Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rival Laosa

Ihwal Bangsa untuk Generasi Politik dengan Ideologi Pancasila

Politik | Wednesday, 21 Apr 2021, 10:45 WIB
Generasi politik muda adalah pelaksana demokrasi politik dimasa yang akan datang

Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan ideologi Pancasila dan aturan hukum undang-undang dasar 1945 dan terikat oleh Bhineka Tunggal Ika, ini adalah gambaran konsep negara Indonesia yang penuh permasalahan bangsa dari kemasyarakatan sampai ke pemimpinan serta keadilan yang makmur dalam kedamaian.

Sejak masuk ke abad 21 dan sampai ke era reformasi kita banyak sekali menjumpai permasalahan atau persoalan tentang kebangsaan yang berpengaruh ke masa depan bangsa, tidak perlu melihat jauh ke dekade sebelumnya yang lampau tapi cukup kita melihat permasalahan sekarang dalam konteks negara demokrasi politik yang dimana etika politik, praktek politik, dinamika politik dan kekuasaan yang memegang penuh kemudi kapal negara kita tidak adanya kestabilan yang tetap. Nilai-nilai Pancasila sudah mulai terlupakan maknanya yang dimana dari nilai ketuhanan sampai ke keadilan sudah susah ditemukan realitanya. Jauh sebelum masuk ke permasalahan generasi kita harus melihat dulu permasalahan pemerintah yang dimana mereka pemegang kendali arah bangsa ini dari kesadaran soal ideologi Pancasila dan keputusan-keputusan pemerintah yang penuh kontroversi serta HAM, etika politik, gender, sistem hukum dan pragmatisme demokrasi yang terlihat dimasa sekarang.

Nilai-nilai pancasila dari sila pertama yaitu Ketuhanan yang maha esa, sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab, sila ketiga yaitu persatuan Indonesia dan sila ke empat yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan serta sila kelima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dengan penyebutan nilai-nilai Pancasila tadi kita bisa melihat permasalahan yang bersangkutan dengan nilai-nilai Pancasila. Permasalahan yang bisa kita ambil dari penyimpangan masalah dengan bawa agama serta sistem sila pertama yaitu ketuhanan maha esa yang dimana politik agama masih sering dilakukan dengan merusak sistem ketuhanan tersebut.

Contoh kasus kurangnya pemahaman soal ketuhanan bisa dilihat dari permasalahan yang belum lama terjadi yaitu pemboman gereja dimakasar dan juga penyerangan di mabes yang membawa nama serta unsur agama, disini kita tidak bisa menyalahkan agama karena sudah jelas disini individual yang melakukan aksi tersebut dialah yang bermasalah serta menyimpang dari ajaran agamanya karena tidak ada satu agamapun yang menghalalkan tindak pidana terorisme, tapi disini bukan hanya permasalahan yang terjadi tapi penilaian penilaian ini dimana masih ada saja yang membawa agama ke dalam kontroversi untuk keuntungan pribadi, Jelas ini merusak nilai Pancasila yang pertama jadi perlu adanya kesadaran kita bernegara untuk memperbaiki masalah ini.

Kemudian sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, di sila ini banyak hal yang bisa kita ambil untuk permasalahan salah satu contohnya dimana manusia yang sebenarnya saling berhubungan untuk membantu tapi saat ini sudah terlihat dimana kaum kaum kapitalis sudah melakukan ekspansi ke masyarakat bawah, salah satunya pembangunan pembangunan yang dilakukan dengan melakukan penggusuran pemukiman masyarakat bawah dan juga terindikasi dugaan pelanggaran HAM dan ini bukan lagi rahasia umum dinegara kita maka dari itu permasalahan ini jadi PR kita sebagai generasi muda apalagi dalam konsep berdemokrasi di masa depan.

