HOTS dalam Pembelajaran IPA SD

Image
Dar yati
Eduaksi | Saturday, 01 May 2021, 18:54 WIB

Keterampilan berpikir tingkat tinggi dikenal sebagai Higher Order Thinking Skills (HOTS) dipicu oleh adanya suatu kondisi yaitu :

1. Situasi belajar tertentu yang memerlukan strategi pembelajaranyang spesifik dan tidak dapat digunakan di situasi belajar lainnya.

2. Kecerdasan yang tidak lagi dipandang sebagai kemampuan yangtidak dapat diubah, melainkan kesatuan pengetahuan yang dipengaruhi olehberbagai faktor yang terdiri dari lingkungan belajar, strategi, dan kesadarandalam belajar.

3. Pemahaman pandangan yang telah bergeser dari unidimensi, linear,hirarki atau spiral menuju pemahaman pandangan ke multidimensi dan interaktif.

4. Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang lebih spesifik sepertipenalaran, kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikirkritis dan kreatif.

Sofyan(2019, hlm. 3) menyatakan bahwa high order thinking skills untuk pertamakalinya ditemukan oleh Brookhart atau Susan M Brookhart sekaligus AssosiateProfessor dari Dusquance Univeristy. Brookhart (dalam Sofyan 2019, hlm. 3)mendefinisikan HOTS sebagai model sekaligus metode transfer pengetahuan,berpikir kritis, dan sarana untuk memecahkan masalah.

Annuuru (2017)menyatakan bahwa kemampuan ini pada awalnya didasarkan pada taksonomi bloom yangmengklasifikasikan berbagai macam kemampuan berpikir dari ranah terendah(pengetahuan, pemahaman, dan penerapan) sampai dengan tertinggi (analisis,sintesis, dan evaluasi. Menurut Bloom,keterampilan dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah keterampilantingkat rendah yang penting dalam prosespembelajaran yaitu : mengingat (remembering), memahami (understanding), danmenerapkan (applying), dan kedua adalah yang diklasifikasikan ke dalam keterampilanberpikir tingkat tinggi berupa keterampilan menganalisis (analyzing),mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating).

Menurut Dini(2018, hlm. 175) menyatakan bahwa HOTS dapat dimunculkan dalam situasipembelajaran, peserta didik mampu mengubah dan mengkreasi pengetahuan yangmereka ketahui sehingga menghasilkan atau mencipta sesuatu hal yang baru.Karena dalam hal ini, peserta didik telah mengetahui perbedaan gagasan secarakonkret, tata cara berargumen dengan baik, mampu memecahkan masalah, membangunkontruksi pemaparan dengan baik, mampu berhipotesis dan mengerti secaramendalam problematik yang kompleks, dan menunjukkan kemampuannya dalam bernalar.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yangmempelajari tentang fenomena alam dan segala sesuatu yang ada di alam. IPAsebagai proses/metode penyelidikan meliputi cara berpikir, sikap danlangkah-langkah kegiatan scientis untuk untuk memperoleh produk-produk IPA,misalnya observasi, pengukuran, merumuskan, menguji hipotesa,mengumpulkan data, bereksperimen dan prediksi. Pembelajaran IPA adalah pembelajaran yangmenyenangkan karena peserta didik dapat belajar melalui alam sekitar yangtentunya sudah tidak asing bagi mereka. Peserta didik diajak untuk bersentuhanlangsung dan mengenal objek belajar di sekitar peserta didik, gejala,permasalahan (penerapan proses sains), menelaahnya dan menemukan simpulan ataukonsep tentang sesuatu yang dipelajarinya. Lukum (2015:26) menyatakanbahwa pembelajaran IPA yang dikembangkan dalam Kurikulum 2013 adalah IPAsebagai mata pelajaran integrative science, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Pembelajaran IPA terpadupada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat membiasakanpeserta didik secara individual atau pun kelompok dengan aktif mengeksplorasi,mengelaborasi, mengkonfirmasi, dan mengkomunikasikan hasilnya.

MenurutMaslichah (2006, hlm. 23) tujuan pembelajaran IPA di SD ialah bersangkut-pautpada tiga aspek, yaitu aspek kognitif, afektif, dan aspek psikomotor. Secararinci tujuan pembelajaran IPA di SD, sebagai berikut:

1) Menumbuhkanperilaku positif dan rasa keingintahuan yang baik terhadap perkembangan IPTEKdan kebudayaan masyarakat;

2) Memberdayakankemampuan tiap-tiap peserta didik untuk mampu menyelidiki keadaan,menyelesaikan permasalahan, dan memutuskan kebijakan;

3) Menciptakan IPAsebagai bahan ajar kontekstual dan memiliki nilai kebermanfaatan.

