59 Tahun Wafatnya Pahlawan Nasional dari Jawa Barat

Image
publik histori_indonesia
Sejarah | Thursday, 06 May 2021, 09:53 WIB

K.H Abdul Halim (1887-1962)

Tepat 7 Mei 59 tahun lalu Indonesia kehilangan ulama kharismatik yang mempunyai jasa baik dibidang Pendidikan, perjuangan kemerdekaan maupun mengisi kemerdekaan. Atas jasa-jasanya, K.H Abdul Halim dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI. Hal ini berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor: 041/TK/Tahun 2008 tanggal 6 November 2008.

K.H Abdoel Halim semasa kecil diwarisi nama Mohammad Sjatari. Ia dilahirkan (pada hari sabtu Pon, 25 Syawal 1304 H. / 17 Juni 1887 Data Gunseikanbu (2604: 430)) menikah dengan Ny Siti Murbiyah. Ny Siti Murbiyah adalah putri bungsu Muhammad Ilyas, yang Ketika itu menjabat sebagai Penghulu Landraad Kabupaten Majalengka. Para santri dan keturunannya memanggilnya Mbah Halim.

Sekilas dari aktivitas K.H. Abdul Halim; Setelah kepulangan beliau dari Timur Tengah pada tahun 1911 M. K.H. Abdul Halim langsung aktif dalam pergerakan, beliau mendirikan Madjlisoel Ilmi pada tahun 1911 tersebut dan berganti menjadi Hajatoel Qoeloeb pada tahun 1912. Aktivitas Hajatoel Qoeloeb tidak hanya fokus pada bidang pendidikan, tetapi mulai memasuki bidang sosial-ekonomi. Aspek sosial ekonomi yang membuat adanya singgungan dengan pedagang keturunan tiongkok dan sering terjadi perkelahian fisik. Pemerintah kolonial Belanda selalu menganggap kader Hajatoel Qoeloeblah yang menjadi pemicu kerusuhan maka pada tahun 1915 seluruh aktivitas Hajatorl Qoeloeb secara resmi dinyatakan dilarang. tak patah arang K.H Abdul Halim mendirikan 1916 Ianat al-Mutaallimin Satu-satunya pusat Pendidikan Islam modern di daerah Majalengka. Diterapkannya sistem berkelas dengan lama Pendidikan lima tahun. Dan atas dorongan H.O.S Cokroaminoto, beliau kembali mengajukan perijinan dan pada tanggal 21 Desember 1917, Rechtspersoon (pengesahan pemerintah) No. 43. Selain kembali mengaktifkan organisasi beliau mendirikan Kweek School (Sekolah Guru) Daaroel Oeloem dan tahun 1932 mendirikan Pondok Pesantren Santi Asromo. 1943 Chuo Sangi In, pada tahun inilah K.H Abdul Halim berinteraksi massif dengan tokoh pergerakan lainnya. Seperti Bung Karno, Bung Hatta dkk. Dalam sidang BPUPKI, K.H Abdul Halim mengusulkan bentuk negara bukan kerajaan atau kekhalifahan melainkan republik.

Bung Karno pun memanggilnya Kang Mas.

Mbah Halim juga dekat dengan Presiden Sukarno. Ketika sebelum kemerdekaan, Mbah Halim sering ke Jakarta, dan ketika ke Jakarta selalu membawa ubi. Ketika ditanya, Mbah Halim mengatakan bahwa ubi tersebut untuk Sukarno, yang saat itu menjadi Ketua Chuo Sangi In. Katanya, Sukarno tidak makan nasi. Dalam suratnya, Sukarno biasa memanggil Mbah Halim dengan Kang Mas. Mbah Halim anggota Chou Sangi In pada waktu itu, yang kemudian menjadi Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Beliau juga anggota KNIP, anggota Konstituante dan Bupati Majalengka ketika masa Revolusi.

Pendiri Universitas Islam Indonesia

Mengutip laman uii.ac.id, K.H. Abdul Halim (1887-1962) para santri dan keturunannya memanggilnya Mbah Halim. Beliau adalah pendiri Perikatan Umat Islam (PUI), yang kemudian berfusi bersama Perhimpunan Umat Islam Indonesia (PUII) menjadi Persatuan Umat Islam (PUI) pada 1952. Basis gerakan PUI berada di Majalengka. Pada April 1932, Mbah Halim mendirikan Santi Asromo, pondok pesantren di pinggiran Majalengka yang jauh dari kegaduhan kota. Sampai hari ini.

