Azan Pitu Sunan Gunung Jati Lenyapkan Virus dan Wabah di Cirebon

Image
Karta Raharja Ucu
Sejarah | Saturday, 17 Apr 2021, 15:01 WIB
Masjid Agoeng Sang Ciptarasa Tjirebon 1930.

Nyi Mas Pakungwati Ratna Kemuning, salah satu istri Sunan Gunung Jati meninggal dunia karena terkena suatu penyakit misterius di Cirebon pada abad ke-15. Tak hanya merenggut nyawa Nyi Mas Pakungwati wabah itu juga menyerang sejumlah warga Cirebon di sekitar keraton.

Beberapa upaya dilakukan untuk menghilangkan wabah tersebut, tetapi hasilnya selalu berujung kegagalan. Akibatnya banyak rakyat Cirebon yang meninggal dan jatuh sakit.

Setelah berdoa kepada Allah, Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati mendapatkan petunjuk bahwa wabah di tanah Caruban atau Cirebon tersebut akan hilang dengan cara mengumandangkan azan yang dilantunkan tujuh orang sekaligus. Sunan Gunung Jati akhirnya berikhtiar dengan bertitah kepada tujuh orang agar mengumandangkan azan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebagai upaya menghilangkan wabah tersebut.

Dalam salah satu babad Cirebon, wabah penyakit di Cirebon datang karena kiriman dari seorang pendekar ilmu hitam, Menjangan Wulung yang sering berdiam diri di momolo (kubah) masjid. Ketidaksukaannya terhadap syiar Islam di Cirebon membuatnya menyebarkan wabah dan setiap muazin yang melantunkan azan mendapatkan serangan hingga meninggal.

Dalam salah satu versi, babad Cirebon tulisan Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, saat Sunan Gunung Jati memberikan titah tujuh orang sekaligus melantunkan azan ketika waktu Subuh, suara ledakan dahsyat terdengar dari bagian kubah Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dibangun pada 1480 Masehi. Ledakan itu membuat Menjangan Wulung yang berdiam diri di kubah masjid terluka. Bahkan tubuhnya hingga terpental dan darahnya berceceran di area masjid. Namun, salah satu pengumandang azan pitu dikabarkan juga meninggal dunia karena ledakan tersebut.

Masjid Agung Banten di kesultanan banten abad ke-19 - (tangkapan layar wikipedia.org)

Sementara kubah Masjid Agung Sang Cipta Rasa terpental hingga ke Banten dan menumpuk di kubah Masjid Agung Serang Banten. Karena itu, hingga kini Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak memiliki kubah, sementara Masjid Agung Serang Banten memiliki dua kubah.

Kisah tewasnya Menjangan Wulung menjadi legenda di masyarakat Cirebon. Darah Menjangan yang berceceran karena ledakan disebut menetes di tanaman labu hitam, atau warga Cirebon biasa menyebutnya wolu ireng yang dinilai beracun dan tak layak dimakan. Karena itu, memakan walu ireng adalah pantangan bagi anak, cucu, dan keturunan orang Cirebon.

Seperti halnya sejarah tuturan yang diceritakan dari orang tua ke anaknya. Azan pitu juga memiliki versi berbeda. Dalam versi babad lain, asal muasal azan tujuh adalah karena atap Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang saat itu masih beratap rumbia terbakar. Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, tetapi selalu gagal.

Nyi Mas Pakungwati Ratna Kuning, putri Tumenggung Cirebon Pangeran Cakrabuana (Pangeran Walangsungsang), istri Sunan Gunung Jati yang dinikahi pada 1478 Masehi, memberikan saran kepada suami agar mengumandangkan azan. Namun saat azan dilantunkan oleh satu hingga enam orang, api tak kunjung padam. Baru setelah tujuh orang melantunkan azan bersamaan, si jago merah mulai jinak dan mati.

Kini azan pitu terus dilestarikan oleh Pemerintah Kota Cirebon dan Keraton Kasepuhan. Tradisi azan pitu dilakukan setiap Shalat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Dibangun dalam Satu Malam

Namun, dalam versi lain azan pitu adalah representasi dari beragamnya mahzab di Cirebon. Kemajemukan mahzab dan budaya serta agama di Cirebon saat itu tergambarkan dalam bentuk bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Masjid berwarna merah itu memiliki dua pintu masuk. Salah satu gerbangnya memiliki dua daun pintu, di mana masing-masing daun pintu terdapat hiasan motif teratai. Simbol itu menandakan akulturasi budaya Hindu-Budha yang saat itu masih berkembang di tanah Caruban.

Di atas gerbangnya terdapat tulisan arab. Di ruang utama yang diberi nama "Narpati" terhampar ruang shalat dengan atap masjid yang disangga kayu-kayu jati berusia ratusan tahun.

Masjid Sang Cipta Rasa atau yang dikenal juga Masjid Agung Kasepuhan di Cirebon, Jawa Barat. - (Republika/WIhdan Hidayat)

Masjid yang konon dibangun hanya dalam satu malam itu berbeda dengan masjid-masjid di Indonesia yang lazimnya menggunakan bahasa Arab. Nama masjid diambil dari kata sang yang bermakna keagungan, cipta yang berarti dibangun, dan rasa yang artinya digunakan.

Masjid itu dibangun pada 1480 Masehi ini atau bersamaan dengan masa penyebaran Islam di Pulau Jawa oleh Wali Songo. Sunan Gunung Jadi dirawikan mempekerjakan arsitek kenamaan dari Majapahit, Raden Sepat untuk membangun masjid tersebut.

Saat itu Raden Sepat menjadi tawanan perang Demak-Majapahit. Sekitar 500 orang pekerja dari Majapahit, Demak, dan Cirebon diceritakan ikut terlibat dalam pembangunan masjid.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Singa JP Coen di Lapangan Banteng

Naik Oplet di Jakarta, Bagaimana Sih Rasanya?

Artikel Lainnya

Image

Bahagia, 50 Anak Yatim Terima Santunan di Akhir Ramadhan

Image

Misi Kemanusiaan Dirikan Rumah Baca Anak di Karawang

Image

Pagi Ini Sahur Terakhir Ramadhan 1442 H, Yuk Banyakin Berdoa & Istighfar

Image

Indonesia Bisa Mengambil Hikmah di Balik Kasus Covid-19 di India

Image

Generasi Milenial Pilar Utama Gerakan Filantropi

Image

Ngabuburit Ramadhan: Lifestyle Mahasiswa di Mesir

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@rol.republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image