Sejalandengan itu menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) menyatakan bahwa,pembelajaran IPA di SD bertujuan supaya peserta didik memenuhi kapabilitassebagai berikut:

1) Memperkuatkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa bertolak pada eksistensi, keindahan, dansistematisnya keadaan alam;

2) Memahami danmenerapkan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari;

3) Menyadariadanya hubungan timbal balik antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat;

4) Memberdayakankemampuan untuk melakukan penyelidikan terhadap alam sekitar, memecahkan permasalahan,dan memutuskan perkara;

5) Menumbuhkanrasa cinta terhadap alam sekitar dengan menjaga dan melestarikan alam sekitar;

6) Menumbuhkansemangat untuk menghargai alam dan segala isinya; dan

7) Menjadikanbekal yang baik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

ImplementasiKurikulum 2013 menurut Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Prosesmenggunakan 3 (tiga) model pembelajaran yang diharapkan dapat membentukperilaku saintifik, sosial, serta mengembangkan rasa keingintahuan. Ketigamodel tersebut adalah (1) model pembelajaran melalui penyingkapan/penemuan(Discovery Learning), (2) model pembelajaran berbasis masalah (Problem basedLearning/PBL), (3) model pembelajaran berbasis proyek (Project-basedLearning/PJBL). Selain 3 (tiga) model tersebut, guru juga diperbolehkan untukmengembangkan pembelajaran di kelas dengan menggunakan model pembelajaran yanglain, seperti Cooperative Learning yang mempunyai berbagai metode seperti : Jigsaw,Numbered Head Together ( NHT), Make a Match, Think-Pair- Share (TPS), Examplenot Example, Picture and Picture, dan lainnya.

1. Model Discovery/Inquiry Learning

ModelDiscovery/Inquiry Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan melaluiproses intutif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.

Sintakmodel Discovery Learning :

1) Pemberian Rangsang (Stimulation)

2) Pernyataan/Identifikasi Masalah (Problem Statement)

3) Pengumpulan Data (Data Collection)

4) Pengolahan Data (Data Procesing)

5) Pembuktian (Verification)

6) Menarik Kesimpulan (Generalization)

2. Model Problem Based Learning (PBL)

PBLmerupakan pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir daripeserta didik secara individu maupun kelompok serta lingkungan nyata untukmengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan, dan kontekstual.

Ball& Pelco, (2006) (dalam Pratama, 2017) menyatakan tujuan utama pembelajaranPBL adalah untuk meningkatkan pembelajaran mandiri pada siswa serta motivasiyang lebih tinggi, retensi materi yang lebih baik, dan pengembangan penalaranpenting dan keterampilan pemecahan masalah, berkembang lebih baik pemecahansiswa dalam proses kelompok dan keterampilan yang diperlukan untuk kerja samayang sukses.

Sintakmodel PBL menurut Arends (2012), sebagai berikut :

(1) Orientasi peserta didik pada masalah.

(2) Mengorganisasi peserta didik untuk belajar.

(3) Membimbing penyelidikan individu maupun kelompo.

(4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan

(5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

3. Model Project Based Learning

Modelpembelajaran yang melibatkan keaktivan peserta didik dalam memecahkan masalah,dilakukan secara berkelompok/mandiri melalui tahapan ilmiah dengan batasanwaktu tertentu yang dituangkan dalam sebuah produk untuk selanjutnyadipresentasikan kepada orang lain.

SintakProject Based Learning :

(1) Pertanyaan mendasar.

(2) Mendesain perencanaa produk.

(3) Menyusun jadwal pembuatan.

(4) Memonitor keaktivan dan perkembangan proyek

(5) Menguji hasil.

(6) Evaluasi pengalaman belajar.

Daftar Pustaka

Rozi, Fahrur &Bahadur Hanun, Citra. 2019. Pembelajaran IPA SD Berbasis HOTS ( Higher OrderThinking Skills) Menjawab Tuntutan Pembelajaran Di Abad 21. ISBN: 978-602-53076-1-4

Wahyuninsih, Yuli& Ngazizah, Nur. Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Dan Karakter SiswaPada Materi Perpindahan Panas Dengan Pembelajaran Kooperatif Kelas V SD.Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Della Puspita Ayu,Yayang. Agustin, Nani & Ngazizah, Nur. Ensiklopedia Berbasis ProblemBased learning Untuk Meningkatkan High Order Thingking Skill PadaPembelajaran IPA Sekolah Dasar. Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Ariyana, Yoki.Pudjiastuti, Ari. Bestary, Reisky & Zamroni. 2019. Buku PeganganPembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Jakarta: DirektoratJenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Penulis :

Daryati, Mahasiswi Program Studi PGSD, Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

HOTS dalam Pembelajaran IPA SD

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Indonesia Bisa Mengambil Hikmah di Balik Kasus Covid-19 di India

Image

Generasi Milenial Pilar Utama Gerakan Filantropi

Image

Ngabuburit Ramadhan: Lifestyle Mahasiswa di Mesir

Image

Destinasi Wisata Alun-alun Kejaksan, Tempat Ngabuburit Favorit di Kota Cirebon

Image

Penyekatan di Tol Pasteur Menjelang Lebaran

Image

Tempe Mendoan, Menu Takjil Kesukaan Masyarakat

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@rol.republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image