Mbah Halim adalah salah satu pendiri UII yang berasal dari PUI. Bidan kelahiran UII adalah empat organisasi Islam pada masa sebelum kemerdekaan, yaitu Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), PUI, dan PUII yang tergabung dalam Masyumi.

Persahabatan dengan Founding Father

Walaupun Santi Asromo berada di kaki gunung dan berjalan kaki kurang lebih 3 km untuk bisa sampai ke Santi Asromo. Para tokoh ini tetap bersilaturahim kepada K.H Abdul Halim diantaranya:

Bung Hatta

Abdul Kahar Muzakir (tim 9 Piagam Jakarta).

Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri)

K.H Wahid Hasyim (Berkali-kali terlebih ketika menjadi Menteri Agama)

Beberapa buku karya K.H Abdul Halim antara lain: Dawatoel- Amal, Tarich Islam, Neratja Hidoep, Kitab Penoendjoek Bagi Sekalian Manosia, Risalah Aafatoel Idjtimaijah wa Iladjuha, Kitab Tafsir Tabarak, Kitab Tafsir Surat Maoen, Kitab 262 Hadis Bahasa Indonesia, Bab al-Rizqi. Tafsir Juz Amma, Economie dan Cooperatie Dalam Islam. Padoman Persjarikatan Oelama, dan Padoman Propaganda Islam.

Museum dan Bandara

Jika kita merujuk pada konstitusi kita, baik Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia pasal 32 ayat (1) Tahun 1945 mengamanatkan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memilihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya, sehingga kebudayaan Indonesia perlu dihayati oleh seluruh warga negara maupun Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2019: bahwa museum sebagai lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi museum, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat, perlu dilakukan pengoptimalan pengelolaan museum untuk mencapai pemajuan kebudayaan: bahwa museum dan taman budaya memiliki layanan publik yang mampu memperkenalkan dan mengangkat kebudayaan lokal serta membentuk karakter bangsa Indonesia.

Berlandaskan amanat konstitusi di atas, sudah selaiknya K.H Abdul Halim mempunyai Museum. Tidak hanya terkait penetapan sebagai Pahlawan Nasional, akan tetapi nilai historis dan memori kolektif bangsa yang tersimpan pada perjuangan beliau yang harus diketahui oleh generasi sekarang dan yang akan datang baik warga Jawa Barat pada khusunya dan Masyarakat Indonesia pada umumnya.Dan sebagai kebanggaan dan penghormatan kepada Pahlawan Bangsa. Selain Museum yang belum ada, Bandara terbesar di Jawa Barat berada di Majalengka dan masih menggunakan nama daerah, padahal di Indonesia penamaan bandara di tiap daerah mengacu pada tokoh di daerah tersebut. Seperti Bandara Hasanuddin di Makassar, Sultan Iskandar Muda di Aceh, Soekarno-Hatta di Jakarta, Sam Ratulangi di Manado, Husein Sastranegara di Bandung dan sejumlah nama lainnya.

Sudah 59 tahun K.H Abdul Halim wafat, tetapi legacy beliau masih hidup dan terasa hingga kini, baik organisasi masyarakat Persatuan Ummat Islam (PUI) , Santi Asroma,UII dan lain-lain.Semoga nilai ketauladanan, jiwa perjuangan dan nasionalisme K.H Abdul Halim bisa menjadi memori kolektif bangsa Indonesia dan kita para generasi muda mampu mengisi dan melanjutkan perjuangan orang tua kita dalam konteks kekinian. dan wasiat belaiu seperti yang tertulis diprasasti Santi Asromo. "Kami pesankan kepada sekalian yang akan melanjutkan utamakan budi perangai (akhlak) ramah tamah dengan sesama manusia (siapa saja, agama apa saja) lebih lebih sesama umat Islam".

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Tahukah Kalian, Tertawa Itu Baik Untuk Kesehatan?

Image

WIZ Salurkan Sembako Untuk Dhuafa yang Terdampak Pandemi

Image

Pentingnya Self Healing Dimasa Pandemi

Image

Keluarga Harmonis, Seperti Apa sih?

Image

3 Tips membuat konten yang viral

Image

6 Tips Agar Kamu Betah di Pesantren

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image