Selanjutnya permasalahan tentang sila ke tiga yaitu persatuan Indonesia, persatuan Indonesia sangatlah kuat di Indonesia tapi sekuat kuatnya hal ini pasti masih ada juga permasalahannya dari persatuan ini dimana toleransi berbangsa masih ditemukan kontroversi. Permasalah yang bersangkutan dengan sila ini adalah perbedaan perbedaan yang masih terasa, dari deskriminasi ras, budaya serta pro kontra kesetaraan gender dan masih banyak lagi terutama di dinding timur nusantara. Permasalahan ini menjadi tugas kita sebagai penerus generasi bangsa untuk menyelesaikan semua perbedaan perbedaan dan ketidak pemerataan gender dan ras di bangsa ini.

Permasalahan ini belum selesai sampai di sila ke tiga tapi masih ada di sila ke empat dan sila ke lima, di sila ke empat yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan kita mendapatkan beberapa permasalahan dari kepemimpinan dan permusyawaratan dinegara ini, contoh permasalahan di sila ini adalah dimana keputusan keputusan yang dibuat tidak dilansungkan secara kebersamaan dengan rakyat. Melihat kejadian kejadian sebelumnya yaitu masalah Omnibus law cipta kerja yang dimana omnibuslaw cipta kerja saat disahkan oleh DPR sangat tidak tepat waktu, bukan hanya waktu pengesahannya tapi uji materinya pun masih simpang siur pada saat itu, ya sudah jelas nilai dari sila ke empat ini sudah tidak dipahami oleh wakil-wakil rakyat.

Berhubungan dengan permasalahan yang bisa kita temukan disila ke satu sampai ke empat ini sangat berhubungan dengan sila ke lima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kita berbicara tentang keadilan di negeri ini jika kita menelaah sila ke lima yang dimana terlihat jelas dinegara ini bahwa keadilan masih jadi PR besar untuk Pemerintah serta masyarakat Indonesia sendiri. Dari keadilan di Hak Asasi manusia dan keadilan dimasyarakat kita sendiri, Ini bukan lagi permasalahan biasa yang ada dinegara Indonesia ini.

Tak lepas dari sistem perpolitikan kita juga menjadi permasalahan dikeadilan negara ini, demokrasi saat ini yang terlihat melupakan etika politik itu sendiri dan juga tidak jadi rahasia lagi soal pragmatisme yang terjadi dinegara ini. Pesta demokrasi sudah kita lalui dan disitu banyak sekali terdapat permasalahan yang mengarah ke pragmatisme, demokrasi, didalam demokrasi kita ada yang Namanya pemilu atau pemilihan umum, contoh permasalahan ini yaitu money politic atau politik uang saat terjadinya persta demokrasi kita pada pemilu dan ini bukan lagi rahasia umum untuk negara kita. Belum lepas dari keadilan kita sudah melihat banyak sekali permasalahan yang masih menghalangi situasi Indonesia soal damai sejahtera dan Makmur, terutama etika etika para politikus sekarang yang dimana mereka melupakan hal penting dalam memaknai Pancasila.

Kembali ke permasalahan generasi politik muda yang dimana kita sebagai kaum muda masih perlu banyak belajar dan mencari penyelesaian ini semua untuk masa depan. Dalam konteks generasi berarti ini berpengaruh sejak dini untuk itu sangat disayangkan jika kita generasi penerus bangsa ataupun kita sebagai rakyat Indonesia melupakan arti dan makna nilai-nilai Pancasila dalam bernegara ini. Pancasila yang sebagai ideologi negara ini harus ditelaah maknanya dari sekarang agar kita tidak tebuai oleh kefanaan dunia dimasa yang mendatang.

Kritis diperlukan tapi saran dan solusi juga harus didatangkan dalam kritis ini. Pentingnya intelektual dan pengalaman kita itu sangat berpengaruh ke masa depan yang akan datang maka dari itu kita dengan ideologi Pancasila harus bisa memahami Kembali makna makna Pancasila agar kita tidak keluar dari nilai-nilai Pancasila dari sila pertama yaitu ketuhanan sampai dengan sila keadilan dalam kehidupan bernegara demokrasi dan berkepemimpinan politik.

Rival Laosa

Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UMJ

Kader IMM FISIP UMJ

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image