Pemikiran Ibnu Khaldun Soal Pajak yang Patut Ditiru

Image

Meminimalisasi Risiko Pembiayaan Bermasalah Bank Syariah

Image

Risiko Siber dan Kestabilan Sistem Keuangan

Image

Daya Tarik Kisah dari Alquran dan Pendidikan Islam

Image

Waspadalah Lagi Musim Rayap! Begini Cara Mengatasinya,...

Image

Gaisss simak yaa.. Ini caranya menghitung Mahal atau Murah

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image