Al-Barra’ bin Malik al-Anshari; The Legend of Yamamah Warrior

Image
Randika Firmansyah
Sejarah | Thursday, 29 Apr 2021, 12:35 WIB

Seorangpemuda yang berambut kusut, acak-acakan, badan berdebu, berperawakan kurus, tulang tubuhnya berbalur dengan daging tipis.

Mata orang yang memandangnya (beranggapan) seakan ia orang yang kepayahan. Namun demikian, pemuda ini berjuang mematahkan serangan 100 orang musyrik sendirian di medan duel satu lawan satu.Al-Barra adalah pemuda yang pemberani, bernyali besar dan bertekad baja.

Bahkan ia disebut-sebut Sang perindu kematian, slogannya Allah dan Surga. Oleh karena itu al-Faruq (Umar bin Khaththab) enggan untuk mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan, karena khawatir dengan keberaniannya untuk mati yang luar biasa itu.

Umar menulis kepada para gubernurnya di seluruh wilayah kekuasannya, Jangan menyerahkan pasukan kaum Muslimin kepadanya, aku khawatir dia akan mencelakakan mereka karena keberaniannya. Perlu kita ketahui, Al-Barra bin Malik al-Anshari adalah saudaranya Anas bin Malik, pelayan Rasulullah .Ada sebuah kisah yang menjadi lembaran-lembaran cahaya yang menyinari sepanjang masa.

Kisah ini berawal setelah wafatnya Rasulullah. Kabilah-kabilah Arab mulai keluar berbondong-bondong meninggalkan agama Allah, berbagai fitnah datang dari segala penjuru. Maka bangkitlah Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, menghadang berbagai cobaan dan fitnah, berdiri tegak layaknya gunung yang kokoh.

Abu Bakar menyerahkan panji-panji kepada para panglima perang Muslimin untuk menghancurkan fitnah tersebut dan mengembalikan orang-orang murtad ke jalan Allah.Orang-orang murtad yang paling besar kekuatannya dan paling banyak anggotanya adalah Bani Hanifah, para pengikut Musailamah al-Kadzdzab.

Pada perang Yamamah, Musailamah didukung sekitar 40.000 orang kabilahnya dan para sekutunya. Sedangkan kaum muslimin hanya sekitaran 13.000 orang. Abu Bakar mengirim pasukan kedua dengan dipimpin oleh Khalid bin al-Walid, setelah pasukan pertama yang dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal dipukul mundur oleh pasukan Musailamah. Pasukan kedua ini beranggotakan para sahabat besar, di barisan depan terdapat al-Barra dan beberapa pahlawan muslimin.

Dua pasukan bertemu di bumi Yamamah di Najd, perang berlangsung lama dan sengit. Saat itu pasukan Musailamah sangat kuat, sehingga kaum muslimin merasakan sebuah bahaya yang besar, jika kaum muslimin kalah niscaya Islam tidak akan berdiri tegak setelah hari itu.

Ketika peperangan semakin sengit dan mencapai puncaknya, mulailah al-Barra memberikan peran terbaiknya untuk kemenangan Umat Islam. Saat itu ia berkata kepada kaumnya, Wahai orang-orang Anshar, jangan ada salah seorang pun dari kalian yang berpikir untuk pulang ke Madinah, tidak ada Madinah bagi kalian setelah hari ini. Yang ada hanyalah Allah semata, kemudian Surga."

Lihatlah betapa rindunya ia akan kematian dan syahid. Saat itu juga al-Bara bagaikan singa yang mengamuk, menebaskan pedangnya di leher musuh-musuh Allah sehingga bumi yang dipijak oleh Musailamah dan pasukannya bergoncang, maka mereka mundur di dalam benteng yang kemudian dikenal setelah itu dalam sejarah dengan kebun kematian, karena banyaknya korban yang terbunuh di dalamnya pada hari itu.

Bentengnya sangat luas, dindingnya tinggi, Musailamah dengan ribuan pendukungnya masuk dan menguncinya dari dalam benteng. Mereka menghujani kaum Muslimin dengan anak panah dari dalam benteng. Al-Bara bin Malik berkata, Wahai kaum Muslimin, letakkan aku di sebuah tameng, lalu angkatlah tameng itu di ujung tombak, kemudian lembarkan aku ke dalam benteng dekat pintu gerbangnya, kalau aku tidak gugur, maka akan aku buka gerbang itu untuk kalian.

Setelah itu ia dilemparkan ke dalam benteng kematian di antara ribuan pasukan Musailamah, maka al-Bara turun di antara mereka layaknya singa yang mengamuk, menebas setiap orang yang ada di depannya, ia melawan mereka sendirian di dekat gerbang benteng, sehingga ia pun berhasil membuka gerbang benteng tersebut.

Maka kaum muslimin berhamburan masuk ke dalamnya dan berhasil membunuh kaum musyrikin sekitar 20.000 orang, dan sampailah mereka kepada Musailamah, lalu menewaskannya. Akhirnya Allah memberikan kemenangan bagi kaum muslimin melalui kedua tangannya al-Bara. Dikatakan bahwa saat itu al-Bara menerima 80 lebih luka di tubuhnya, berupa tusukan panah dan tebasan pedang. Untuk menambah wawasan tentang al-Bara bin Malik silakan merujuk ke:

1.Shuwar Min Hayat ash-Shabah. Karya Abdurrahman Ra'fat al-Basya

2.Ashhaburrasul . Karya Syaikh Mahmud al-Mishri

3. As-Sirah an-Nabawiyah. Karya Ibnu Hisyam.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadilah manusia merdeka

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Langkah Mempercepat Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Image

Covid-19: Antara Pemilu, Nikah, Mudik 2021

Image

[Breaking News] Ustadz Tengku Zulkarnain Wafat

Image

Salman Aristo: Apa yang Kau Cari, Produser?

Image

Antusiasme Warga Sumedang Sambut Lebaran 2021 di Tengah Pandemi Covid-19

Image

Ramadhan Tinggal Menghitung Hari, Mari Raih Kemenangan Hakiki

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@rol.republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image